Showing posts with label jawa tengah. Show all posts
Showing posts with label jawa tengah. Show all posts

52 Rumah Joglo Kotagede Terjual - Penjual Belum Tentu Golongan Ekonomi Lemah

Jumat, 18 September 2009 | 15:45 WIB

Yogyakarta, Kompas - Belum ada tindakan riil pemerintah daerah terhadap penjualan dan pemindahan rumah Jawa joglo dari kawasan Kotagede. Idealnya, pemerintah daerah mau berinisiatif membeli, ketimbang benda cagar budaya ini pindah ke luar Yogyakarta.

Hal itu dikatakan M Natsier, Ketua Yayasan Kantil" lembaga pelestarian dan pengembangan seni budaya di Yogyakarta, Rabu (16/9). "Sepanjang pemerintah tak berinisiatif membeli, satu demi satu joglo akan dipindah ke luar Yogyakarta," katanya.

Awal September, sebuah pendapa beratap joglo di Kampung Trunojayan dijual. Untung saja, pendapa tersebut dibeli warga Kotagede yang rumahnya hanya sekitar 100 meter dari lokasi awal.

"Joglo berukuran 8 meter x 8 meter itu dijual Rp 100 juta. Sepintas cukup tinggi harganya. Namun, jika dikalkulasi dengan kualitas kayu jati tua kelas satu, nilai uang joglo itu minimal Rp 300 juta. Tapi, dengan kenyataan bahwa joglo itu dibangun tahun 1850-an,nilai sejarahnyalah yang lebih utama," papar Natsier.

Yang mengherankan, menurut Natsier, pemilik bukan termasuk golongan ekonomi lemah. Penjual tersebut malah orang kaya yang ingin membangun rumah. Joglo itu dianggap mengganggu. "Itu artinya penjualan joglo tak semata karena butuh uang," katanya.

Sejak 1985 "saat maraknya orang membeli rumah kuno" hingga saat ini sudah 52 rumah joglo terjual. Sekarang di Kotagede hanya tersisa sekitar 150 rumah Jawa joglo dan 200 pendapa Jawa dan rumah Jawa beratap limasan. Bangunan-bangunan ini didirikan 1775-1935.

Sebelum kasus di Trunojayan ini, kasus sebelumnya terjadi bulan Juni. Sebuah pendapa dan dua rumah joglo di Jalan Mondorakan, jalan utama di Kotagede, dijual dan diangkut ke kawasan Puncak, Bogor, untuk keperluan perhotelan. Pemilik yang butuh uang menjual hanya Rp 380 juta. Padahal, nilai kayunya sendiri, diperkirakan Natsier, lebih dari Rp 1 miliar.

Cagar budaya

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Seni dan Kebudayaan Kota Yogyakarta M Sudibyo menuturkan, mengenai urusan membeli jogloyang merupakan benda cagar budaya ini, pemerintah daerah jelas tidak kuat. "Mau bagaimana lagi. Ini memang dilematis. Tapi, dengan harga joglo yang ratusan juta rupiah, Pemkot Yogyakarta, Pemkab Bantul, dan Pemprov DIY pun merasa berat,"ujar Sudibyo.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Tazbir berpendapat senada. "Pemprov DIY kalau memiliki dana untuk membeli lebih baik, ketimbang joglopindah ke luar Yogyakarta. Kami bisa memanfaatkan joglo-joglo itu untuk kepentingan pariwisata," kata Tazbir. (PRA)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/18/15451594/52.rumah.joglo.kotagede.terjual

ARKEOLOGI - Sumur Mataram Kuno Ditemukan


KOMPAS/MOHAMAD FINAL DAENG
Karsinah (58) mengukur kedalaman sumur kuno yang ditemukan tak sengaja dalam penggalian di lahannya, di Dusun Cibuk Kidul, Margoluwih, Seyegan, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (20/11).


