Sidang di Rumah Mangunwijaya

Kamis, 29 Oktober 2009

Semilir angin membuat sejuk ruang pertemuan di rumah budayawan YB Mangunwijaya Pr atau Romo Mangun, Minggu (25/10). Namun, sidang bagi para penulis muda di dalamnya berlangsung panas. Seorang remaja putri sedang menjadi terdakwa tercenung, tak mampu membela diri.

Adegan tersebut terjadi dalam Pelatihan Penulisan Kreatif yang diselenggarakan Persahabatan Wartawan Cilik Yogyakarta (PWCY) dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda 2008 dan dalam rangka memaknai 80 tahun YB Mangunwijaya. Sidang yang diikuti 20 peserta berusia 10-20 tahun itu merupakan salah satu sesi pelatihan di mana beberapa naskah para peserta diulas dan dikiritik.

Dihiasi poster besar Romo Mangun yang tergantung di dinding ruangan, Zheitta Vazza Devi (18), demikian nama lengkap remaja putri itu, menerima dakwaan dan penghakiman sekaligus. Wajahnya tertunduk lesu, sembari membolak-balik naskah tulisan terbarunya yang tengah dihujani kritik para hakim merangkap jaksa. Suara cadelnya yang sesaat lalu masih terdengar nyaring menimpali, kini terdiam.

Sepintas lalu, sidang itu terlihat bukan sidang yang adil. Di hadapan 20 rekannya, Vazza, demikian remaja tunarungu itu disapa, berhadapan dengan empat orang yang telah belasan tahun bergelut di bidang sastra. Namun, dengan menilik fakta bahwa tiga novel telah dia hasilkan, wajar Vazza duduk di kursi terdakwa.

Selama sekitar 30 menit, naskah tulisan terbaru Vazza berjudul Loverpool di Love Vegas menuai kritik pedas dari para hakim. Naskah novel setebal 17 halaman itu bercerita tentang kisah nyata yang Vazza alami sebagai remaja tunarungu. Sakit hati karena ejekan atau rasa terkucil karena berbeda terangkum di dalamnya.

Kritik-kritik yang terlontar terutama berkutat pada judul yang dia pilih. "Judul ini seperti hanya mengisahkan kisah percintaan remaja, padahal isi cerita tentang penemuan jati diri. Kesannya seksi, tetapi tidak sesuai dengan naskah. Jujur saya merasa tertipu," kata John de Santo dari ASMI Santa Maria Yogyakarta, yang siang itu turut menjadi salah seorang hakim.

Sama pedasnya, Editor Galang Press AA Kunto mengatakan, judul tersebut terkesan datar dan sama sekali tidak menyampaikan pesan. Padahal, meskipun pendek, judul buku seharusnya memberi gambaran akan pesan yang ingin disampaikan.

Kunto juga mengkritisi ego Vazza yang tecermin sangat kuat dalam tulisan. Karena ego itu, tulisan terkesan berceramah dan menggurui. Sidang Vazza siang itu ditutup nasihat dan saran Kunto yang cukup mendinginkan hati yang mulai panas. "Sebagai seorang penulis, kita harus terlebih dulu menyingkirkan ego kita," salah satu nasihatnya.

Tidak seperti sidang di pengadilan, sidang ini diakhiri keakraban dari senior dan yunior-yuniornya. Tidak ada sakit hati. Sesi selanjutnya pun menjadi ajang tukar ide untuk mengembangkan gagasan tulisan para peserta. Selain Vazza, 19 peserta dalam pelatihan itu rata-rata telah menghasilkan tulisan yang telah dimuat di berbagai media massa.

"Saya malah senang karena tahu di mana letak kekurangan saya," ujar Vazza di akhir sidang.

Pil pahit

Tak salah bila sidang itu diibaratkan dengan jamu atau pil pahit. "Pahit tetapi perlu demi kebaikan peserta. Sidang seperti ini akan terus berkesan pada orang yang karyanya dikritik," tuturnya.

Menurut Sutrisno, acara dimaksudkan untuk membina para penulis muda di Yogyakarta yang mempunyai potensi besar, tetapi kurang diketahui masyarakat. Besarnya potensi ini terlihat dari banyaknya hasil tulisan yang dihasilkan. Menurut pantauan PWCY, dalam sebulan anak-anak Yogyakarta mampu menghasilkan sekitar 30-50 tulisan yang diterbitkan di berbagai media massa.

Hal itu pula yang menjadi alasan peringatan Sumpah Pemuda PWCY yang berlangsung 24-26 Oktober itu mengambil tempat di rumah Mangunwijaya. Para penulis muda ini perlu mengenal nilai-nilai tokoh yang meninggal dunia tahun 1991 sebagai sumber inspirasi.

Di rumah setengah kayu berarsitektur tropis dengan bahan material bekas yang terletak di Gang Kuwera, Jalan Gejayan, Sleman, itu para penulis muda akan bersentuhan dengan kesederhanaan Mangunwijaya.

Para penulis muda itu juga akan memperoleh sedikit gambaran, dalam proses kreatifnya, Mangunwijaya tetap bergelut dengan masyarakat di perkampungan. Di rumah itu juga terlihat banyak koleksi Mangunwijaya yang bisa dibaca. "Saya berharap, dari perkenalan pertama ini, mereka akan lebih tertarik lagi dengan Romo Mangun," ujarnya.

Sutrisno mengatakan, sebagian besar penulis muda saat ini mengangkat tema-tema gaya hidup, keluarga, maupun percintaan. Tema-tema ini minim persinggungannya dengan masalah sosial atau tema-tema yang lebih dalam. Perkenalan dengan Mangunwijaya diharapkan membentuk kepekaan sosial dan kemanusiaan yang belakangan makin langkah tumbuh di kalangan remaja. (IRE)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/11251614/sidang.di.rumah.mangunwijaya

No comments:

Post a Comment