Kamis, 17 September 2009 | 04:51 WIB
Dari kejauhan, bangunan ini tidak tampak seperti sebuah masjid. Layaknya sebuah masjid di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (Aceh), kubahnya berbentuk bulat atau dikenal dengan sebutan kubah bawang. Namun, hal itu tidak tampak pada keseluruhan bangunan Masjid Indrapuri.
Masjid yang terletak di Kecamatan Indrapuri, sekitar 30 menit ke arah pantai timur Aceh, tepatnya ke arah Kota Sigli, sama sekali tidak memiliki ciri khas bangunan masjid Aceh pada umumnya.
Hampir seluruh masjid di wilayah Aceh yang dibangun saat ini memiliki bentuk bangunan yang sangat mirip dengan Masjid Raya Baiturrahman, yang menjadi ikon Aceh.
Masjid ini dibangun di atas areal seluar 33.875 meter, diyakini dibangun di atas bangunan benteng pertahanan saat pendudukan Portugis dan Belanda di Aceh. Bangunan masjid yang mayoritas berkonstruksi kayu, dibangun di undakan ke empat benteng pertahanan itu.
Tengku Syafei Zamzami (64), imam masjid tersebut, ditemui di Indrapuri, akhir pekan lalu, mengatakan, banyak sejarawan yakin empat undakan di bawah undakan tertinggi yang sekarang digunakan sebagai masjid merupakan sebuah candi Hindu. Hal ini dapat dilihat dari bentuk dan relief yang ada di sekeliling bangunan.
Bahkan, salah satu sejarawan Aceh, Ali Hasjmy, yang juga merupakan mantan Gubernur Aceh, meyakini bahwa di bawah bangunan yang sekarang ini berdiri masih ada undakan-undakan lagi yang lebih luas.
Catatan sejarah yang tertuang dalam brosur Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menuliskan, fondasi masjid yang berbentuk segi empat bujur sangkar ini memiliki luas 4.447 meter persegi.
Pembatas
Bangunan berundak empat ini memiliki dinding keliling yang sekaligus menjadi pembatas antarhalaman.
Kaki dan puncak dinding dilengkapi dengan oyif atau bidang sisi genta.
Undakan keempat atau yang paling atas, yang sekarang digunakan sebagai masjid, diduga merupakan tempat kegiatan ritual umat Hindu.
Ornamen asli penghias bangunan, yang diduga berasal dari masyarakat penganut agama Hindu, telah ditutup dengan plester tebal.
Masjid yang diperkirakan dibangun pada masa kesultanan Iskandar Muda (1607-1636) ini dibangun dengan 36 umpak yang menyangga tiang kayu berdiameter 0,28 meter. Empat di antaranya merupakan saka guru atau tiang utama yang berbentuk segi delapan. Adapun 32 tiang lainnya berfungsi sebagai penyangga kerangka atap yang berbentuk tumpang.
Atap yang berbentuk tumpang inilah yang membedakan antara masjid di Aceh pada umumnya dan masjid ini. Berdasarkan catatan sejarah, hanya empat masjid di wilayah Aceh yang memiliki bentuk kubah yang sama dengan Masjid Indrapuri, yaitu Masjid Raya Baiturahman sebelum dibakar tentara Belanda (awal pendudukannya di Aceh), Masjid Indrapurwa, dan Masjid Peulanggahan.
Saat ini, bangunan yang masih memiliki kubah tumpang hanya tinggal dua, yaitu Masjid Indrapuri dan Masjid di Peulanggahan.
Bentuk kubah seperti ini lazim ditemui di Pulau Jawa, seperti Cirebon, Demak, Banten dan Kudus. Bahkan, beberapa buah masjid di Sumatera Barat juga memiliki bentuk kubah yang hampir sama dengan kubah Masjid Indrapuri.
Khawatir
Tengku Syafei mengakui bahwa saat pihak pengurus masjid membangun semacam kanopi atau pelindung di depan pintu masuk masjid yang mengha- dap ke timur, warga sekitar sempat menyatakan ketidaksukaannya.
”Mereka khawatir kami akan menghidupkan budaya Hindu lagi di masjid ini,” katanya sambil tersenyum.
Syafei, kepada para warga, menjelaskan, tahun 1940-an masjid ini sudah digunakan oleh salah satu pemuka Islam di Aceh, yaitu Abu Indrapuri (H Ahmad Hasballah) untuk memurnikan ajaran Islam.
Abu Indrapuri, kata Syafei, mendirikan dayah atau pesantren tradisional di sekeliling bangunan masjid tersebut. Nama Dayah Indrapuri pun sudah terkenal ke seluruh Nusantara, termasuk juga Malaysia dan sekitarnya.
”Bahkan, murid Abu Indrapuri ada yang berasal dari Ternate. Kalau ada yang mengatakan kami akan menghidupkan kembali budaya Hindu, itu tidak benar. Tempat ini adalah salah satu tempat memurnikan ajaran Islam,” katanya.
Jarang
Sayangnya, di saat bulan Ramadhan seperti sekarang ini, kegiatan keagamaan sangat jarang dilaksanakan di masjid ini.
Menurut Mursalin, salah satu warga, hanya kegiatan wajib, seperti shalat lima waktu, yang diadakan di sini.
Mursalin menuturkan, sekitar 10 tahun lalu, peralatan seperti kentungan masih sering digunakan untuk membangunkan warga agar sahur atau sebagai penanda waktu berbuka bagi yang berpuasa.