Senin, 23 November 2009

Sleman, Kompas - Sebuah sumur yang diduga sumur pada zaman kerajaan Mataram Kuno ditemukan warga di kawasan persawahan, Dusun Cibuk Kidul, Margoluwih, Seyegan, Sleman, DI Yogyakarta. Sumur tersebut diduga bagian dari permukiman masyarakat kuno Mataram pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi.

Sumur itu terkubur sekitar 1 meter di dalam tanah. Seorang warga, Parman, menemukannya secara tidak sengaja saat menggali tanah liat untuk usaha batu bata, sekitar dua minggu lalu.

”Dia tidak memberitahukan kepada siapa pun soal penemuan itu sampai kemarin,” kata Karsinah (58), pemilik lahan yang menyewakan tanahnya kepada Parman, ketika ditemui di lokasi, Jumat (20/11).

Mulut sumur berdiameter sekitar 50 cm, kedalaman sekitar 1 meter. Tak seperti sumur umumnya, pinggirannya berlapis gerabah—bahan untuk membuat kendi. Di sekitarnya ada puluhan batu bata merah berukuran tiga kali lebih besar dari bata biasa dan dua arca kepala Nandi.

Beberapa bata dibiarkan berserakan di tepi kali kecil, sekitar 10 meter dari lokasi. Seorang warga dusun mengaku pernah memakai bata kuno itu sebagai pijakan jamban.

Dihubungi terpisah, Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta Tri Hartono mengatakan, pihaknya masih meneliti sumur tersebut. Pihak BP3 Yogyakarta telah membawa sampel bata merah dan dua arca Nandi untuk penyelidikan lebih jauh.

Tri mengatakan, kemungkinan besar sumur itu berasal dari masa klasik abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, periode Kerajaan Mataram Kuno. Sumur diperkirakan bagian dari perkampungan. ”Di Kabupaten Bantul juga banyak ditemukan sumur serupa,” ujarnya.

Dugaan ini, lanjut Tri, didukung banyaknya temuan arkeologis lain di sekitar Kecamatan Seyegan. Soal kondisi terbengkalai, Tri menyatakan, pihaknya berkoordinasi dengan Badan Arkeologi Yogyakarta untuk penelitian, rencana sterilisasi, dan pengamanan lokasi itu. (ENG)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/23/03212088/sumur.mataram.kuno.ditemukan

Sidang di Rumah Mangunwijaya

Kamis, 29 Oktober 2009

Semilir angin membuat sejuk ruang pertemuan di rumah budayawan YB Mangunwijaya Pr atau Romo Mangun, Minggu (25/10). Namun, sidang bagi para penulis muda di dalamnya berlangsung panas. Seorang remaja putri sedang menjadi terdakwa tercenung, tak mampu membela diri.

Adegan tersebut terjadi dalam Pelatihan Penulisan Kreatif yang diselenggarakan Persahabatan Wartawan Cilik Yogyakarta (PWCY) dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda 2008 dan dalam rangka memaknai 80 tahun YB Mangunwijaya. Sidang yang diikuti 20 peserta berusia 10-20 tahun itu merupakan salah satu sesi pelatihan di mana beberapa naskah para peserta diulas dan dikiritik.

Dihiasi poster besar Romo Mangun yang tergantung di dinding ruangan, Zheitta Vazza Devi (18), demikian nama lengkap remaja putri itu, menerima dakwaan dan penghakiman sekaligus. Wajahnya tertunduk lesu, sembari membolak-balik naskah tulisan terbarunya yang tengah dihujani kritik para hakim merangkap jaksa. Suara cadelnya yang sesaat lalu masih terdengar nyaring menimpali, kini terdiam.

Sepintas lalu, sidang itu terlihat bukan sidang yang adil. Di hadapan 20 rekannya, Vazza, demikian remaja tunarungu itu disapa, berhadapan dengan empat orang yang telah belasan tahun bergelut di bidang sastra. Namun, dengan menilik fakta bahwa tiga novel telah dia hasilkan, wajar Vazza duduk di kursi terdakwa.

