Selasa, 3 November 2009
Moskwa, Senin - Runtuhnya komunisme seiring dengan dirobohkannya Tembok Berlin, 9 November 1989, tidak secara otomatis menghapuskan semua hal yang terkait dengan komunisme.
Humor-humor yang hidup semasa komunisme masih berjaya di Jerman Timur dan Uni Soviet ketika itu terus bertahan hingga saat ini. Bahkan, kerinduan akan humor-humor yang dulu dianggap subversif itu kini malahan mencuat kembali. Humor-humor itulah yang dulu menjadi pemersatu sekaligus penyemangat warga untuk tetap memperjuangkan runtuhnya komunisme di negeri mereka.
Humor-humor eks era komunisme itu kini menjadi pemersatu warga mulai dari Berlin hingga Moskwa. Mereka pun kini bisa menikmatinya sambil tertawa bebas.
Misalnya, ”Mengapa Uni Soviet memutuskan tidak mengirim manusia ke Bulan? Mereka takut orang-orang itu akan meminta suaka politik”.
Anekdot lain yang tak kalah lucu berhubungan dengan pemimpin terakhir Jerman Timur, Erich Honecker, yang memerintahkan seorang menterinya untuk merobohkan Tembok Berlin. Menteri yang digambarkan bodoh itu bertanya, mengapa? ”Saya tidak ingin sendirian,” jawab Honecker.
Humor-humor politik yang di Rusia disebut anekdoti itu tidak hanya berhubungan dengan para pemimpin politik saat itu, tetapi juga partai komunis yang sangat ditabukan pada masanya.
Salah satu anekdot, misalnya teka-teki ini. ”Apa yang memiliki 70 gigi dan empat kaki? Seekor buaya. Apa yang memiliki empat gigi dan 70 kaki? Komite Sentral Partai Komunis.”
Di Jerman Timur atau dulu disebut Republik Demokratik Jerman, anekdot-anekdot seperti itu disebut ”Witze”, yang kemudian lebih populer lagi dengan sebutan ”3-7 Witze”. Sebutan itu diambil dari hukuman penjara tiga tahun untuk mereka yang tertangkap mendengarkan humor subversif itu dan hukuman tujuh tahun untuk mereka yang menyebarkan humor tersebut.
Tidak hilang
Meski demikian, humor-humor sinis seperti itu tidak pernah hilang dari masyarakat. Bahkan, hukuman atas penyebarluasan anekdot politik ini juga dijadikan anekdot oleh sejumlah orang.
”Tahun ini mereka menyelenggarakan lagi Festival Humor-humor Politik. Hadiah pertama, 10 tahun liburan musim dingin di Siberia”.
Anekdot itu menyasar hukuman penjara di Siberia yang dikenal karena suhu dinginnya yang menyengat.
Dogma komunisme pun tidak luput jadi bahan banyolan. ”Kapitalisme adalah eksploitasi manusia oleh manusia. Komunisme adalah persis sebaliknya”.
Anekdot-anekdot lain juga merekam iklim ketakutan yang dialami rakyat di negara-negara blok komunis.
Salah satunya digambarkan dalam anekdot mengenai percakapan antara tiga teman di sebuah kamp pekerja Soviet.
”Saya terlambat bekerja lima menit dan didakwa dengan sabotase,” kata orang pertama.
”Saya lima menit lebih awal dan dihukum dengan dakwaan spionase,” kata orang kedua.
”Saya datang tepat waktu dan saya dituduh menyelundupkan jam tangan buatan Barat,” kata orang ketiga.
Bahkan, perang Soviet di Afganistan pada 1980-an pun tak luput jadi bahan ketawaan ketika orang-orang mempertanyakan, apa yang diperoleh Moskwa dari mengirimkan pasukan ke sana.
”Pasti ada sebuah strategi untuk menyebarluaskan surga komunis ke dunia. Uni Soviet memprosesnya secara abjad”.
Anekdot sinis berbau politik, nyatalah tak kenal takut dan hidup pada berbagai peristiwa.
Pada peringatan 65 tahun Revolusi Bolshevik (1917), yang diperingati meriah di Uni Soviet, banyak pembangkang membuat humor bahwa Uni Soviet akhirnya mencapai usia pensiun.
”Mana yang lebih baik, sebuah neraka komunis atau sebuah neraka kapitalis? Tentu saja jawabannya neraka komunis! Selalu terjadi kelangkaan korek api dan bahan bakar, pemanas selalu rusak, dan para iblis serta makhluk-makhluknya selalu sibuk dengan pertemuan-pertemuan partai,” demikian sebuah anekdot pada masa itu. (AFP/OKI)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/03/04010641/anekdot..era.komunis..tetap.hidup
Sidang di Rumah Mangunwijaya
Kamis, 29 Oktober 2009
Semilir angin membuat sejuk ruang pertemuan di rumah budayawan YB Mangunwijaya Pr atau Romo Mangun, Minggu (25/10). Namun, sidang bagi para penulis muda di dalamnya berlangsung panas. Seorang remaja putri sedang menjadi terdakwa tercenung, tak mampu membela diri.