Sekarang, karena sudah dimakan usia, kentungan itu sama sekali sudah tidak bisa digunakan lagi. (MHD)
Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/04514358/rumah.tuhan.di.atas.para.dewa
Mencari Hening di Ujung Ramadhan
Kamis, 17 September 2009
Rabu (16/9) pukul 01.30, Nessa berwudu di lantai dasar Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Di masjid megah yang dirancang arsitek Friedrich Silaban itu, Nessa berniat shalat malam, mengaji, dan berzikir.
”Tadi saya habis dari belakang, makanya wudu lagi. Sebenarnya ingin juga itikaf sepanjang 10 hari terakhir puasa seperti disunahkan. Tetapi, saya masih harus menyelesaikan tugas kampus. Jadi, ambil malam hari saja,” ujar mahasiswa asal Bima, Nusa Tenggara Barat, ini.
Sudah tiga tahun terakhir ia rutin ke Istiqlal untuk shalat malam pada bulan Ramadhan. ”Awalnya, saya datang karena janji pahala bagi mereka yang beribadah di 10 hari terakhir Ramadhan. Sekarang, saya ke sini karena ingin mencari ketenangan. Zikir, mengaji, dan shalat malam dengan khusyuk membuat saya tenang. Soal pahala, itu urusan nanti sajalah,” ungkapnya.
Merdeka
Sebelum ke Istiqlal, ia tidur dulu di tempat kosnya di kawasan Cawang. Tengah malam ia ke masjid utama itu. ”Ibadah paling enak itu di tempat yang benar-benar tak ada orang yang dikenal. Tak ada gangguan untuk bertegur sapa. Bukan karena sombong, tapi karena ingin menyediakan waktu untuk diri sendiri dulu,” ujarnya.
Pengunjung Istiqlal lain malam itu, Zulham, datang bersama istri, anak, dan tiga cucunya. Rombongan itu datang sekitar pukul 01.40 saat shalat malam berjemaah sudah dimulai.
Ia sengaja mengajak cucu yang masih berumur balita agar terbiasa beribadah sejak kecil. Memang, saat ini para anak balita itu lebih sibuk bermain di masjid. ”Kadang, mereka menirukan gerakan orang berzikir setelah itu main lagi. Tidak apa-apa, namanya juga masih anak-anak,” ujarnya.
Dengan zikir, mengaji, shalat, dan berdiam diri untuk merenung di masjid, yang namanya berarti merdeka itu, mereka mengharapkan kemerdekaan dari berbagai dosa dan sifat buruk pada hari kemenangan nanti. (KRIS R MADA)
Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/0318173/mencari.hening.di.ujung.ramadhan
Rabu (16/9) pukul 01.30, Nessa berwudu di lantai dasar Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Di masjid megah yang dirancang arsitek Friedrich Silaban itu, Nessa berniat shalat malam, mengaji, dan berzikir.
”Tadi saya habis dari belakang, makanya wudu lagi. Sebenarnya ingin juga itikaf sepanjang 10 hari terakhir puasa seperti disunahkan. Tetapi, saya masih harus menyelesaikan tugas kampus. Jadi, ambil malam hari saja,” ujar mahasiswa asal Bima, Nusa Tenggara Barat, ini.
Sudah tiga tahun terakhir ia rutin ke Istiqlal untuk shalat malam pada bulan Ramadhan. ”Awalnya, saya datang karena janji pahala bagi mereka yang beribadah di 10 hari terakhir Ramadhan. Sekarang, saya ke sini karena ingin mencari ketenangan. Zikir, mengaji, dan shalat malam dengan khusyuk membuat saya tenang. Soal pahala, itu urusan nanti sajalah,” ungkapnya.
Merdeka
Sebelum ke Istiqlal, ia tidur dulu di tempat kosnya di kawasan Cawang. Tengah malam ia ke masjid utama itu. ”Ibadah paling enak itu di tempat yang benar-benar tak ada orang yang dikenal. Tak ada gangguan untuk bertegur sapa. Bukan karena sombong, tapi karena ingin menyediakan waktu untuk diri sendiri dulu,” ujarnya.
Pengunjung Istiqlal lain malam itu, Zulham, datang bersama istri, anak, dan tiga cucunya. Rombongan itu datang sekitar pukul 01.40 saat shalat malam berjemaah sudah dimulai.
Ia sengaja mengajak cucu yang masih berumur balita agar terbiasa beribadah sejak kecil. Memang, saat ini para anak balita itu lebih sibuk bermain di masjid. ”Kadang, mereka menirukan gerakan orang berzikir setelah itu main lagi. Tidak apa-apa, namanya juga masih anak-anak,” ujarnya.
Dengan zikir, mengaji, shalat, dan berdiam diri untuk merenung di masjid, yang namanya berarti merdeka itu, mereka mengharapkan kemerdekaan dari berbagai dosa dan sifat buruk pada hari kemenangan nanti. (KRIS R MADA)
Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/0318173/mencari.hening.di.ujung.ramadhan
Mudik Kultural dan Spiritual
Kamis, 17 September 2009 | 15:27 WIB
Oleh Sukron Ma'mun
Satu pemandangan yang tampaknya tidak akan hilang pada setiap menjelang Lebaran adalah tradisi mudik. Mudik memang telah menjadi tradisi yang berlangsung lama dalam kultur masyarakat Indonesia pada setiap tahunnya. Para pemudik adalah mereka yang hijrah ke kota, daerah lain, bahkan negara lain, untuk bertemu kembali dengan keluarga, sanak saudara, kerabat, dan sabahat.