Selama sekitar 30 menit, naskah tulisan terbaru Vazza berjudul Loverpool di Love Vegas menuai kritik pedas dari para hakim. Naskah novel setebal 17 halaman itu bercerita tentang kisah nyata yang Vazza alami sebagai remaja tunarungu. Sakit hati karena ejekan atau rasa terkucil karena berbeda terangkum di dalamnya.

Kritik-kritik yang terlontar terutama berkutat pada judul yang dia pilih. "Judul ini seperti hanya mengisahkan kisah percintaan remaja, padahal isi cerita tentang penemuan jati diri. Kesannya seksi, tetapi tidak sesuai dengan naskah. Jujur saya merasa tertipu," kata John de Santo dari ASMI Santa Maria Yogyakarta, yang siang itu turut menjadi salah seorang hakim.

Sama pedasnya, Editor Galang Press AA Kunto mengatakan, judul tersebut terkesan datar dan sama sekali tidak menyampaikan pesan. Padahal, meskipun pendek, judul buku seharusnya memberi gambaran akan pesan yang ingin disampaikan.

Kunto juga mengkritisi ego Vazza yang tecermin sangat kuat dalam tulisan. Karena ego itu, tulisan terkesan berceramah dan menggurui. Sidang Vazza siang itu ditutup nasihat dan saran Kunto yang cukup mendinginkan hati yang mulai panas. "Sebagai seorang penulis, kita harus terlebih dulu menyingkirkan ego kita," salah satu nasihatnya.

Tidak seperti sidang di pengadilan, sidang ini diakhiri keakraban dari senior dan yunior-yuniornya. Tidak ada sakit hati. Sesi selanjutnya pun menjadi ajang tukar ide untuk mengembangkan gagasan tulisan para peserta. Selain Vazza, 19 peserta dalam pelatihan itu rata-rata telah menghasilkan tulisan yang telah dimuat di berbagai media massa.

"Saya malah senang karena tahu di mana letak kekurangan saya," ujar Vazza di akhir sidang.

Pil pahit

Tak salah bila sidang itu diibaratkan dengan jamu atau pil pahit. "Pahit tetapi perlu demi kebaikan peserta. Sidang seperti ini akan terus berkesan pada orang yang karyanya dikritik," tuturnya.

Menurut Sutrisno, acara dimaksudkan untuk membina para penulis muda di Yogyakarta yang mempunyai potensi besar, tetapi kurang diketahui masyarakat. Besarnya potensi ini terlihat dari banyaknya hasil tulisan yang dihasilkan. Menurut pantauan PWCY, dalam sebulan anak-anak Yogyakarta mampu menghasilkan sekitar 30-50 tulisan yang diterbitkan di berbagai media massa.

Hal itu pula yang menjadi alasan peringatan Sumpah Pemuda PWCY yang berlangsung 24-26 Oktober itu mengambil tempat di rumah Mangunwijaya. Para penulis muda ini perlu mengenal nilai-nilai tokoh yang meninggal dunia tahun 1991 sebagai sumber inspirasi.

Di rumah setengah kayu berarsitektur tropis dengan bahan material bekas yang terletak di Gang Kuwera, Jalan Gejayan, Sleman, itu para penulis muda akan bersentuhan dengan kesederhanaan Mangunwijaya.

Para penulis muda itu juga akan memperoleh sedikit gambaran, dalam proses kreatifnya, Mangunwijaya tetap bergelut dengan masyarakat di perkampungan. Di rumah itu juga terlihat banyak koleksi Mangunwijaya yang bisa dibaca. "Saya berharap, dari perkenalan pertama ini, mereka akan lebih tertarik lagi dengan Romo Mangun," ujarnya.

