Showing posts with label Luar kota. Show all posts
Showing posts with label Luar kota. Show all posts

Harta Karun Emas Mandor, Kisah Penambangan Ratusan Tahun


KOMPAS/C WAHYU HARYO PS
Seorang warga melintas di dekat kubangan bekas penambangan emas tanpa izin di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, beberapa waktu lalu. Sebelum ada operasi penertiban yang digelar kepolisian, ribuan penambang rakyat bekerja di wilayah itu.

Penambangan

Harta Karun Emas Mandor, Kisah Penambangan Ratusan Tahun

Kamis, 17 September 2009 | 02:59 WIB

Kawasan Mandor di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, seakan ditakdirkan mewarisi ”harta karun” emas yang ditemukan lebih dari 2,5 abad yang lampau. Pengamat sosial dari Kalbar, William Chang, dalam artikelnya pernah menuliskan, seorang pengembara dan pemimpin pekerja tambang dari negeri Tiongkok bernama Lo Fong Pak, saat datang pada 1772 menyebut kawasan ini sebagai ”gunung emas”.

Riwayat eksploitasi emas di kawasan Mandor sebenarnya dimulai sejak 1740. Kala itu Raja Panembahan Mempawah Opu Daeng Manombon mendatangkan pekerja tambang dari negeri Tiongkok untuk menambang emas di sana. Sebagian emas yang diperoleh diberikan kepada pekerja tambang dan sebagian lagi diserahkan kepada raja selaku pemilik wilayah.

Melihat hasilnya begitu menggembirakan, 10 tahun kemudian Sultan Abubakar Kamaluddin dari Kerajaan Sambas di pesisir barat laut Kalimantan mengikuti langkah Raja Mempawah itu dengan mengundang belasan ribu penambang dari Tiongkok ke kawasan Monterado. Bahkan, penambang-penambang itu diberi keleluasaan untuk membuat sebuah perkumpulan atau kongsi untuk mengelola potensi emas di sana. Kongsi-kongsi penambang emas pun berjamuran di wilayah itu.

Kesultanan Pontianak yang berdiri tahun 1771 juga tertarik untuk menikmati harumnya emas di Mandor sehingga merebut wilayah itu dari kekuasaan Panembahan Mempawah pada 1789.

Kuasa eksploitasi emas atas wilayah itu tetap diberikan kepada Kongsi Lan Fong yang dibesarkan Lo Fong Pak. Penguasaan oleh kongsi itu berlangsung hampir satu abad. Saat potensi emas itu mulai menipis, penambangan emas di sana perlahan mulai ditinggalkan.

Sang waktu terus berlalu, kisah harta karun emas di Mandor pun menarik perantau dari berbagai wilayah di Kalbar untuk mencari peruntungan. Remah-remah emas yang ditemukan di wilayah itu ternyata masih menggiurkan. Eksplorasi secara sporadis pun berkembang dengan pola penambangan menggunakan mesin diesel untuk menggali lubang-lubang di tanah maupun di pinggir sungai.

Kondisi ini mengubah wajah hutan Mandor dan sungai di sekitarnya yang semula asri menjadi sarat akan kerusakan lingkungan. Beban lingkungan semakin berat manakala penambang menggunakan logam berat merkuri untuk menyatukan butiran emas.

Camat Mandor Marius Baneng mengungkapkan, saat ini ada sekitar 300 unit mesin diesel yang digunakan penambang. Jika satu mesin digunakan oleh sekitar 10-15 penambang, maka total penambang di kawasan Mandor berkisar 3.000 orang.

Aktivitas PETI di Kabupaten Landak tidak hanya ada di Kecamatan Mandor, tetapi juga di Kecamatan Kuala Behe dan Serimbu. Camat Kuala Behe Herman Masnur mengungkapkan, di wilayah itu ada sekitar 50 unit mesin diesel yang digunakan untuk menambang, di mana setiap unit menyerap 6-8 penambang.