Tradisi mudik bukan hanya erat kaitannya dengan perayaan Idul Fitri, melainkan juga erat kaitannya dengan berbagai dimensi kehidupan manusia. Paling tidak ada tiga dimensi yang dapat kita amati dalam tradisi mudik. Pertama, mudik memiliki dimensi spiritual- kultural. Mudik dianggap sebagai tradisi warisan yang dimiliki sebagian besar masyarakat Jawa. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Umar Kayam (2002) bahwa tradisi mudik terkait dengan kebiasaaan petani Jawa mengunjungi tanah kelahiran untuk berziarah ke makam para leluhur.
Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, kehidupan duniawi tidak dapat dilepaskan dari kehidupan nanti di alam keabadian. Begitu pula ikatan batin antara yang hidup dan yang mati tidak begitu saja lepas oleh hilangnya nyawa di jasad. Oleh karena itu, mereka menganggap bahwa berziarah dan mendoakan leluhur adalah kewajiban. Karena itu muncullah tradisi berziarah dalam kurun waktu tertentu meskipun dipisahkan oleh kondisi geografis. Nilai spiritual yang tertanam dalam tradisi berziarah inilah yang kemudian berdialektika dengan kultur masyarakat yang kemudian melahirkan tradisi mudik.
Kedua, mudik memiliki dimensi psikologis. Pulang ke kampung halaman bagi para pemudik bukan hanya sebatas untuk merayakan Lebaran bersama keluarga, tetapi juga untuk menghilangkan kepenatan beban kerja. Kerasnya kehidupan kota, bisingnya kota, dan berbagai tekanan kerja lainnya membuat para migran ini mengalami stres di tempat kerja, sementara keluarga yang menjadi tempat berbagi rasa jauh darinya.
Tenangnya suasana kampung halaman, sejuknya alam pedesaan, ramahnya keluarga dan kerabat menjadi alasan yang tidak dapat ditolak untuk tidak mudik. Nostalgia kehidupan keluarga di kampung halaman juga menjadi salah satu obat mujarab untuk menghilangkan stres bagi masyarakat migran kota.
Ketiga, dimensi sosial. Menjadi migran kota dengan setumpuk cerita keberhasilan merupakan sebuah kebanggaan. Mudik menjadi salah satu media untuk mengomunikasikan cerita keberhasilan sekaligus menaikkan posisinya pada strata sosial yang lebih tinggi dari sebelumnya. Cerita sukses hidup di rantau biasanya diwujudkan dalam berbagai bentuk aksesoris dan gaya hidup para migran di tanah kelahiran. Tak pelak pada kondisi terakhir ini mudik juga menjadi media penyalur watak konsumeris dan hedonis.
Menuju spiritual
Dalam catatan Umar Kayam, mudik sejatinya tradisi lama yang pernah menghilang. Sejak Islam datang mulai terkikisnya budaya syirik, ziarah menemukan momentum saat Lebaran. Apalagi kultur Jawa yang kemudian diterima oleh kalangan Islam tradisional menghasilkan akulturasi budaya yang harmoni. Perlahan ziarah kubur yang dianggap sebagai syirik dapat diterima oleh kalangan tradisional dengan disisipi ajaran agama. Mudik pun menjadi salah satu tradisi spiritual bagi masyarakat untuk melakukan ziarah ke makam leluhur.
Sayangnya tradisi mudik yang demikian kemudian luntur lantaran niat mudik hanya untuk sekadar kelangenan (kesenangan), menghamburkan uang, menunjukkan sikap konsumeris dan hedonis. Akibatnya, mudik selalu menjadi persoalan, terutama terkait dengan kemacetan, kecelakaan, kriminalitas jalanan, percaloan, dan kenyamanan transportasi.
Mudik dalam arti spiritual jarang dilakukan karena ia tidak banyak memberi kepuasan bagi para pemudik. Padahal tradisi mudik yang selama ini terjadi, jika dikaitkan dengan tradisi Lebaran, jauh dari spirit yang mestinya dibangun. Hal ini merupakan sebuah kewajaran karena nilai-nilai spiritual lebih bersifat abstrak dan tidak dapat dirasakan oleh orang lain.
Said Aqiel Siradj (2006) menegaskan bahwa makna tradisi Lebaran sebenarnya menyemai spirit spiritual-vertikal. Dalam arti orang-orang yang merayakan harus kembali pada kefitrian (kesucian) jati diri kemanusiannya sebagai hamba Tuhan. Hal ini terkait dengan ibadah puasa yang dilakukan selama satu bulan penuh.
Spiritual-vertikal manusia ditempuh dengan ibadah dan akan sempurna jika dilanjutkan pada kesalehan sosial-horizontal. Silaturahim menjadi wujud konkret dalam hal ini. Mudik seharusnya dimaknai dengan menyambung hubungan spiritual dengan para leluhur dan menyambut tali silaturahim dengan keluarga, saudara, kerabat, dan sahabat. Bukan untuk kepentingan prestise sosial ataupun kepentingan material lainnya.
Sukron Ma'mun Penulis adalah Pemerhati Sosial Keagamaan, Alumnus S2 Sosiologi Yogyakarta
Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/15271021/mudik.kultural.dan.spiritual.
