Showing posts with label ironi. Show all posts
Showing posts with label ironi. Show all posts

SITUS SEJARAH - Situs Sindangbarang Bogor Terancam Hilang

Jumat, 23 Oktober 2009

Bogor, Kompas - Aktifnya biong (spekulan) tanah menawar lahan milik warga di Desa Pasireurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, membuat tokoh adat dan Pemerintah Kabupaten Bogor resah. Pasalnya, di desa itu terdapat banyak situs sejarah yang belum tuntas penelitiannya atau malah belum sempat diteliti.

Hal ini disampaikan Wakil Bupati Bogor Karyawan Faturachman di Cibinong, Kamis (22/10). Pihak pemerintah kabupaten sudah mengetahui maraknya transaksi tanah di Desa Pasireurih yang banyak menyimpan situs Sindangbarang Bogor.

”Memang ada perusahaan pengembang yang berencana menguasai lahan sampai ke Gunung Salak. Namun, perusahaan itu belum mengajukan secara resmi permohonan izin lokasi dan lain-lainnya. Mereka baru membangun di Kota Bogor dan berencana perluasannya sampai ke kawasan wisata di Gunung Salak,” tuturnya.

Menurut Faturachman, biasanya perusahaan membeli tanah lebih dulu, baru kemudian mengajukan permohonan izin untuk berinvestasi.

”Kami imbau agar perusahaan dan masyarakat dalam aktivitas jual beli lahan di daerah bersitus memerhatikan juga pentingnya menjaga dan melestarikan situs tersebut,” katanya.

Faturachman mengatakan, kewenangan atas situs benda cagar budaya atau sejarah berada di pemerintah pusat, yaitu Departemen Pendidikan Nasional. Selain itu, APBD pun tidak bisa mengalokasikan dana, misalnya untuk membeli lahan atau memagari lokasi situs cagar budaya.

”Kami harus memilih, uang APBD untuk pelestarian situs atau membangun gedung SD. Kami tentu saja pilih membangun gedung SD,” ujarnya.

Sejumlah warga mengungkapkan, beberapa orang kepercayaan spekulan tanah mulai menawar lahan mereka.

”Di Kampung Cibeureum sudah banyak yang menjual tanahnya. Kalau di sini, belum ada yang mau jual tanahnya,” kata Solihin, warga setempat.

Atang, warga Kampung Sindangbarang, mengaku, memang ada orang yang memintanya untuk menjadi perantara pembelian tanah penduduk di kampungnya. Di antara lahan yang jadi incaran itu, diakuinya memang terdapat banyak situs Sindangbarang yang lokasinya terpencar.

”Namun, lahan yang ada situsnya itu adalah lahan pribadi milik warga, bukan lahan pemerintah,” ujarnya.

Tokoh adat Sindangbarang Bogor, Achmad Mikami Sumawijaya, mengatakan, di Desa Pasireurih terdapat sekitar 100 lokasi situs.

”Hanya belasan yang sudah dicatat Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang,” katanya.

(RTS)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/23/04385131/situs.sindangbarang.bogor.terancam.hilang

Tak Ada Biaya Perawatan, Naskah Dijual

MANUSKRIP KUNO
Tak Ada Biaya Perawatan, Naskah Dijual

Jumat, 18 September 2009 | 04:48 WIB

Jakarta, Kompas - Karena tak ada biaya untuk perawatan, sejumlah pemilik naskah kuno cenderung menjualnya ke pedagang perantara yang masuk ke kampung. Mestinya pemerintah menyediakan dana yang memadai untuk perawatan dan penelitian naskah kuno.

”Jika anggaran pemerintah terbatas, mestinya pemerintah bisa mendorong yayasan atau perseorangan terlibat dalam penyelamatan naskah kuno,” kata filolog Suryadi, peneliti dan dosen di Leiden University, Belanda, Kamis (17/9).

Dia mencontohkan, di Inggris ada Yayasan Arcadia, yang menghimpun dana dari orang-orang kaya. Dana tersebut kemudian digunakan untuk penelitian, pelestarian, dan pemeliharaan kebudayaan tradisional, termasuk naskah kuno (manuskrip).

Secara terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Abdul Kadir Ibrahim mengungkapkan, pihak Malaysia dan Singapura sampai sekarang terus mengincar dan menawar naskah-naskah kuno yang disimpan warga di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

”Pihak pembeli berani menawarkan harga Rp 5 juta sampai Rp 20 juta per naskah kuno. Bahkan, ada naskah yang kalau mau dijual, pembeli berani dengan harga berapa pun besarnya,” katanya.

Ia menjelaskan, naskah-naskah kuno di Kota Tanjung Pinang banyak diincar, banyak terdapat naskah kuno peninggalan Kerajaan Melayu (Riau Lingga) pada tahun 1722 sampai 1911.

Sekitar 200 tahun lalu Pulau Penyegat menjadi Pusat Kerajaan Melayu, pusat perdagangan dan pusat kebudayaan Melayu. Naskah-naskah kuno berupa catatan sejarah dan budaya banyak tersimpan di kawasan tersebut.

Naskah-naskah yang banyak diincar antara lain karya-karya Raja Ali Haji, Aisyah Sulaiman Riau, Haji Ibrahim, dan Rusydiah Club. Bahkan, untuk karya berjudul Syair Kadamuddin karya Aisyah Sulaiman Riau, berapa pun harganya, pihak pembeli berani bayar.

Pemerintah Kota Tanjung Pinang, kata Abdul Kadir Ibrahim, memberikan perhatian tinggi kepada masyarakat yang masih menyimpan naskah-naskah kuno. Bahkan, ada seorang warga mempunyai koleksi sampai 50 naskah kuno. Salah satunya Kitab Pengetahuan Bahasa, karangan Raja Ali Haji, yang ditulis abad ke-19.

”Sebagian karya yang merupakan warisan budaya Melayu yang tak ternilai harganya itu disimpan di Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, yang diresmikan Januari 2009 lalu,” kata Abdul Kadir Ibrahim.

Karena keterbatasan dana perawatan dan dana pengganti bagi masyarakat yang mau menyerahkannya ke museum, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang itu berharap perhatian dari pemerintah pusat. Hal itu karena, dengan keterbatasan dana, selain naskah kuno yang ada terancam hancur atau rusak, juga dikhawatirkan bisa berpindah tangan.

Kenyataan yang sama sebelumnya juga diungkapkan Mukhlis PaEni, ahli dan peneliti naskah kuno, dalam seminar ”Strategi Kebudayaan dan Pengelolaannya”, di Jakarta. ”Manuskrip Nusantara mengalir setiap hari ke tangan pembeli naskah/manuskrip yang berani membayar paling rendah Rp 5 juta untuk jenis naskah yang apa adanya dan compang-camping hingga Rp 50 juta untuk naskah-naskah utuh bahkan lebih,” katanya.

Naskah-naskah Nusantara dari berbagai daerah kebanyakan dibawa ke Malaysia dan Singapura. (NAL)

Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/18/04483343/tak.ada.biaya.perawatan.naskah.dijual