Bupati Landak Adrianus Sidot saat dihubungi menyatakan, penambangan emas di Kabupaten Landak menjadi persoalan manakala prosedur penambangannya justru menimbulkan kerusakan lingkungan. Persoalan makin pelik karena munculnya penambangan ini berkaitan dengan urusan perut masyarakatnya.

”Upaya mengalihkan mata pencarian masyarakat ke perkebunan karet rakyat dan pertanian sudah dilakukan pemda dalam dua tahun terakhir, namun diakui upaya itu juga belum optimal karena kemampuan pemda terbatas,” katanya.

Untuk mengakomodasi penyelesaian masalah ini, pihaknya juga tengah berupaya merancang peraturan daerah tentang wilayah pertambangan rakyat (WPR). Harapannya dapat diatur wilayah mana saja yang boleh dan tidak boleh ditambang oleh rakyat. Wilayah hutan, cagar alam, serta daerah aliran sungai, misalnya, tetap tidak boleh ditambang.

Raperda diharapkan juga mengatur tentang metode penambangan dan pembuangan limbahnya sehingga tidak merusak lingkungan. Raperda ini kemungkinan masih harus menyesuaikan ketentuan undang-undang pertambangan yang baru dan dibahas beberapa pekan mendatang. (why)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/02592567/harta.karun.emas.mandor.kisah.penambangan.ratusan.tahun

Rumah Tuhan di Atas Para Dewa

Kamis, 17 September 2009 | 04:51 WIB

Dari kejauhan, bangunan ini tidak tampak seperti sebuah masjid. Layaknya sebuah masjid di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (Aceh), kubahnya berbentuk bulat atau dikenal dengan sebutan kubah bawang. Namun, hal itu tidak tampak pada keseluruhan bangunan Masjid Indrapuri.

Masjid yang terletak di Kecamatan Indrapuri, sekitar 30 menit ke arah pantai timur Aceh, tepatnya ke arah Kota Sigli, sama sekali tidak memiliki ciri khas bangunan masjid Aceh pada umumnya.

Hampir seluruh masjid di wilayah Aceh yang dibangun saat ini memiliki bentuk bangunan yang sangat mirip dengan Masjid Raya Baiturrahman, yang menjadi ikon Aceh.

Masjid ini dibangun di atas areal seluar 33.875 meter, diyakini dibangun di atas bangunan benteng pertahanan saat pendudukan Portugis dan Belanda di Aceh. Bangunan masjid yang mayoritas berkonstruksi kayu, dibangun di undakan ke empat benteng pertahanan itu.

Tengku Syafei Zamzami (64), imam masjid tersebut, ditemui di Indrapuri, akhir pekan lalu, mengatakan, banyak sejarawan yakin empat undakan di bawah undakan tertinggi yang sekarang digunakan sebagai masjid merupakan sebuah candi Hindu. Hal ini dapat dilihat dari bentuk dan relief yang ada di sekeliling bangunan.

Bahkan, salah satu sejarawan Aceh, Ali Hasjmy, yang juga merupakan mantan Gubernur Aceh, meyakini bahwa di bawah bangunan yang sekarang ini berdiri masih ada undakan-undakan lagi yang lebih luas.

Catatan sejarah yang tertuang dalam brosur Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menuliskan, fondasi masjid yang berbentuk segi empat bujur sangkar ini memiliki luas 4.447 meter persegi.

Pembatas

Bangunan berundak empat ini memiliki dinding keliling yang sekaligus menjadi pembatas antarhalaman.

Kaki dan puncak dinding dilengkapi dengan oyif atau bidang sisi genta.

Undakan keempat atau yang paling atas, yang sekarang digunakan sebagai masjid, diduga merupakan tempat kegiatan ritual umat Hindu.

Ornamen asli penghias bangunan, yang diduga berasal dari masyarakat penganut agama Hindu, telah ditutup dengan plester tebal.