Oleh Sukron Ma'mun
Satu pemandangan yang tampaknya tidak akan hilang pada setiap menjelang Lebaran adalah tradisi mudik. Mudik memang telah menjadi tradisi yang berlangsung lama dalam kultur masyarakat Indonesia pada setiap tahunnya. Para pemudik adalah mereka yang hijrah ke kota, daerah lain, bahkan negara lain, untuk bertemu kembali dengan keluarga, sanak saudara, kerabat, dan sabahat.
Tradisi mudik bukan hanya erat kaitannya dengan perayaan Idul Fitri, melainkan juga erat kaitannya dengan berbagai dimensi kehidupan manusia. Paling tidak ada tiga dimensi yang dapat kita amati dalam tradisi mudik. Pertama, mudik memiliki dimensi spiritual- kultural. Mudik dianggap sebagai tradisi warisan yang dimiliki sebagian besar masyarakat Jawa. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Umar Kayam (2002) bahwa tradisi mudik terkait dengan kebiasaaan petani Jawa mengunjungi tanah kelahiran untuk berziarah ke makam para leluhur.
Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, kehidupan duniawi tidak dapat dilepaskan dari kehidupan nanti di alam keabadian. Begitu pula ikatan batin antara yang hidup dan yang mati tidak begitu saja lepas oleh hilangnya nyawa di jasad. Oleh karena itu, mereka menganggap bahwa berziarah dan mendoakan leluhur adalah kewajiban. Karena itu muncullah tradisi berziarah dalam kurun waktu tertentu meskipun dipisahkan oleh kondisi geografis. Nilai spiritual yang tertanam dalam tradisi berziarah inilah yang kemudian berdialektika dengan kultur masyarakat yang kemudian melahirkan tradisi mudik.
Kedua, mudik memiliki dimensi psikologis. Pulang ke kampung halaman bagi para pemudik bukan hanya sebatas untuk merayakan Lebaran bersama keluarga, tetapi juga untuk menghilangkan kepenatan beban kerja. Kerasnya kehidupan kota, bisingnya kota, dan berbagai tekanan kerja lainnya membuat para migran ini mengalami stres di tempat kerja, sementara keluarga yang menjadi tempat berbagi rasa jauh darinya.
Tenangnya suasana kampung halaman, sejuknya alam pedesaan, ramahnya keluarga dan kerabat menjadi alasan yang tidak dapat ditolak untuk tidak mudik. Nostalgia kehidupan keluarga di kampung halaman juga menjadi salah satu obat mujarab untuk menghilangkan stres bagi masyarakat migran kota.
Ketiga, dimensi sosial. Menjadi migran kota dengan setumpuk cerita keberhasilan merupakan sebuah kebanggaan. Mudik menjadi salah satu media untuk mengomunikasikan cerita keberhasilan sekaligus menaikkan posisinya pada strata sosial yang lebih tinggi dari sebelumnya. Cerita sukses hidup di rantau biasanya diwujudkan dalam berbagai bentuk aksesoris dan gaya hidup para migran di tanah kelahiran. Tak pelak pada kondisi terakhir ini mudik juga menjadi media penyalur watak konsumeris dan hedonis.
Menuju spiritual
Dalam catatan Umar Kayam, mudik sejatinya tradisi lama yang pernah menghilang. Sejak Islam datang mulai terkikisnya budaya syirik, ziarah menemukan momentum saat Lebaran. Apalagi kultur Jawa yang kemudian diterima oleh kalangan Islam tradisional menghasilkan akulturasi budaya yang harmoni. Perlahan ziarah kubur yang dianggap sebagai syirik dapat diterima oleh kalangan tradisional dengan disisipi ajaran agama. Mudik pun menjadi salah satu tradisi spiritual bagi masyarakat untuk melakukan ziarah ke makam leluhur.
Sayangnya tradisi mudik yang demikian kemudian luntur lantaran niat mudik hanya untuk sekadar kelangenan (kesenangan), menghamburkan uang, menunjukkan sikap konsumeris dan hedonis. Akibatnya, mudik selalu menjadi persoalan, terutama terkait dengan kemacetan, kecelakaan, kriminalitas jalanan, percaloan, dan kenyamanan transportasi.
Mudik dalam arti spiritual jarang dilakukan karena ia tidak banyak memberi kepuasan bagi para pemudik. Padahal tradisi mudik yang selama ini terjadi, jika dikaitkan dengan tradisi Lebaran, jauh dari spirit yang mestinya dibangun. Hal ini merupakan sebuah kewajaran karena nilai-nilai spiritual lebih bersifat abstrak dan tidak dapat dirasakan oleh orang lain.
Said Aqiel Siradj (2006) menegaskan bahwa makna tradisi Lebaran sebenarnya menyemai spirit spiritual-vertikal. Dalam arti orang-orang yang merayakan harus kembali pada kefitrian (kesucian) jati diri kemanusiannya sebagai hamba Tuhan. Hal ini terkait dengan ibadah puasa yang dilakukan selama satu bulan penuh.
Spiritual-vertikal manusia ditempuh dengan ibadah dan akan sempurna jika dilanjutkan pada kesalehan sosial-horizontal. Silaturahim menjadi wujud konkret dalam hal ini. Mudik seharusnya dimaknai dengan menyambung hubungan spiritual dengan para leluhur dan menyambut tali silaturahim dengan keluarga, saudara, kerabat, dan sahabat. Bukan untuk kepentingan prestise sosial ataupun kepentingan material lainnya.
Sukron Ma'mun Penulis adalah Pemerhati Sosial Keagamaan, Alumnus S2 Sosiologi Yogyakarta
Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/15271021/mudik.kultural.dan.spiritual.