Adegan tersebut terjadi dalam Pelatihan Penulisan Kreatif yang diselenggarakan Persahabatan Wartawan Cilik Yogyakarta (PWCY) dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda 2008 dan dalam rangka memaknai 80 tahun YB Mangunwijaya. Sidang yang diikuti 20 peserta berusia 10-20 tahun itu merupakan salah satu sesi pelatihan di mana beberapa naskah para peserta diulas dan dikiritik.
Dihiasi poster besar Romo Mangun yang tergantung di dinding ruangan, Zheitta Vazza Devi (18), demikian nama lengkap remaja putri itu, menerima dakwaan dan penghakiman sekaligus. Wajahnya tertunduk lesu, sembari membolak-balik naskah tulisan terbarunya yang tengah dihujani kritik para hakim merangkap jaksa. Suara cadelnya yang sesaat lalu masih terdengar nyaring menimpali, kini terdiam.
Sepintas lalu, sidang itu terlihat bukan sidang yang adil. Di hadapan 20 rekannya, Vazza, demikian remaja tunarungu itu disapa, berhadapan dengan empat orang yang telah belasan tahun bergelut di bidang sastra. Namun, dengan menilik fakta bahwa tiga novel telah dia hasilkan, wajar Vazza duduk di kursi terdakwa.
Selama sekitar 30 menit, naskah tulisan terbaru Vazza berjudul Loverpool di Love Vegas menuai kritik pedas dari para hakim. Naskah novel setebal 17 halaman itu bercerita tentang kisah nyata yang Vazza alami sebagai remaja tunarungu. Sakit hati karena ejekan atau rasa terkucil karena berbeda terangkum di dalamnya.
Kritik-kritik yang terlontar terutama berkutat pada judul yang dia pilih. "Judul ini seperti hanya mengisahkan kisah percintaan remaja, padahal isi cerita tentang penemuan jati diri. Kesannya seksi, tetapi tidak sesuai dengan naskah. Jujur saya merasa tertipu," kata John de Santo dari ASMI Santa Maria Yogyakarta, yang siang itu turut menjadi salah seorang hakim.
Sama pedasnya, Editor Galang Press AA Kunto mengatakan, judul tersebut terkesan datar dan sama sekali tidak menyampaikan pesan. Padahal, meskipun pendek, judul buku seharusnya memberi gambaran akan pesan yang ingin disampaikan.
Kunto juga mengkritisi ego Vazza yang tecermin sangat kuat dalam tulisan. Karena ego itu, tulisan terkesan berceramah dan menggurui. Sidang Vazza siang itu ditutup nasihat dan saran Kunto yang cukup mendinginkan hati yang mulai panas. "Sebagai seorang penulis, kita harus terlebih dulu menyingkirkan ego kita," salah satu nasihatnya.
Tidak seperti sidang di pengadilan, sidang ini diakhiri keakraban dari senior dan yunior-yuniornya. Tidak ada sakit hati. Sesi selanjutnya pun menjadi ajang tukar ide untuk mengembangkan gagasan tulisan para peserta. Selain Vazza, 19 peserta dalam pelatihan itu rata-rata telah menghasilkan tulisan yang telah dimuat di berbagai media massa.
"Saya malah senang karena tahu di mana letak kekurangan saya," ujar Vazza di akhir sidang.
Pil pahit
Tak salah bila sidang itu diibaratkan dengan jamu atau pil pahit. "Pahit tetapi perlu demi kebaikan peserta. Sidang seperti ini akan terus berkesan pada orang yang karyanya dikritik," tuturnya.
Menurut Sutrisno, acara dimaksudkan untuk membina para penulis muda di Yogyakarta yang mempunyai potensi besar, tetapi kurang diketahui masyarakat. Besarnya potensi ini terlihat dari banyaknya hasil tulisan yang dihasilkan. Menurut pantauan PWCY, dalam sebulan anak-anak Yogyakarta mampu menghasilkan sekitar 30-50 tulisan yang diterbitkan di berbagai media massa.
Hal itu pula yang menjadi alasan peringatan Sumpah Pemuda PWCY yang berlangsung 24-26 Oktober itu mengambil tempat di rumah Mangunwijaya. Para penulis muda ini perlu mengenal nilai-nilai tokoh yang meninggal dunia tahun 1991 sebagai sumber inspirasi.
Di rumah setengah kayu berarsitektur tropis dengan bahan material bekas yang terletak di Gang Kuwera, Jalan Gejayan, Sleman, itu para penulis muda akan bersentuhan dengan kesederhanaan Mangunwijaya.