Masjid yang diperkirakan dibangun pada masa kesultanan Iskandar Muda (1607-1636) ini dibangun dengan 36 umpak yang menyangga tiang kayu berdiameter 0,28 meter. Empat di antaranya merupakan saka guru atau tiang utama yang berbentuk segi delapan. Adapun 32 tiang lainnya berfungsi sebagai penyangga kerangka atap yang berbentuk tumpang.

Atap yang berbentuk tumpang inilah yang membedakan antara masjid di Aceh pada umumnya dan masjid ini. Berdasarkan catatan sejarah, hanya empat masjid di wilayah Aceh yang memiliki bentuk kubah yang sama dengan Masjid Indrapuri, yaitu Masjid Raya Baiturahman sebelum dibakar tentara Belanda (awal pendudukannya di Aceh), Masjid Indrapurwa, dan Masjid Peulanggahan.

Saat ini, bangunan yang masih memiliki kubah tumpang hanya tinggal dua, yaitu Masjid Indrapuri dan Masjid di Peulanggahan.

Bentuk kubah seperti ini lazim ditemui di Pulau Jawa, seperti Cirebon, Demak, Banten dan Kudus. Bahkan, beberapa buah masjid di Sumatera Barat juga memiliki bentuk kubah yang hampir sama dengan kubah Masjid Indrapuri.

Khawatir

Tengku Syafei mengakui bahwa saat pihak pengurus masjid membangun semacam kanopi atau pelindung di depan pintu masuk masjid yang mengha- dap ke timur, warga sekitar sempat menyatakan ketidaksukaannya.

”Mereka khawatir kami akan menghidupkan budaya Hindu lagi di masjid ini,” katanya sambil tersenyum.

Syafei, kepada para warga, menjelaskan, tahun 1940-an masjid ini sudah digunakan oleh salah satu pemuka Islam di Aceh, yaitu Abu Indrapuri (H Ahmad Hasballah) untuk memurnikan ajaran Islam.

Abu Indrapuri, kata Syafei, mendirikan dayah atau pesantren tradisional di sekeliling bangunan masjid tersebut. Nama Dayah Indrapuri pun sudah terkenal ke seluruh Nusantara, termasuk juga Malaysia dan sekitarnya.

”Bahkan, murid Abu Indrapuri ada yang berasal dari Ternate. Kalau ada yang mengatakan kami akan menghidupkan kembali budaya Hindu, itu tidak benar. Tempat ini adalah salah satu tempat memurnikan ajaran Islam,” katanya.

Jarang

Sayangnya, di saat bulan Ramadhan seperti sekarang ini, kegiatan keagamaan sangat jarang dilaksanakan di masjid ini.

Menurut Mursalin, salah satu warga, hanya kegiatan wajib, seperti shalat lima waktu, yang diadakan di sini.

Mursalin menuturkan, sekitar 10 tahun lalu, peralatan seperti kentungan masih sering digunakan untuk membangunkan warga agar sahur atau sebagai penanda waktu berbuka bagi yang berpuasa.

Sekarang, karena sudah dimakan usia, kentungan itu sama sekali sudah tidak bisa digunakan lagi. (MHD)

Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/04514358/rumah.tuhan.di.atas.para.dewa

Cinta dan Air Mata di Jantung Kalimantan

Kamis, 17 September 2009
Oleh Ambrosius Harto Manumoyoso


...hutan yang luas

sungai yang deras

menyenangkan

udara segar

senyuman manis

ingin ku bisa lebih lama di Long Alango...


Itulah penggalan lirik lagu ”Long Alango” ciptaan spontan Agustinus Gusti Nugroho atau Nugie saat penyambutan di Balai Adat Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, pertengahan Mei lalu.

Adik penyanyi Katon Bagaskara ini memang banyak membuat lagu tentang alam dan dipercaya menjadi duta kehormatan WWF Indonesia. Saat menghibur 200 warga, Nugie mengaku jatuh cinta dengan kehidupan di Bahau Hulu yang berbatasan dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia Timur.