Sutrisno mengatakan, sebagian besar penulis muda saat ini mengangkat tema-tema gaya hidup, keluarga, maupun percintaan. Tema-tema ini minim persinggungannya dengan masalah sosial atau tema-tema yang lebih dalam. Perkenalan dengan Mangunwijaya diharapkan membentuk kepekaan sosial dan kemanusiaan yang belakangan makin langkah tumbuh di kalangan remaja. (IRE)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/11251614/sidang.di.rumah.mangunwijaya

Festival Film Animasi - Saat Animasi Masuk Desa

Kamis, 29 Oktober 2009

Sejumlah anak muda terdiam dan larut dalam imajinasi mereka masing-masing saat mendengarkan sebuah lagu. Lagu religi ciptaan Muslich yang bercerita tentang suka cita keluarga dalam merayakan Lebaran seperti menjadi inspirasi anak-anak muda itu.

Pandangan salah satu peserta workshop, Eliana (15), sempat menerawang ke langit-langit ruangan. Lantas ia dengan cepat menuangkan ke dalam tulisan singkat. Beberapa saat kemudian muncul sosok karakter perempuan berjilbab di atas kertasnya. Nantinya, karakter ciptaan mereka inilah yang dijadikan tokoh dalam film animasi.

Sepanjang Rabu (28/10), begitulah kesibukan peserta workshop yang digelar dalam rangkaian kegiatan Festival Film Animasi Indonesia 2009. Bertempat di sebuah ruangan milik Grabag TV, Kecamatan Grabag, Magelang, selama tiga hari, sejak Rabu (28/10) sampai Jumat (30/10), mereka berlatih melahirkan film animasi sederhana berdurasi empat menit. Proses dimulai dari penggalian ide. Lantas dengan teknik cut out, ide dituangkan dalam bentuk gambar yang disusun menjadi kolase dan direkam dengan still photo. Tahap berikutnya, peserta akan menggabungkan gambar dengan perangkat komputer untuk menghidupkan setiap karakter.

Eliana mengakui, pelatihan kali ini merupakan pengalaman pertamanya membuat animasi setelah sebelumnya hanya bisa menonton lewat televisi. Peserta lainnya, Mahrus (25), pun mengatakan ingin terus mengembangkan ilmu yang didapat selama pelatihan. Angkat budaya lokal

Memberikan pengalaman baru bagi peserta tersebut merupakan misi kecil Festival Film Animasi ini. Ada keinginan berbagi ilmu hingga jauh ke desa. Menurut Direktur FFAI 2009 Gotot Prakosa, animasi diperkenalkan sebagai edukasi membangun kreativitas di desa-desa. "Kita memiliki banyak cerita berbasis budaya seperti wayang atau relief candi yang bisa dijadikan ide," ujar Gotot.

Pelatihan animasi di sejumlah desa itu merupakan usaha untuk mengangkat cerita yang lebih dekat dengan kebudayaan lokal, seperti dari cerita dan sisi visual yang bermuatan lokal. Selama ini animasi di Indonesia lebih banyak berkiblat ke Jepang. Gotot mencontohkan teknik animasi yang diajarkan dalam workshop tersebut hampir seperti wayang kulit, yaitu berupa animasi bayangan dua dimensi.

Salah satu mentor dari Finlandia, Bernice, yang selalu memutari meja untuk melihat karya peserta mengatakan, kesabaran menjadi kunci penting dalam membuat animasi. (Raditya Mahendra Yasa)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/14435363/saat.animasi.masuk.desa

PUISI SUMPAH PEMUDA DI KERETA

Regol
Kamis, 29 Oktober 2009

Sepuluh mahasiswa Pharmaceutical Entertainer Universitas Islam Indonesia memperingati Sumpah Pemuda dengan membaca puisi di Kereta Api Prambanan Ekspres Solo-Yogyakarta, Rabu (28/10). Kegiatan dikaitkan dengan Bulan Bahasa dan Sastra sepanjang Oktober. Dua puisi Karawang Bekasi (Chairil Anwar) dan Indonesia, Tanah Tumpah Darahku (Muhammad Yamin) dipilih. Pembacaan diiringi lagu Bagimu Negeri karya C Simanjuntak dinyanyikan paduan suara Pharmaceutical Entertainer UII. Pembina acara, Sukir Satrija Jati mengatakan, puisi Chairil dan Yamin dipilih karena mewakili sosok generasi muda yang berjuang melalui bahasa dan karya sastra pada zamannya. (IRE)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/14450823/regol