Mitos Organik dalam Era Pertanian Modern
Jumat, 18 September 2009
Oleh Didiek Hadjar Goenadi

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Pekerja mengemas pupuk cair organik dalam botol 1 liter di pabrik PT Sang Hyang Seri (Persero) di Dusun Lusah, Desa Prawatan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, awal Juni lalu. Kapasitas produksi di pabrik ini mencapai 65.000 liter per bulan.
Impian petani dan pendukung kaum tani di dalam melepaskan diri dari jeratan teknologi kapitalis tampak akan terpenuhi dengan mulai maraknya praktik pertanian dengan input produksi organik.
Di tengah optimisme dan semangat mewujudkan impian tersebut, kekhawatiran muncul bahwa mimpi tersebut akan tetap menjadi mimpi ketika terlalu besar harapan, yang kemudian memunculkan mitos.
Tanpa perhatian yang penuh, mitos ini akan menisbikan program bantuan pemerintah kepada petani, khususnya ketika pasar tidak melihat upaya ini sesuatu yang pantas mendapat premi.
Departemen Pertanian Amerika Serikat pada 1997 mendefinisikan pertanian organik sebagai sebuah sistem manajemen produksi berbasis agroekologi yang memacu dan mendorong keanekaragaman hayati, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah.
Praktiknya adalah penggunaan input luar-lahan minimal dan upaya memperkaya, mempertahankan, serta meningkatkan keharmonisan ekologi. Menurut Organisasi Pangan Dunia (FAO), tujuan utamanya adalah mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas dari komunitas yang saling berketergantungan antara kehidupan dalam tanah, hewan, dan manusia.
Klaim atau doktrin yang banyak dianut oleh pelaku paham pertanian organik adalah bahwa organik lebih sehat daripada input kimia seolah ingin memanfaatkan momentum prevalensi pasar yang menuntut bahan makanan yang tidak mengandung unsur-unsur pemicu penyakit serius.
Dalam beberapa tahun terakhir pikiran konsumen secara sukarela dibawa oleh doktrin tersebut walaupun ada banyak kejanggalan dalam logika berpikir para penganut aliran pertanian organik.
Bukti sukses
Sebuah penelitian jangka panjang di Universitas Cornell memberikan gambaran menakjubkan tentang hasil pengamatan selama 22 tahun. Dibuktikan bahwa secara keseluruhan produksi jagung dan kedelai dari perlakuan pertanian organik relatif sama dengan pertanian konvensional yang menggunakan pupuk kimia buatan.
Keuntungannya adalah bahwa pertanian organik menghemat konsumsi energi (bahan bakar minyak) sebesar 30 persen, menahan air lebih lama di musim kering, dan tidak memerlukan pestisida. Namun, hasil yang diperoleh pada empat tahun pertama produksinya 33 persen lebih rendah daripada perlakuan konvensional.
Setelah bahan organik terkumpul di dalam tanah, sejak tahun kelima produksinya mulai sama atau lebih tinggi daripada konvensional, terutama karena lebih tahan selama musim kering.
Dilaporkan pula bahwa pertanian organik mampu menyerap dan menahan karbon (C) sehingga sangat bermanfaat dalam mitigasi pemanasan global. Kandungan bahan organik tanah naik 15-28 persen yang setara dengan 1.500 kilogram CO dari udara.
Walaupun biaya produksi pada sistem pertanian organik 15 persen lebih tinggi daripada konvensional, dengan harga yang cukup baik pada tanaman sereal kenaikan ini tidak terlalu menjadi masalah. Sebaliknya, sistem pertanian organik tidak mampu memberikan keuntungan untuk tanaman anggur, apel, ceri, dan umbi-umbian.
Beberapa keberhasilan sejenis juga dilaporkan di Afrika, India, dan China. Namun, hasil-hasil tersebut masih menimbulkan pro dan kontra, terutama dari para ahli ilmu tanah yang tidak bisa menerima alasan bahwa hal tersebut semata-mata akibat organik versus kimia.
Mitos pertanian organik
Keberhasilan input organik dengan menggeser peran input kimia sebagai sebuah monumen inovasi dari Revolusi Hijau 60 tahun yang lalu semula dipandang sebelah mata oleh para ilmuwan ilmu tanah yang memahami dengan baik hubungan tanah dengan tanaman.
Namun, ketika gejala yang berkembang, khususnya di Amerika Serikat, makin mengkhawatirkan, beberapa pendapat mulai bermunculan. Salah satunya adalah yang diuraikan oleh Throckmorton (2007), seorang dekan dari Kansas State College.
Keberatannya terhadap doktrin pertanian organik adalah bahwa tidak mungkin peran pupuk kimia digantikan sepenuhnya oleh pupuk organik. Pertama, jika hal itu mungkin, dunia akan kekurangan biomassa untuk produksi pupuk organik karena dosisnya luar biasa besarnya.
Kedua, tanaman tidak hanya ditentukan oleh humus saja, tetapi oleh faktor-faktor lain seperti bahan organik aktif, nutrisi mineral tersedia, aktivitas mikroba tanah, aktivitas kimia dalam larutan tanah, dan kondisi fisik tanah.
Bahan organik tanah memang sering disebut sebagai ”nyawa dari tanah” sebagai ekspresi dari perannya mendukung aktivitas mikroba tanah. Peran lain dari bahan ini memang diakui penting, tetapi bukan satu-satunya, dalam pelarutan hara, pembenah tanah, dan kapasitas menahan air.