”Hutan tropisnya seperti karpet hijau yang tebal dan tiada habisnya dilihat dari pesawat,” kata Nugie. Ia berkali-kali memuji lezatnya makanan, pedasnya sambal, kerasnya arak, tampan dan jelitanya serta keramahan warga.

Bahau Hulu berada di hulu Sungai Bahau. Di antara kecamatan berpenduduk 1.500 jiwa ini dan Sarawak dibatasi Pegunungan Belayan-Kaba, tempat mata air sungai-sungai utama Kaltim bagian utara seperti Kayan, Sesayap, dan Sembakung.

Bahau Hulu terdiri dari enam desa, yakni Long Uli, Long Tebulo, Long Alango, Long Kemuat, Long Berini, dan Apau Ping. Warganya keturunan orang (Dayak) Kenyah yang bermukim di tepi Sungai Bahau sejak 350 tahun lalu. Dalam bahasa setempat, long ialah sungai dan apau ialah perbukitan.

Bahau Hulu bagian dari Taman Nasional (TN) Kayan Mentarang yang ditunjuk Menteri Kehutanan pada 1996 seluas 1.360.500 hektar. Hutannya mengandung separuh dari 15.000 jenis tumbuhan Kalimantan, di mana 6.000 jenis di antaranya tidak ditemukan di tempat lain (endemik).

Di sana hidup 150 jenis mamalia (18 jenis endemik) atau lebih separuh dari 228 mamalia Kalimantan. Selain itu, kalangan peneliti mengidentifikasi 310 jenis burung (28 endemik tetapi terancam punah) atau hampir mendekati 361 jenis burung Kalimantan.

Semua kekayaan alam itu bisa membuat siapa pun jatuh cinta. Tidak mengherankan ketika banyak kalangan berharap keberagaman hayatinya harus dilestarikan.


KOMPAS/AMBROSIUS HARTO
Rumah peladang di Taman Nasional Kayan Mentarang di tepi Sungai Bahau, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, pertengahan Mei. Sekitar 21.000 warga memanfaatkan hasil hutan dan berladang di taman nasional yang berbatasan dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia Timur, itu.


Penerbangan terbatas

Meskipun penuh pesona, kehidupan di sana sulit dijangkau.

Long Alango saja di Bahau Hulu yang punya lapangan terbang, tetapi minim fasilitas. Landas pacu 500 meter berupa tanah berumput. Ada dua rumah panggung dari kayu di tepi landasan. Satu untuk ruang tunggu penumpang, satu lagi untuk petugas dengan radio panggil dan stok bahan bakar pesawat (avgas).

Lapangan bisa dicapai dengan berjalan kaki sekitar 40 menit dari desa. Cuma pesawat berkapasitas maksimal 290 kilogram atau berpenumpang empat orang yang bisa mendarat.

Hanya Mission Aviation Fellowship (MAF) yang rutin terbang ke Long Alango. Pesawat jenis Cessna yang mirip capung milik maskapai misionaris Kristen itu mengutamakan mengangkut orang sakit dan obat-obatan.

Penerbangan seminggu sekali selama 50 menit dari Bandar Udara Juwata, Kota Tarakan. Namun, ketika cuaca buruk, penerbangan batal. Nekat terbang berarti bunuh diri.

Staf WWF Indonesia, Malinau Arman Anang, mengatakan, tarif sewa pesawat sekali terbang Rp 6 juta sampai Rp 7 juta. Untuk itu, tiga penumpang harus merogoh kocek masing-masing minimal Rp 2 juta.

Mencapai kawasan lewat sungai amat menyiksa. Dari Samarinda, ibu kota Kaltim, perlu tiga hari mencapai Long Alango dengan biaya Rp 2 juta sampai Rp 4 juta.

Pertama, menuju ke Balikpapan sejauh 115 kilometer lewat darat selama dua sampai tiga jam. Kedua, dari Balikpapan ke Tarakan dengan pesawat Boeing atau Airbus.

Karena pesawat MAF penuh, perjalanan dilanjutkan lewat Malinau dengan perahu cepat selama tiga jam. Itu pun harus menginap karena tiba kemalaman.