Promosi Wisata - Terkendala Tonjolkan Keunikan Tiap Desa Tujuan

Jumat, 23 Oktober 2009

Bantul, Kompas - Promosi desa-desa wisata yang ada di wilayah Kabupaten Bantul dinilai masih minim karena sejumlah kendala. Karenanya, kunjungan wisatawan tidak optimal dan membuat pondok-pondok wisata yang sudah dibangun jarang ditinggali wisatawan.

Kepala Bidang Pemasaran dan Kemitraan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul Diah Setiawati mengakui, selama ini promosi desa wisata di Bantul sangat lemah. Pengelola desa wisata cenderung diam dan menunggu tamu datang.

"Kami pun punya tanggung jawab untuk memasarkan desa wisata yang ada. Namun, kemampuan pemerintah tidak bisa maksimal karena keterbatasan dana. Karena dana terbatas, sejauh ini kami fokus mengembangkan Desa Wisata Kebon Agung," kata Diah dalam diskusi "Pengembangan Jasa Usaha Pondok Wisata Kawasan Gabusan-Manding-Tembi", Kamis (22/10), di Tembi, Bantul.

Menurut Diah, saat ini ada lima desa wisata di Bantul, yakni Kebon Agung, Krebet, Kasongan, Tembi, dan Lopati. Di setiap desa wisata terdapat pondok-pondok wisata milik warga. Selain itu, setiap desa wisata juga memiliki atraksi unik yang bisa dipasarkan untuk menarik wisatawan. Tak ada data

Meskipun potensinya besar, sampai saat ini belum semua pengelola desa wisata memiliki data akomodasi dan atraksi. Keterbatasan data ini membuat upaya pemasaran menjadi sulit. "Padahal, data diperlukan untuk membuat paket-paket wisata sehingga nanti akan lebih mudah dipromosikan," tutur Diah.

Untuk menggiatkan promosi, ke depan akan dijalin kerja sama dengan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia serta Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia. Kedua asosiasi tersebut diharapkan membantu membina pengelola desa wisata dan membuka jaringan pemasaran.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta Ferry Astono mengatakan, pengembangan desa wisata mestinya disesuaikan dengan segmen pasar yang hendak dibidik. Desa wisata di wilayah Bantul sebaiknya memiliki keunikan yang tidak dimiliki desa lain. Dengan begitu, wisatawan akan mau datang untuk melihat keunikan itu. "Kalau sama saja dengan yang di kota, buat apa pergi jauh-jauh ke Bantul," ujar Ferry.

Menurut dia, segmen pasar yang jelas juga akan mempermudah upaya pemasaran ke wisatawan. Ada desa wisata yang lebih tepat dipasarkan ke sekolah-sekolah dan ada juga desa wisata yang lebih tepat ditawarkan ke rombongan keluarga.

"Asal sudah ada brosurnya, kami siap membantu memasarkan," ujar Ferry. (ARA)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/23/13232219/promosi.wisata.terkendala..

Jelang Libur Lebaran di Water Blaster

Graha Candi Golf
Jelang Libur Lebaran di Water Blaster

Jumat, 18 September 2009

Kawasan permukiman asri nan ekslusif di sisi Semarang atas, Graha Candi Golf, adalah gambaran hunian masa depan yang merangkum kenyamanan jiwa bagi setiap penghuninya. Bersandar di serambinya, raga dan pikiran ditenangkan dengan hijau panorama dan teduh suasana perbukitan yang sulit digantikan keindahannya. Memilih tinggal di sini berarti memberikan kesempatan bagi diri untuk leluasa berileksasi dari rumah sendiri.