Fakta lain adalah bahwa bahan organik mengandung nutrisi tanaman sangat kecil. Klaim bahwa nutrisi asal bahan organik (kompos, pupuk organik) lebih ”alami” dibandingkan asal pupuk kimia sangat tidak masuk akal, apalagi dihubungkan dengan kesehatan manusia.
Bukti empiris menunjukkan bahwa pada tanah organik (kadar bahan organik sangat tinggi) percobaan gandum, kentang, dan kubis di Amerika Serikat pada yang dipupuk
kimia buatan mencapai 5-54 kali lebih besar daripada yang tidak dipupuk kimia. Satu bukti lain bahwa organik bukan satu-satunya unsur utama dalam produksi tanaman adalah pada sistem hidroponik.
Kebijakan pemerintah, seperti Go Organic 2010, penerbitan SNI Sistem Pangan Organik (01-6729-2002), dan subsidi pupuk organik merupakan langkah-langkah konkret yang perlu diawasi implementasinya. Di samping itu, pertimbangan yang mendalam perlu dilakukan dengan memerhatikan dampak krisis keuangan 2008.
Daya beli masyarakat menurun, seperti yang dilaporkan di Inggris, berdampak stagnasi pada pertumbuhan produk pertanian organik pada tingkat 2 persen. Konsumen yang mengutamakan rupa daripada rasa juga tidak mudah berubah ke produk organik.
Di sisi lain, kemampuan produksi input organik untuk menopang produktivitas pangan yang dibutuhkan jauh dari memadai akibat keterbatasan dan terpencarnya bahan baku. Untuk itu, mitos-mitos yang terkait dengan produk organik harus dihapus dan diberikan pemahaman yang benar kepada petani.
Kombinasi optimal antara input anorganik dan organik akan mampu memenuhi persyaratan berbagai pihak, baik teknis, ekonomi, lingkungan, maupun kesehatan konsumen.
Didiek Hadjar Goenadi Anggota Bidang Agribisnis- Komite Penanaman Modal, BKPM, dan Ketua Umun Asosiasi Inventor Indonesia
Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/18/02540631/mitos.organik.dalam.era.pertanian.modern
Oleh Didiek Hadjar Goenadi
KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Pekerja mengemas pupuk cair organik dalam botol 1 liter di pabrik PT Sang Hyang Seri (Persero) di Dusun Lusah, Desa Prawatan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, awal Juni lalu. Kapasitas produksi di pabrik ini mencapai 65.000 liter per bulan.
Impian petani dan pendukung kaum tani di dalam melepaskan diri dari jeratan teknologi kapitalis tampak akan terpenuhi dengan mulai maraknya praktik pertanian dengan input produksi organik.
Di tengah optimisme dan semangat mewujudkan impian tersebut, kekhawatiran muncul bahwa mimpi tersebut akan tetap menjadi mimpi ketika terlalu besar harapan, yang kemudian memunculkan mitos.
Tanpa perhatian yang penuh, mitos ini akan menisbikan program bantuan pemerintah kepada petani, khususnya ketika pasar tidak melihat upaya ini sesuatu yang pantas mendapat premi.
Departemen Pertanian Amerika Serikat pada 1997 mendefinisikan pertanian organik sebagai sebuah sistem manajemen produksi berbasis agroekologi yang memacu dan mendorong keanekaragaman hayati, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah.
Praktiknya adalah penggunaan input luar-lahan minimal dan upaya memperkaya, mempertahankan, serta meningkatkan keharmonisan ekologi. Menurut Organisasi Pangan Dunia (FAO), tujuan utamanya adalah mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas dari komunitas yang saling berketergantungan antara kehidupan dalam tanah, hewan, dan manusia.
Klaim atau doktrin yang banyak dianut oleh pelaku paham pertanian organik adalah bahwa organik lebih sehat daripada input kimia seolah ingin memanfaatkan momentum prevalensi pasar yang menuntut bahan makanan yang tidak mengandung unsur-unsur pemicu penyakit serius.
Dalam beberapa tahun terakhir pikiran konsumen secara sukarela dibawa oleh doktrin tersebut walaupun ada banyak kejanggalan dalam logika berpikir para penganut aliran pertanian organik.
Bukti sukses
Sebuah penelitian jangka panjang di Universitas Cornell memberikan gambaran menakjubkan tentang hasil pengamatan selama 22 tahun. Dibuktikan bahwa secara keseluruhan produksi jagung dan kedelai dari perlakuan pertanian organik relatif sama dengan pertanian konvensional yang menggunakan pupuk kimia buatan.
Keuntungannya adalah bahwa pertanian organik menghemat konsumsi energi (bahan bakar minyak) sebesar 30 persen, menahan air lebih lama di musim kering, dan tidak memerlukan pestisida. Namun, hasil yang diperoleh pada empat tahun pertama produksinya 33 persen lebih rendah daripada perlakuan konvensional.
Setelah bahan organik terkumpul di dalam tanah, sejak tahun kelima produksinya mulai sama atau lebih tinggi daripada konvensional, terutama karena lebih tahan selama musim kering.
Dilaporkan pula bahwa pertanian organik mampu menyerap dan menahan karbon (C) sehingga sangat bermanfaat dalam mitigasi pemanasan global. Kandungan bahan organik tanah naik 15-28 persen yang setara dengan 1.500 kilogram CO dari udara.