Para penulis muda itu juga akan memperoleh sedikit gambaran, dalam proses kreatifnya, Mangunwijaya tetap bergelut dengan masyarakat di perkampungan. Di rumah itu juga terlihat banyak koleksi Mangunwijaya yang bisa dibaca. "Saya berharap, dari perkenalan pertama ini, mereka akan lebih tertarik lagi dengan Romo Mangun," ujarnya.
Sutrisno mengatakan, sebagian besar penulis muda saat ini mengangkat tema-tema gaya hidup, keluarga, maupun percintaan. Tema-tema ini minim persinggungannya dengan masalah sosial atau tema-tema yang lebih dalam. Perkenalan dengan Mangunwijaya diharapkan membentuk kepekaan sosial dan kemanusiaan yang belakangan makin langkah tumbuh di kalangan remaja. (IRE)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/11251614/sidang.di.rumah.mangunwijaya
Semilir angin membuat sejuk ruang pertemuan di rumah budayawan YB Mangunwijaya Pr atau Romo Mangun, Minggu (25/10). Namun, sidang bagi para penulis muda di dalamnya berlangsung panas. Seorang remaja putri sedang menjadi terdakwa tercenung, tak mampu membela diri.
Adegan tersebut terjadi dalam Pelatihan Penulisan Kreatif yang diselenggarakan Persahabatan Wartawan Cilik Yogyakarta (PWCY) dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda 2008 dan dalam rangka memaknai 80 tahun YB Mangunwijaya. Sidang yang diikuti 20 peserta berusia 10-20 tahun itu merupakan salah satu sesi pelatihan di mana beberapa naskah para peserta diulas dan dikiritik.
Dihiasi poster besar Romo Mangun yang tergantung di dinding ruangan, Zheitta Vazza Devi (18), demikian nama lengkap remaja putri itu, menerima dakwaan dan penghakiman sekaligus. Wajahnya tertunduk lesu, sembari membolak-balik naskah tulisan terbarunya yang tengah dihujani kritik para hakim merangkap jaksa. Suara cadelnya yang sesaat lalu masih terdengar nyaring menimpali, kini terdiam.
Sepintas lalu, sidang itu terlihat bukan sidang yang adil. Di hadapan 20 rekannya, Vazza, demikian remaja tunarungu itu disapa, berhadapan dengan empat orang yang telah belasan tahun bergelut di bidang sastra. Namun, dengan menilik fakta bahwa tiga novel telah dia hasilkan, wajar Vazza duduk di kursi terdakwa.
Selama sekitar 30 menit, naskah tulisan terbaru Vazza berjudul Loverpool di Love Vegas menuai kritik pedas dari para hakim. Naskah novel setebal 17 halaman itu bercerita tentang kisah nyata yang Vazza alami sebagai remaja tunarungu. Sakit hati karena ejekan atau rasa terkucil karena berbeda terangkum di dalamnya.
Kritik-kritik yang terlontar terutama berkutat pada judul yang dia pilih. "Judul ini seperti hanya mengisahkan kisah percintaan remaja, padahal isi cerita tentang penemuan jati diri. Kesannya seksi, tetapi tidak sesuai dengan naskah. Jujur saya merasa tertipu," kata John de Santo dari ASMI Santa Maria Yogyakarta, yang siang itu turut menjadi salah seorang hakim.
Sama pedasnya, Editor Galang Press AA Kunto mengatakan, judul tersebut terkesan datar dan sama sekali tidak menyampaikan pesan. Padahal, meskipun pendek, judul buku seharusnya memberi gambaran akan pesan yang ingin disampaikan.
Kunto juga mengkritisi ego Vazza yang tecermin sangat kuat dalam tulisan. Karena ego itu, tulisan terkesan berceramah dan menggurui. Sidang Vazza siang itu ditutup nasihat dan saran Kunto yang cukup mendinginkan hati yang mulai panas. "Sebagai seorang penulis, kita harus terlebih dulu menyingkirkan ego kita," salah satu nasihatnya.
Tidak seperti sidang di pengadilan, sidang ini diakhiri keakraban dari senior dan yunior-yuniornya. Tidak ada sakit hati. Sesi selanjutnya pun menjadi ajang tukar ide untuk mengembangkan gagasan tulisan para peserta. Selain Vazza, 19 peserta dalam pelatihan itu rata-rata telah menghasilkan tulisan yang telah dimuat di berbagai media massa.
"Saya malah senang karena tahu di mana letak kekurangan saya," ujar Vazza di akhir sidang.
Pil pahit
Tak salah bila sidang itu diibaratkan dengan jamu atau pil pahit. "Pahit tetapi perlu demi kebaikan peserta. Sidang seperti ini akan terus berkesan pada orang yang karyanya dikritik," tuturnya.