Bahkan selain rentetan fasilitas nomor satu yang melengkapi kesempurnaan perumahan ini, seperti lapangan golf 9 holes, driving range, club house, kafe Albatros, dan kolam renang kini Graha Candi Golf makin dikenal berkat kehadiran sebuah komplek wisata air yang diberi nama Water Blaster, dengan telepon 024-8500030. Dibuka sejak pertengahan tahun silam, Water Blaster mampu menjadi magnet bagi warga Semarang dan sekitarnya untuk sejenak meluangkan waktu berpelesir dan bersantai bersama putra putri tercinta. Salah satu alternatif wisata baru di kota atlas ini tak pernah sepi dipadati pengunjung, khususnya saat akhir pekan. Bagi penghuninya sendiri, Water Blaster menjadi potensi yang merupakan nilai tambah investasi properti di Graha Candi Golf.

Dibalut konsep warna warni ceria sebagai bentuk interpretasi keriaan nuansa wisata air dan indahnya dunia anak, Water Blaster adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi saat liburan, termasuk libur Lebaran kali ini. Berkunjung ke Water Blaster berarti menikmati berbagai wahana air yang unik dan menantang untuk dijajal, seperti lazy river (sungai buatan) dengan arus yang dapat diarungi dengan ban karet, ember tumpah, seluncur air "speed torpedos", seluncur berkelok "dino blast", dan lainnya.

"Untuk menambah suasana liburan yang lebih seru, acara bermain air juga tambah mengasikkan dengan adanya permainan baru ninja warrior," kata Mei A Banawi STp, Manager Water Blaster di Semarang. Selain ragam kolam renang dan permainan air yang menarik, saat ini sejumlah permainan adu nyali seperti flying fox yang melintasi kolam renang aneka ukuran turut meramaikan area wisata air seluas lebih kurang 4 hektar tersebut.

Buat para orang tua yang setia menanti buah hati tercinta bermain air, tempat rehat yang nyaman berupa kafe dengan aneka menu makanan dan minuman menyegarkan siap menemani. Didesain cantik, kafe dengan fasilitas hotspot ini menjadi pelabuhan yang tepat untuk rileks.

Selama libur Lebaran, hingga tanggal 27 September 2009, Water Blaster siap menyambut kunjungan Anda mulai pukul 08.00 sampai dengan 18.00, kecuali pada hari H Idul Fitri yang mulai buka pukul 11.00. Dengan tiket masuk Rp 60 ribu, ajak seluruh anggota keluarga menikmati liburan dan habiskan hari dengan bermain dan bergembira di Water Blaster. Dimanjakan kenyamanan The Panorama

Menjadi impian banyak kalangan untuk menjadi salah satu bagian dari hunian dengan view menakjubkan ini, Graha Candi Golf yang telah sukses mengembangkan cluster yang lain, maka kini melanjutkan pembangunan di The Panorama cluster.

Seperti diungkapkan oleh Juraemi, Bagian Promosi Graha Candi Golf, bahwa The Panorama masih menghadirkan konsep modern minimalis bagi keluarga muda yang dinamis dan diciptakan di atas lahan yang berkontur perbukitan. Sebagai benefitnya, para penghuni akan puas memandang hamparan hijau bukit dengan gunung Ungaran sebagai background dinaungi udara sejuk yang menyegarkan. Sebuah hal berharga yang makin sulit ditemui di era modern saat ini.

Sesuai namanya, setiap penjuru rumah tinggal diupayakan menemukan sisi keindahan Kota Semarang. Bersinergi dengan alam, menjadi penghuni The Panorama dapat membuka kesempatan yang lebih luas untuk mengagumi ciptaan Tuhan lewat panorama laut, Kota Semarang bawah, sekaligus perbukitan. Memanjakan panca indera adalah salah satu bentuk rasa syukur kita kepada Sang Pencipta. Jadilah bagian dari The Panorama untuk mewujudkannya. Bagi Anda yang berminat tahu lebih dalam soal Graha Panorama dan cluster-cluster lain di Graha Candi Golf, dapat menghubungi bagian pemasaran di nomor telepon (024) 8501000. CRL

Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/18/10583316/jelang.libur.lebaran.di.water.blaster.