Walaupun biaya produksi pada sistem pertanian organik 15 persen lebih tinggi daripada konvensional, dengan harga yang cukup baik pada tanaman sereal kenaikan ini tidak terlalu menjadi masalah. Sebaliknya, sistem pertanian organik tidak mampu memberikan keuntungan untuk tanaman anggur, apel, ceri, dan umbi-umbian.
Beberapa keberhasilan sejenis juga dilaporkan di Afrika, India, dan China. Namun, hasil-hasil tersebut masih menimbulkan pro dan kontra, terutama dari para ahli ilmu tanah yang tidak bisa menerima alasan bahwa hal tersebut semata-mata akibat organik versus kimia.
Mitos pertanian organik
Keberhasilan input organik dengan menggeser peran input kimia sebagai sebuah monumen inovasi dari Revolusi Hijau 60 tahun yang lalu semula dipandang sebelah mata oleh para ilmuwan ilmu tanah yang memahami dengan baik hubungan tanah dengan tanaman.
Namun, ketika gejala yang berkembang, khususnya di Amerika Serikat, makin mengkhawatirkan, beberapa pendapat mulai bermunculan. Salah satunya adalah yang diuraikan oleh Throckmorton (2007), seorang dekan dari Kansas State College.
Keberatannya terhadap doktrin pertanian organik adalah bahwa tidak mungkin peran pupuk kimia digantikan sepenuhnya oleh pupuk organik. Pertama, jika hal itu mungkin, dunia akan kekurangan biomassa untuk produksi pupuk organik karena dosisnya luar biasa besarnya.
Kedua, tanaman tidak hanya ditentukan oleh humus saja, tetapi oleh faktor-faktor lain seperti bahan organik aktif, nutrisi mineral tersedia, aktivitas mikroba tanah, aktivitas kimia dalam larutan tanah, dan kondisi fisik tanah.
Bahan organik tanah memang sering disebut sebagai ”nyawa dari tanah” sebagai ekspresi dari perannya mendukung aktivitas mikroba tanah. Peran lain dari bahan ini memang diakui penting, tetapi bukan satu-satunya, dalam pelarutan hara, pembenah tanah, dan kapasitas menahan air.
Fakta lain adalah bahwa bahan organik mengandung nutrisi tanaman sangat kecil. Klaim bahwa nutrisi asal bahan organik (kompos, pupuk organik) lebih ”alami” dibandingkan asal pupuk kimia sangat tidak masuk akal, apalagi dihubungkan dengan kesehatan manusia.
Bukti empiris menunjukkan bahwa pada tanah organik (kadar bahan organik sangat tinggi) percobaan gandum, kentang, dan kubis di Amerika Serikat pada yang dipupuk
kimia buatan mencapai 5-54 kali lebih besar daripada yang tidak dipupuk kimia. Satu bukti lain bahwa organik bukan satu-satunya unsur utama dalam produksi tanaman adalah pada sistem hidroponik.
Kebijakan pemerintah, seperti Go Organic 2010, penerbitan SNI Sistem Pangan Organik (01-6729-2002), dan subsidi pupuk organik merupakan langkah-langkah konkret yang perlu diawasi implementasinya. Di samping itu, pertimbangan yang mendalam perlu dilakukan dengan memerhatikan dampak krisis keuangan 2008.
Daya beli masyarakat menurun, seperti yang dilaporkan di Inggris, berdampak stagnasi pada pertumbuhan produk pertanian organik pada tingkat 2 persen. Konsumen yang mengutamakan rupa daripada rasa juga tidak mudah berubah ke produk organik.
Di sisi lain, kemampuan produksi input organik untuk menopang produktivitas pangan yang dibutuhkan jauh dari memadai akibat keterbatasan dan terpencarnya bahan baku. Untuk itu, mitos-mitos yang terkait dengan produk organik harus dihapus dan diberikan pemahaman yang benar kepada petani.
Kombinasi optimal antara input anorganik dan organik akan mampu memenuhi persyaratan berbagai pihak, baik teknis, ekonomi, lingkungan, maupun kesehatan konsumen.
Didiek Hadjar Goenadi Anggota Bidang Agribisnis- Komite Penanaman Modal, BKPM, dan Ketua Umun Asosiasi Inventor Indonesia
Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/18/02540631/mitos.organik.dalam.era.pertanian.modern
Cinta dan Air Mata di Jantung Kalimantan
Kamis, 17 September 2009
Oleh Ambrosius Harto Manumoyoso
...hutan yang luas
sungai yang deras
menyenangkan
udara segar
senyuman manis
ingin ku bisa lebih lama di Long Alango...
Itulah penggalan lirik lagu ”Long Alango” ciptaan spontan Agustinus Gusti Nugroho atau Nugie saat penyambutan di Balai Adat Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, pertengahan Mei lalu.
Adik penyanyi Katon Bagaskara ini memang banyak membuat lagu tentang alam dan dipercaya menjadi duta kehormatan WWF Indonesia. Saat menghibur 200 warga, Nugie mengaku jatuh cinta dengan kehidupan di Bahau Hulu yang berbatasan dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia Timur.
”Hutan tropisnya seperti karpet hijau yang tebal dan tiada habisnya dilihat dari pesawat,” kata Nugie. Ia berkali-kali memuji lezatnya makanan, pedasnya sambal, kerasnya arak, tampan dan jelitanya serta keramahan warga.