Menurut Sutrisno, acara dimaksudkan untuk membina para penulis muda di Yogyakarta yang mempunyai potensi besar, tetapi kurang diketahui masyarakat. Besarnya potensi ini terlihat dari banyaknya hasil tulisan yang dihasilkan. Menurut pantauan PWCY, dalam sebulan anak-anak Yogyakarta mampu menghasilkan sekitar 30-50 tulisan yang diterbitkan di berbagai media massa.
Hal itu pula yang menjadi alasan peringatan Sumpah Pemuda PWCY yang berlangsung 24-26 Oktober itu mengambil tempat di rumah Mangunwijaya. Para penulis muda ini perlu mengenal nilai-nilai tokoh yang meninggal dunia tahun 1991 sebagai sumber inspirasi.
Di rumah setengah kayu berarsitektur tropis dengan bahan material bekas yang terletak di Gang Kuwera, Jalan Gejayan, Sleman, itu para penulis muda akan bersentuhan dengan kesederhanaan Mangunwijaya.
Para penulis muda itu juga akan memperoleh sedikit gambaran, dalam proses kreatifnya, Mangunwijaya tetap bergelut dengan masyarakat di perkampungan. Di rumah itu juga terlihat banyak koleksi Mangunwijaya yang bisa dibaca. "Saya berharap, dari perkenalan pertama ini, mereka akan lebih tertarik lagi dengan Romo Mangun," ujarnya.
Sutrisno mengatakan, sebagian besar penulis muda saat ini mengangkat tema-tema gaya hidup, keluarga, maupun percintaan. Tema-tema ini minim persinggungannya dengan masalah sosial atau tema-tema yang lebih dalam. Perkenalan dengan Mangunwijaya diharapkan membentuk kepekaan sosial dan kemanusiaan yang belakangan makin langkah tumbuh di kalangan remaja. (IRE)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/11251614/sidang.di.rumah.mangunwijaya
Kreativitas Mesti Mengakar dari Budaya - Karya Rendra Menjadi Inspirasi Sumpah Pemuda
Kamis, 29 Oktober 2009
Bandung, Kompas - Globalisasi dan gaya hidup hedonis dewasa ini cenderung memasung kreativitas anak-anak muda, khususnya di bidang seni budaya. Sebelum terlambat, gerakan kembali ke tata nilai adat harus mulai diperkenalkan lagi kepada generasi muda.
"Kita berjuang untuk kemerdekaan, 81 tahun lalu. Tapi, saat ini tantangannya berbeda. Kita harus berjuang untuk berdiri sendiri. Berjuang agar kreativitas tidak mati," tutur seniman Aat Suratin dalam pembukaan Bandung Mengenang Rendra, Rabu (28/10) di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung.
Acara yang dihadiri Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf, sejumlah seniman, dan perwakilan pemuda ini terkait pula dengan peringatan Sumpah Pemuda. Menurut Aat yang juga ketua penyelenggara acara ini, karya-karya Rendra selama ini memberikan inspirasi kaum muda tentang nasionalisme.
"Semangat Rendra menggambarkan kepada kita agar tidak pernah berhenti berkreasi. Tidak henti-hentinya pula dia mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga akal sehat. Tetapi, lihatlah sekarang, tidak ada lagi akal sehat ketika mahasiswa satu kampus menyerang mahasiswa lainnya," ia mengungkapkan keprihatinannya.
Yang tidak kalah memprihatinkan, tuturnya, kreativitas generasi muda dalam berseni saat ini seolah telah terpasung. "Gaya hidup, ekspresi, dan selera seni kita telah banyak didikte oleh kebudayaan asing. Bahkan estetika yang seyogianya adalah hal individu juga telah terpengaruh," ucapnya.
Krisis identitas
Keprihatinan senada diungkapkan Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Abdon Nababan. Ia mengatakan, masyarakat, khususnya kaum muda, kini mengalami krisis identitas. "Kita telah pergi meninggalkan identitas kita, sementara sistem tata nilai dari luar tidak bisa sepenuhnya diambil. Kita jadi mengambang, tidak jelas," paparnya.
Dalam diskusi "Hukum Adat dalam Perspektif Kebangsaan" yang merupakan rangkaian acara Bandung Mengenang Rendra, ia pun mengkritisi jargon ekonomi kreatif yang kini didengung-dengungkan di banyak kota, khususnya Bandung. Menurut dia, ekonomi kreatif akan menjadi percuma, kehilangan arah, jika tidak mengakar pada budaya.
Ia mencontohkan kondisi ekonomi sekarang yang dipenuhi berbagai persoalan macam krisis energi, pangan, bahkan isu perubahan iklim. "Pembangunan demikian tidak akan membawa kita keluar dari krisis. Sebaliknya, praktik di komunitas adat, macam Kampung Naga, Ciptagelar, atau Badui, selama ini terbukti justru tidak pernah terlibat krisis-krisis itu," ungkapnya.