Perjalanan dilanjutkan esok dengan mobil gardan ganda ke Desa Long Lejuh, Kabupaten Bulungan. Perjalanan empat jam itu bikin muntah dan pegal-pegal karena jalan rusak.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan perahu motor ke Kecamatan Pujungan selama delapan jam menyusuri Sungai Kayan dan Sungai Bahau. Itu pun harus dengan menginap di bantaran sungai penuh bebatuan karena kemalaman. Penumpang pun bolak-balik turun dan berjalan meniti tepi sungai karena perahu harus cukup ringan agar bisa melewati jeram-jeram.

Perjalanan dilanjutkan dengan perahu kecil atau ketinting dari Pujungan ke Long Alango selama lima jam dalam terpaan hujan deras dan guncangan jeram-jeram yang membahayakan jiwa. Ketinting bermesin maksimal 16 daya kuda cuma bisa memuat tiga orang yang satu di antaranya juru mesin sekaligus juru batu.

Pengharapan

Hidup di pedalaman mungkin tidak nyaman sebab selalu berhadapan dengan bahaya dan segala keterbatasan. Harga kebutuhan pokok mahal, seperti bahan bakar minyak Rp 20.000 per liter dan gula Rp 15.000 per kilogram.

Tidaklah muluk harapan warga agar dibangun sarana kesehatan, pendidikan, dan telekomunikasi memadai di setiap desa. ”Lebih baik di Long Alango bisa didarati pesawat lebih besar, bah,” kata Camat Bahau Hulu Unya Bawan. Sudah disiapkan lahan guna pembangunan landas pacu 1.200 meter sehingga bisa didarati pesawat berkapasitas 40 penumpang atau berton-ton barang.

Bila pembangunan jaringan jalan bukan pilihan demi kelestarian hutan, maka sebaiknya dibangun lapangan terbang di setiap desa. ”Kalau tidak ada pesawat, bagaimana bisa menjangkau rumah sakit terdekat dengan cepat, bah,” kata Ruben, warga Long Alango.

Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/03013214/cinta.dan.air.mata.di.jantung.kalimantan

Menjaga Taman Nasional di Beranda Negara

Kamis, 17 September 2009

Jantung amat penting bagi manusia. Untuk itu, dalam perspektif lingkungan, ”jantung ekosistem” pun vital bagi keberlangsungan suatu kawasan sehingga patut dijaga.

Indonesia, Malaysia, dan Brunei punya Jantung Kalimantan (Heart of Borneo) berupa hutan tropis di daratan tinggi tengah pulau di pedalaman sekaligus kawasan perbatasan antardaerah dan antarnegara.

Jantung Kalimantan ialah komitmen menjaga 22 juta hektar hutan tropis yang dideklarasikan ketiga negara pada Februari 2007. Indonesia menjaga 12,6 juta hektar dengan 6,1 juta hektar di Kalimantan Timur, 4,1 juta hektar di Kalimantan Barat, dan 2,4 juta hektar di Kalimantan Tengah.

Taman Nasional (TN) Kayan Mentarang di Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan, Kaltim, ialah salah satu Jantung Kalimantan. Kawasannya membentang dari timur laut ke barat laut pada Pegunungan Belayan-Kaba yang memisahkan Kaltim dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia Timur.

Kayan Mentarang pada 1980 ialah cagar alam seluas 1,6 juta hektar sesuai penunjukan Menteri Pertanian. Namun, pada 1996, Menteri Kehutanan mengubah statusnya menjadi taman nasional dengan keliling 1.058 kilometer, termasuk 448 kilometer batas antarnegara.

Di sana tempat mata air sungai-sungai utama di Kaltim bagian utara seperti Kayan, Sesayap, dan Sembakung. Di dalam dan dekat kawasan bermukim sekitar 25.000 jiwa orang keturunan (Dayak) Kenyah, Kayan, Punan, dan Lun Daye. Mereka mampu hidup selaras dengan alam berbekal pengetahuan arif sejak bermukim 350 tahun lalu.