Nasi Goreng Bakar Mr Puencheng Semarang

Sajian Tlogosari
Nasi Goreng Bakar Mr Puencheng Semarang

Jumat, 18 September 2009

Menyantap nasi goreng, yang terbayang adalah minyak mengkilat yang melumuri nasi. Namun, berbeda dengan nasi goreng bakar yang dibakar dengan oksigen bertekanan tinggi. Hidangan tersebut sirna karena tidak ada minyak mengkilat di nasi goreng yang tersaji. Kekhawatiran akan lemak tinggi pun lenyap.

Penampilan Nasi Goreng Bakar Bertekanan Mr Puencheng yang berlokasi di Jalan Parangkusumo Raya Nomor 40, Tlogosari, Kota Semarang, itu sekilas sama seperti nasi goreng pada umumnya.

Bedanya, tidak ada minyak yang melekat di butiran nasi. Jadi, ketika menelan, sensasi yang muncul adalah rasa kering pada nasi.

Proses pembuatannya, pertama nasi digoreng dengan minyak rendah kolesterol. Itu pun dalam takaran sangat sedikit. Nasi kemudian dicampur dengan bumbu-bumbu, irisan daun bawang, dan kecap manis.

Setelah itu, nasi goreng dibakar dengan alat bernama blender api. Dengan bahan bakar, api dan oksigen bertekanan tinggi, permukaan nasi goreng dibakar selama 30 detik untuk empat porsi nasi goreng.

Waktu pembakaran, menurut pemilik gerai Nasi Goreng Bakar Mr Puencheng, M Gunawan Wibisono, tidak boleh terlalu singkat dan terlalu lama. Jika terlalu lama, nasi goreng akan gosong dan terasa pahit.

Rasa nasi goreng bakar ini pun lebih gurih. Bumbunya terdiri dari bawang merah, bawang putih, merica, dan sari tape.

"Khas masakan China," ungkap M Gunawan Wibisono.

Nasi goreng terasa lengkap dengan sajian acar ketimun dan acar irisan cabai rawit merah. Keduanya memberi sensasi segar. Bagi yang menyukai rasa pedas, acar irisan cabai rawit merah sangat membangkitkan selera makan.

Pengunjung dapat memilih aneka varian nasi goreng. Di tempat itu tersedia juga nasi goreng ayam, nasi goreng telur, dan nasi goreng kambing. Ada pula mi goreng dan kwetiau goreng yang diproses dengan cara serupa dengan nasi goreng bakar. Harga per porsi Rp 7.000-Rp 10.000.

"Awalnya, saya adalah penyuka nasi goreng, tetapi memiliki masalah dengan kolesterol tinggi. Lalu saya berpikir, bagaimana membuat nasi goreng yang non kolesterol. Akhirnya, saya menemukan cara itu," ujar Gunawan.

Gunawan sempat mencoba membakar nasi goreng dengan arang, tetapi hasilnya gosong. Dia lalu mencoba berbagai upaya hingga menemukan cara pembakaran dengan oksigen bertekanan tinggi pada tahun 2007. Untuk menikmati nasi goreng, kedai ini menyediakan aneka jus buah nan segar.

Kini, gerai Mr Puencheng ada di berbagai kota. Namun, karena usahanya belum berusia lima tahun, Gunawan baru membuka bussiness opportunity (semacam waralaba) kepada setiap orang yang berminat membuka gerai serupa di kotanya. Jika usahanya sudah berusia lebih dari lima tahun, baru boleh memberikan lisensi waralaba. (Amanda Putri Nugrahanti)

Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/18/15185491/nasi.goreng.bakar.mr.puencheng.semarang.