Pendidikan, menurut dia, memiliki pengaruh yang besar terhadap mulai lunturnya identitas kebangsaan generasi muda saat ini. "Sistem pendidikan kita saat ini tidak memberi ruang atau mendorong tata nilai adat hidup di masyarakat. Malahan, berlomba-lomba mengadopsi dari luar," tuturnya.
Dalam acara ini, Dede Yusuf membacakan "Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api" karya WS Rendra. Dengan penuh penghayatan ia membawakan sajak yang berkisah tentang ironi mantan pejuang Bandung Lautan Api.
"Dahulu, sejumlah karya seni seperti yang diciptakan Rendra merupakan bagian dari alat perjuangan, ketidakpuasan terhadap kondisi. Sekarang seni itu mestinya tetap dapat menjadi alat perjuangan, misalnya menyuarakan kemiskinan," ucap Dede. (jon)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/12532767/kreativitas.mesti.mengakar.dari.budaya
Bandung, Kompas - Globalisasi dan gaya hidup hedonis dewasa ini cenderung memasung kreativitas anak-anak muda, khususnya di bidang seni budaya. Sebelum terlambat, gerakan kembali ke tata nilai adat harus mulai diperkenalkan lagi kepada generasi muda.
"Kita berjuang untuk kemerdekaan, 81 tahun lalu. Tapi, saat ini tantangannya berbeda. Kita harus berjuang untuk berdiri sendiri. Berjuang agar kreativitas tidak mati," tutur seniman Aat Suratin dalam pembukaan Bandung Mengenang Rendra, Rabu (28/10) di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung.
Acara yang dihadiri Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf, sejumlah seniman, dan perwakilan pemuda ini terkait pula dengan peringatan Sumpah Pemuda. Menurut Aat yang juga ketua penyelenggara acara ini, karya-karya Rendra selama ini memberikan inspirasi kaum muda tentang nasionalisme.
"Semangat Rendra menggambarkan kepada kita agar tidak pernah berhenti berkreasi. Tidak henti-hentinya pula dia mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga akal sehat. Tetapi, lihatlah sekarang, tidak ada lagi akal sehat ketika mahasiswa satu kampus menyerang mahasiswa lainnya," ia mengungkapkan keprihatinannya.
Yang tidak kalah memprihatinkan, tuturnya, kreativitas generasi muda dalam berseni saat ini seolah telah terpasung. "Gaya hidup, ekspresi, dan selera seni kita telah banyak didikte oleh kebudayaan asing. Bahkan estetika yang seyogianya adalah hal individu juga telah terpengaruh," ucapnya.
Krisis identitas
Keprihatinan senada diungkapkan Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Abdon Nababan. Ia mengatakan, masyarakat, khususnya kaum muda, kini mengalami krisis identitas. "Kita telah pergi meninggalkan identitas kita, sementara sistem tata nilai dari luar tidak bisa sepenuhnya diambil. Kita jadi mengambang, tidak jelas," paparnya.
Dalam diskusi "Hukum Adat dalam Perspektif Kebangsaan" yang merupakan rangkaian acara Bandung Mengenang Rendra, ia pun mengkritisi jargon ekonomi kreatif yang kini didengung-dengungkan di banyak kota, khususnya Bandung. Menurut dia, ekonomi kreatif akan menjadi percuma, kehilangan arah, jika tidak mengakar pada budaya.
Ia mencontohkan kondisi ekonomi sekarang yang dipenuhi berbagai persoalan macam krisis energi, pangan, bahkan isu perubahan iklim. "Pembangunan demikian tidak akan membawa kita keluar dari krisis. Sebaliknya, praktik di komunitas adat, macam Kampung Naga, Ciptagelar, atau Badui, selama ini terbukti justru tidak pernah terlibat krisis-krisis itu," ungkapnya.
Pendidikan, menurut dia, memiliki pengaruh yang besar terhadap mulai lunturnya identitas kebangsaan generasi muda saat ini. "Sistem pendidikan kita saat ini tidak memberi ruang atau mendorong tata nilai adat hidup di masyarakat. Malahan, berlomba-lomba mengadopsi dari luar," tuturnya.
Dalam acara ini, Dede Yusuf membacakan "Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api" karya WS Rendra. Dengan penuh penghayatan ia membawakan sajak yang berkisah tentang ironi mantan pejuang Bandung Lautan Api.
"Dahulu, sejumlah karya seni seperti yang diciptakan Rendra merupakan bagian dari alat perjuangan, ketidakpuasan terhadap kondisi. Sekarang seni itu mestinya tetap dapat menjadi alat perjuangan, misalnya menyuarakan kemiskinan," ucap Dede. (jon)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/12532767/kreativitas.mesti.mengakar.dari.budaya
Kepariwisataan - Pariwisata Belum Berorientasi Industri
Kamis, 29 Oktober 2009
BANDUNG, KOMPAS - Pengelolaan sektor pariwisata di Jawa Barat dinilai masih lemah karena belum dikerjakan dengan manajemen yang profesional layaknya sebuah industri. Bahkan, banyak pula obyek wisata yang dikelola aparatur daerah Jabar dengan kemampuan pas-pasan.