KOMPAS/AMBROSIUS HARTO
Warga Desa Long Berini, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, menunggu rombongan yang akan diantar ke desa tersebut, pertengahan Mei. Mayoritas warga hidup dari berladang dan memanfaatkan hasil hutan, seperti rotan dan gaharu, turun-temurun dari hutan taman nasional. Mereka termasuk dalam sekitar 21.000 warga yang hidup di taman nasional.


Kearifan

Kalangan warga Kecamatan Bahau Hulu, Malinau, punya hukum adat dan pengetahuan tradisional yang mampu membuat keberagaman hayati TN Kayan Mentarang lestari. Enam desa, yakni Long Uli, Long Tebulo, Long Alango, Long Kemuat, Long Berini, dan Apau Ping punya hutan adat atau tanah ulen.

”Hasil hutan diambil terbatas cuma untuk acara dan sarana desa, bah,” kata Camat Bahau Hulu Unya Bawan di Long Alango, Kamis (20/5).

Warga berburu binatang dan mengambil tumbuhan, lanjut Unya Bawan, untuk makanan acara desa. Beberapa batang pohon boleh ditebang guna membangun fasilitas umum. ”Kebutuhan sehari-hari cukup dari ladang dan membeli, bah,” katanya.

Ruben, warga Long Alango, mengatakan, kawasan Lalut Birai yang menjadi stasiun penelitian hutan tropis termasuk dalam tanah ulen desa. ”Selain warga kami, yang ambil hasil hutan itu kena denda adat, bah,” katanya.

Staf WWF Indonesia, Malinau Arman Anang, mengatakan, Lalut Birai dibangun pada 1994. ”Karena kebaikan warga, kami dibolehkan membangun stasiun Lalut Birai yang kini dikelola swadaya oleh warga,” katanya.

Kearifan lainnya, warga Apau Ping di paling hulu Sungai Bahau, rutin membakar padang ilalang Long Tua guna menumbuhkan ilalang muda sebagai pakan banteng (Bos javanicus lowi).

Saluq Lawing, warga Long Berini, mengatakan, sebagai keturunan orang Kenyah, mereka dilarang berburu binatang secara berlebihan untuk dikonsumsi, seperti babi dan ikan.

Kekayaan

Kalimantan seluas 746.405 kilometer persegi (km) ialah pulau terbesar ketiga di dunia menurut The Ecology of Kalimantan, 1996. Terbesar ialah Greenland (2.175.600 km), Denmark. Urutan kedua ialah New Guinea, termasuk Papua dan Papua Barat di Indonesia (808.510 km).

Kayan Mentarang mengandung lebih dari separuh kekayaan hayati Borneo yang ditaksir memiliki 15.000 jenis tumbuhan. Yang 6.000 jenis di antaranya tidak ditemukan di tempat lain (endemik).

Di sana terdapat 150 jenis mamalia (18 jenis endemik) atau separuh lebih dari 228 mamalia, 310 jenis burung (28 endemik yang terancam punah) atau mendekati 361 spesies burung dan 30 jenis binatang amfibi Kalimantan.

Sejumlah mamalia atau satwa menyusui termasuk langka dan terancam punah antara lain macan dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus), dan lutung dahi putih (Presbytis frontata frontata). Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) diyakini pernah hidup, tetapi punah akibat perburuan pada 1950. Namun, keberadaan satwa itu terus dilaporkan hingga kini oleh warga yang mengaku melihat fisik atau jejak badak.

”Kekayaan hayati yang tinggi itu harus dilestarikan sehingga taman nasional akan dikelola secara kolaboratif bersama rakyat,” kata Pelaksana Tugas Kepala Balai TN Kayan Mentarang Boedi Isnaini. (BRO)

Artikel dari:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/02595277/menjaga.taman.nasional.di.beranda.negara

Jejak Mataram yang Terlupakan

Kamis, 17 September 2009

Oleh M Burhanudin

Panas sinar matahari menerpa deretan Pasar Petanahan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Senin (7/9) siang, itu. Di antara deretan toko kelontong dan pasar swalayan mini terselip bangunan toko-toko tua, yang seolah bercerita tentang jejak masa lalu tempat ini.