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, dalam pemaparan rencana kerja daerah, Rabu (28/10), mengatakan, kondisi itu akan diubah dengan paradigma baru. "Obyek wisata seharusnya tidak sekadar menampilkan keindahan alam. Lokasi wisata harus dikembangkan dengan memerhatikan pelayanan kepada konsumen atau wisatawan layaknya di dunia komersial," katanya.
Paradigma industri dan komersial juga harus diterapkan untuk mengelola seni dan budaya lokal. Selama ini masih banyak kekayaan seni dan budaya Jabar, seperti tari-tarian dan upacara adat, yang dibiarkan tumbuh berkembang sendiri tanpa sentuhan profesional.
Ia juga mencontohkan Bali sebagai daerah yang mampu mengoptimalkan potensi wisatanya dan bahkan menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) terbesar. Kondisi itu berbeda dengan Jabar yang kontribusi PAD dari sektor pariwisata masih di bawah 5 persen. Untuk itu, pengembangan budaya lokal dan destinasi wisata dimasukkan dalam 10 program utama daerah pada tahun 2010.
Mulai 2010
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar Herdiwan mengakui, pengembangan pariwisata dengan manajemen industri memang belum optimal di Jabar. "Upaya ke arah sana akan dimulai tahun 2010, antara lain dengan pembangunan gedung pertunjukan seni yang representatif di Bandung," katanya.
Gedung kesenian itu rencananya dibangun di kawasan Arcamanik, yakni berdekatan dengan Gelanggang Olahraga Arcamanik. Biaya awal pembangunan gedung pertunjukan itu sekitar Rp 50 miliar. Itu ditargetkan bisa setara dengan Taman Ismail Marzuki di Jakarta.
"Dengan adanya gedung kesenian yang representataif, pertunjukan seni dan budaya Jabar diharapkan lebih sering dilakukan. Hal itu juga akan diikuti dengan penataan yang lebih profesional, misalnya pengaturan tata panggung, pencahayaan, atau koreografi pertunjukan," ujarnya.
Pengamat budaya Halim HD mengingatkan pemerintah daerah jangan hanya mengejar keuntungan ekonomis dari pengembangan seni dan budaya. "Keberadaan gedung-gedung pertunjukan harus juga menjadi wahana pelestarian seni dan budaya, misalnya dengan penampilan dan pengajaran seni-seni tradisi," paparnya.
Halim menambahkan, dampak ekonomis dari kelestarian seni dan budaya akan terasa bagi daerah sekitar. Sebab, kelestarian seni dan budaya lokal akan menarik perhatian wisatawan. (REK)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/11183511/pariwisata.belum.berorientasi.industri
BANDUNG, KOMPAS - Pengelolaan sektor pariwisata di Jawa Barat dinilai masih lemah karena belum dikerjakan dengan manajemen yang profesional layaknya sebuah industri. Bahkan, banyak pula obyek wisata yang dikelola aparatur daerah Jabar dengan kemampuan pas-pasan.
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, dalam pemaparan rencana kerja daerah, Rabu (28/10), mengatakan, kondisi itu akan diubah dengan paradigma baru. "Obyek wisata seharusnya tidak sekadar menampilkan keindahan alam. Lokasi wisata harus dikembangkan dengan memerhatikan pelayanan kepada konsumen atau wisatawan layaknya di dunia komersial," katanya.
Paradigma industri dan komersial juga harus diterapkan untuk mengelola seni dan budaya lokal. Selama ini masih banyak kekayaan seni dan budaya Jabar, seperti tari-tarian dan upacara adat, yang dibiarkan tumbuh berkembang sendiri tanpa sentuhan profesional.
Ia juga mencontohkan Bali sebagai daerah yang mampu mengoptimalkan potensi wisatanya dan bahkan menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) terbesar. Kondisi itu berbeda dengan Jabar yang kontribusi PAD dari sektor pariwisata masih di bawah 5 persen. Untuk itu, pengembangan budaya lokal dan destinasi wisata dimasukkan dalam 10 program utama daerah pada tahun 2010.
Mulai 2010
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar Herdiwan mengakui, pengembangan pariwisata dengan manajemen industri memang belum optimal di Jabar. "Upaya ke arah sana akan dimulai tahun 2010, antara lain dengan pembangunan gedung pertunjukan seni yang representatif di Bandung," katanya.
Gedung kesenian itu rencananya dibangun di kawasan Arcamanik, yakni berdekatan dengan Gelanggang Olahraga Arcamanik. Biaya awal pembangunan gedung pertunjukan itu sekitar Rp 50 miliar. Itu ditargetkan bisa setara dengan Taman Ismail Marzuki di Jakarta.