Petanahan terletak di jalur alternatif lintas selatan- selatan Jawa Tengah. Melalui jalur ini, pemudik bisa menghindari kemacetan akibat pelintasan KA dan sempitnya jalan di jalur utama selatan.

Bus-bus jarak jauh jurusan Jakarta-Yogyakarta biasa menggunakan jalur ini untuk menghindari antrean panjang kendaraan di jalur Kebumen-Kutoarjo.

Dari Petanahan, jalur lintas selatan-selatan membentang lurus, melewati kawasan pantai selatan hingga ke Wates, DI Yogyakarta.

Jalan cukup untuk berpapasan dua bus besar, tetapi sebagian masih berlapis aspal kasar dan bergelombang. Begitu memasuki wilayah DI Yogyakarta, jalan sempit ini menjelma menjadi jalan empat lajur selebar 24 meter beraspal mulus.

Sekilas, tak ada yang istimewa dari pusat ”kota” Petanahan. Namun, tempat ini menyimpan kisah sejarah yang telah terlupakan. ”Pasar Petanahan ini sudah sangat lama, sejak zaman Belanda,” ujar Ahmad Zaenuri (30), pedagang pisau di pasar tersebut.

Warga Petanahan hampir semuanya tahu bahwa deretan bangunan tua yang bagian depannya difungsikan sebagai toko dan belakang sebagai rumah itu milik orang-orang keturunan bangsawan asal Yogyakarta. ”Warga sini banyak yang leluhurnya dulu orang Yogyakarta. Kalau yang keturunan bangsawan, biasanya punya gelar nganten atau raden,” kata Zaenuri.

Sejarawan Banyumas, Budiono Herusatoto, dalam bukunya Banyumas (2008) mengatakan, para bangsawan asal Yogyakarta itu datang sejak zaman Sultan Agung (1613-1645) dari Mataram Islam hingga masa Perang Diponegoro (1825-1830). Ada di antara mereka yang berstatus sebagai kerabat keraton, abdi dalem, prajurit, hingga orang biasa.

Petanahan sekarang memang berada di jalur alternatif. Namun, jalur ini dulunya justru jalur utama zaman Mataram Islam. Sultan Agung pun melalui jalur ini saat menyerang VOC di Batavia tahun 1629.

Pangeran Diponegoro juga menggunakan wilayah Kebumen selatan ini sebagai basis perjuangan gerilyanya, termasuk untuk perekrutan personel. Jejak sepak terjang Diponegoro, dalam bentuk jalan- jalan setapak, masih dapat dilihat apabila menyusuri jalur Petanahan ini ke timur hingga ke wilayah Ambal.


KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Suasana di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Senin (7/9). Kecamatan tersebut terletak di jalur alternatif lintas selatan-selatan yang merupakan salah satu jalur penghubung kota-kota besar di selatan Pulau Jawa.


Wisata pantai

Jalur alternatif juga menawarkan wisata pantai selatan dengan pesona ombak yang menggelora. Sekitar dua kilometer ke arah selatan Pasar Petanahan terdapat kawasan wisata Pantai Petanahan.

Sejak tahun 1982, Pantai Petanahan telah dikembangkan sebagai obyek wisata, lengkap dengan berbagai sarana pendukung, seperti warung makan, tempat bermain anak, sampai kolam renang air tawar untuk bilas.

Pantainya sendiri masih asli, membentang lepas sepanjang sekitar lima kilometer. Pada masa bulan muda, ombaknya bisa mencapai tinggi delapan meter. Itu sebabnya, berenang di pantai akan sangat berbahaya.

Artikel dari:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/03164725/jejak.mataram.yang.terlupakan