"Dengan adanya gedung kesenian yang representataif, pertunjukan seni dan budaya Jabar diharapkan lebih sering dilakukan. Hal itu juga akan diikuti dengan penataan yang lebih profesional, misalnya pengaturan tata panggung, pencahayaan, atau koreografi pertunjukan," ujarnya.
Pengamat budaya Halim HD mengingatkan pemerintah daerah jangan hanya mengejar keuntungan ekonomis dari pengembangan seni dan budaya. "Keberadaan gedung-gedung pertunjukan harus juga menjadi wahana pelestarian seni dan budaya, misalnya dengan penampilan dan pengajaran seni-seni tradisi," paparnya.
Halim menambahkan, dampak ekonomis dari kelestarian seni dan budaya akan terasa bagi daerah sekitar. Sebab, kelestarian seni dan budaya lokal akan menarik perhatian wisatawan. (REK)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/11183511/pariwisata.belum.berorientasi.industri
Festival Film Animasi - Saat Animasi Masuk Desa
Kamis, 29 Oktober 2009
Sejumlah anak muda terdiam dan larut dalam imajinasi mereka masing-masing saat mendengarkan sebuah lagu. Lagu religi ciptaan Muslich yang bercerita tentang suka cita keluarga dalam merayakan Lebaran seperti menjadi inspirasi anak-anak muda itu.
Pandangan salah satu peserta workshop, Eliana (15), sempat menerawang ke langit-langit ruangan. Lantas ia dengan cepat menuangkan ke dalam tulisan singkat. Beberapa saat kemudian muncul sosok karakter perempuan berjilbab di atas kertasnya. Nantinya, karakter ciptaan mereka inilah yang dijadikan tokoh dalam film animasi.
Sepanjang Rabu (28/10), begitulah kesibukan peserta workshop yang digelar dalam rangkaian kegiatan Festival Film Animasi Indonesia 2009. Bertempat di sebuah ruangan milik Grabag TV, Kecamatan Grabag, Magelang, selama tiga hari, sejak Rabu (28/10) sampai Jumat (30/10), mereka berlatih melahirkan film animasi sederhana berdurasi empat menit. Proses dimulai dari penggalian ide. Lantas dengan teknik cut out, ide dituangkan dalam bentuk gambar yang disusun menjadi kolase dan direkam dengan still photo. Tahap berikutnya, peserta akan menggabungkan gambar dengan perangkat komputer untuk menghidupkan setiap karakter.
Eliana mengakui, pelatihan kali ini merupakan pengalaman pertamanya membuat animasi setelah sebelumnya hanya bisa menonton lewat televisi. Peserta lainnya, Mahrus (25), pun mengatakan ingin terus mengembangkan ilmu yang didapat selama pelatihan. Angkat budaya lokal
Memberikan pengalaman baru bagi peserta tersebut merupakan misi kecil Festival Film Animasi ini. Ada keinginan berbagi ilmu hingga jauh ke desa. Menurut Direktur FFAI 2009 Gotot Prakosa, animasi diperkenalkan sebagai edukasi membangun kreativitas di desa-desa. "Kita memiliki banyak cerita berbasis budaya seperti wayang atau relief candi yang bisa dijadikan ide," ujar Gotot.
Pelatihan animasi di sejumlah desa itu merupakan usaha untuk mengangkat cerita yang lebih dekat dengan kebudayaan lokal, seperti dari cerita dan sisi visual yang bermuatan lokal. Selama ini animasi di Indonesia lebih banyak berkiblat ke Jepang. Gotot mencontohkan teknik animasi yang diajarkan dalam workshop tersebut hampir seperti wayang kulit, yaitu berupa animasi bayangan dua dimensi.
Salah satu mentor dari Finlandia, Bernice, yang selalu memutari meja untuk melihat karya peserta mengatakan, kesabaran menjadi kunci penting dalam membuat animasi. (Raditya Mahendra Yasa)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/14435363/saat.animasi.masuk.desa
Sejumlah anak muda terdiam dan larut dalam imajinasi mereka masing-masing saat mendengarkan sebuah lagu. Lagu religi ciptaan Muslich yang bercerita tentang suka cita keluarga dalam merayakan Lebaran seperti menjadi inspirasi anak-anak muda itu.
Pandangan salah satu peserta workshop, Eliana (15), sempat menerawang ke langit-langit ruangan. Lantas ia dengan cepat menuangkan ke dalam tulisan singkat. Beberapa saat kemudian muncul sosok karakter perempuan berjilbab di atas kertasnya. Nantinya, karakter ciptaan mereka inilah yang dijadikan tokoh dalam film animasi.
Sepanjang Rabu (28/10), begitulah kesibukan peserta workshop yang digelar dalam rangkaian kegiatan Festival Film Animasi Indonesia 2009. Bertempat di sebuah ruangan milik Grabag TV, Kecamatan Grabag, Magelang, selama tiga hari, sejak Rabu (28/10) sampai Jumat (30/10), mereka berlatih melahirkan film animasi sederhana berdurasi empat menit. Proses dimulai dari penggalian ide. Lantas dengan teknik cut out, ide dituangkan dalam bentuk gambar yang disusun menjadi kolase dan direkam dengan still photo. Tahap berikutnya, peserta akan menggabungkan gambar dengan perangkat komputer untuk menghidupkan setiap karakter.
Eliana mengakui, pelatihan kali ini merupakan pengalaman pertamanya membuat animasi setelah sebelumnya hanya bisa menonton lewat televisi. Peserta lainnya, Mahrus (25), pun mengatakan ingin terus mengembangkan ilmu yang didapat selama pelatihan. Angkat budaya lokal
Memberikan pengalaman baru bagi peserta tersebut merupakan misi kecil Festival Film Animasi ini. Ada keinginan berbagi ilmu hingga jauh ke desa. Menurut Direktur FFAI 2009 Gotot Prakosa, animasi diperkenalkan sebagai edukasi membangun kreativitas di desa-desa. "Kita memiliki banyak cerita berbasis budaya seperti wayang atau relief candi yang bisa dijadikan ide," ujar Gotot.
Pelatihan animasi di sejumlah desa itu merupakan usaha untuk mengangkat cerita yang lebih dekat dengan kebudayaan lokal, seperti dari cerita dan sisi visual yang bermuatan lokal. Selama ini animasi di Indonesia lebih banyak berkiblat ke Jepang. Gotot mencontohkan teknik animasi yang diajarkan dalam workshop tersebut hampir seperti wayang kulit, yaitu berupa animasi bayangan dua dimensi.
Salah satu mentor dari Finlandia, Bernice, yang selalu memutari meja untuk melihat karya peserta mengatakan, kesabaran menjadi kunci penting dalam membuat animasi. (Raditya Mahendra Yasa)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/14435363/saat.animasi.masuk.desa
PUISI SUMPAH PEMUDA DI KERETA
Regol
Kamis, 29 Oktober 2009
Sepuluh mahasiswa Pharmaceutical Entertainer Universitas Islam Indonesia memperingati Sumpah Pemuda dengan membaca puisi di Kereta Api Prambanan Ekspres Solo-Yogyakarta, Rabu (28/10). Kegiatan dikaitkan dengan Bulan Bahasa dan Sastra sepanjang Oktober. Dua puisi Karawang Bekasi (Chairil Anwar) dan Indonesia, Tanah Tumpah Darahku (Muhammad Yamin) dipilih. Pembacaan diiringi lagu Bagimu Negeri karya C Simanjuntak dinyanyikan paduan suara Pharmaceutical Entertainer UII. Pembina acara, Sukir Satrija Jati mengatakan, puisi Chairil dan Yamin dipilih karena mewakili sosok generasi muda yang berjuang melalui bahasa dan karya sastra pada zamannya. (IRE)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/14450823/regol
Kamis, 29 Oktober 2009
Sepuluh mahasiswa Pharmaceutical Entertainer Universitas Islam Indonesia memperingati Sumpah Pemuda dengan membaca puisi di Kereta Api Prambanan Ekspres Solo-Yogyakarta, Rabu (28/10). Kegiatan dikaitkan dengan Bulan Bahasa dan Sastra sepanjang Oktober. Dua puisi Karawang Bekasi (Chairil Anwar) dan Indonesia, Tanah Tumpah Darahku (Muhammad Yamin) dipilih. Pembacaan diiringi lagu Bagimu Negeri karya C Simanjuntak dinyanyikan paduan suara Pharmaceutical Entertainer UII. Pembina acara, Sukir Satrija Jati mengatakan, puisi Chairil dan Yamin dipilih karena mewakili sosok generasi muda yang berjuang melalui bahasa dan karya sastra pada zamannya. (IRE)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/14450823/regol
Kondisi Museum di Yogyakarta Memprihatinkan
Kondisi sebagian besar museum di Daerah Istimewa Yogyakarta memprihatinkan. Selain tingkat keamanan yang rendah, museum juga belum mempunyai ruang penyimpanan koleksi dan laboratorium konservasi yang layak. Akibatnya, ratusan koleksi bernilai tinggi terancam hilang atau rusak. Kepala Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta Djoko Dwiyanto, Selasa (27/10), mengatakan, dari 36 museum yang ada di DIY, belum satu pun yang mempunyai ruang penyimpanan ataupun laboratorium konservasi yang layak. Pengelola museum sekadar menumpuk koleksi yang tidak dipamerkan atau membiarkan koleksi di ruang terbuka. (IRE)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/03532635/langkan
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/03532635/langkan
Subscribe to:
Posts (Atom)