Bahau Hulu berada di hulu Sungai Bahau. Di antara kecamatan berpenduduk 1.500 jiwa ini dan Sarawak dibatasi Pegunungan Belayan-Kaba, tempat mata air sungai-sungai utama Kaltim bagian utara seperti Kayan, Sesayap, dan Sembakung.
Bahau Hulu terdiri dari enam desa, yakni Long Uli, Long Tebulo, Long Alango, Long Kemuat, Long Berini, dan Apau Ping. Warganya keturunan orang (Dayak) Kenyah yang bermukim di tepi Sungai Bahau sejak 350 tahun lalu. Dalam bahasa setempat, long ialah sungai dan apau ialah perbukitan.
Bahau Hulu bagian dari Taman Nasional (TN) Kayan Mentarang yang ditunjuk Menteri Kehutanan pada 1996 seluas 1.360.500 hektar. Hutannya mengandung separuh dari 15.000 jenis tumbuhan Kalimantan, di mana 6.000 jenis di antaranya tidak ditemukan di tempat lain (endemik).
Di sana hidup 150 jenis mamalia (18 jenis endemik) atau lebih separuh dari 228 mamalia Kalimantan. Selain itu, kalangan peneliti mengidentifikasi 310 jenis burung (28 endemik tetapi terancam punah) atau hampir mendekati 361 jenis burung Kalimantan.
Semua kekayaan alam itu bisa membuat siapa pun jatuh cinta. Tidak mengherankan ketika banyak kalangan berharap keberagaman hayatinya harus dilestarikan.

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO
Rumah peladang di Taman Nasional Kayan Mentarang di tepi Sungai Bahau, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, pertengahan Mei. Sekitar 21.000 warga memanfaatkan hasil hutan dan berladang di taman nasional yang berbatasan dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia Timur, itu.
Penerbangan terbatas
Meskipun penuh pesona, kehidupan di sana sulit dijangkau.
Long Alango saja di Bahau Hulu yang punya lapangan terbang, tetapi minim fasilitas. Landas pacu 500 meter berupa tanah berumput. Ada dua rumah panggung dari kayu di tepi landasan. Satu untuk ruang tunggu penumpang, satu lagi untuk petugas dengan radio panggil dan stok bahan bakar pesawat (avgas).
Lapangan bisa dicapai dengan berjalan kaki sekitar 40 menit dari desa. Cuma pesawat berkapasitas maksimal 290 kilogram atau berpenumpang empat orang yang bisa mendarat.
Hanya Mission Aviation Fellowship (MAF) yang rutin terbang ke Long Alango. Pesawat jenis Cessna yang mirip capung milik maskapai misionaris Kristen itu mengutamakan mengangkut orang sakit dan obat-obatan.
Penerbangan seminggu sekali selama 50 menit dari Bandar Udara Juwata, Kota Tarakan. Namun, ketika cuaca buruk, penerbangan batal. Nekat terbang berarti bunuh diri.
Staf WWF Indonesia, Malinau Arman Anang, mengatakan, tarif sewa pesawat sekali terbang Rp 6 juta sampai Rp 7 juta. Untuk itu, tiga penumpang harus merogoh kocek masing-masing minimal Rp 2 juta.
Mencapai kawasan lewat sungai amat menyiksa. Dari Samarinda, ibu kota Kaltim, perlu tiga hari mencapai Long Alango dengan biaya Rp 2 juta sampai Rp 4 juta.
Pertama, menuju ke Balikpapan sejauh 115 kilometer lewat darat selama dua sampai tiga jam. Kedua, dari Balikpapan ke Tarakan dengan pesawat Boeing atau Airbus.
Karena pesawat MAF penuh, perjalanan dilanjutkan lewat Malinau dengan perahu cepat selama tiga jam. Itu pun harus menginap karena tiba kemalaman.
Perjalanan dilanjutkan esok dengan mobil gardan ganda ke Desa Long Lejuh, Kabupaten Bulungan. Perjalanan empat jam itu bikin muntah dan pegal-pegal karena jalan rusak.
Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan perahu motor ke Kecamatan Pujungan selama delapan jam menyusuri Sungai Kayan dan Sungai Bahau. Itu pun harus dengan menginap di bantaran sungai penuh bebatuan karena kemalaman. Penumpang pun bolak-balik turun dan berjalan meniti tepi sungai karena perahu harus cukup ringan agar bisa melewati jeram-jeram.
Perjalanan dilanjutkan dengan perahu kecil atau ketinting dari Pujungan ke Long Alango selama lima jam dalam terpaan hujan deras dan guncangan jeram-jeram yang membahayakan jiwa. Ketinting bermesin maksimal 16 daya kuda cuma bisa memuat tiga orang yang satu di antaranya juru mesin sekaligus juru batu.
Pengharapan
Hidup di pedalaman mungkin tidak nyaman sebab selalu berhadapan dengan bahaya dan segala keterbatasan. Harga kebutuhan pokok mahal, seperti bahan bakar minyak Rp 20.000 per liter dan gula Rp 15.000 per kilogram.
Tidaklah muluk harapan warga agar dibangun sarana kesehatan, pendidikan, dan telekomunikasi memadai di setiap desa. ”Lebih baik di Long Alango bisa didarati pesawat lebih besar, bah,” kata Camat Bahau Hulu Unya Bawan. Sudah disiapkan lahan guna pembangunan landas pacu 1.200 meter sehingga bisa didarati pesawat berkapasitas 40 penumpang atau berton-ton barang.
Bila pembangunan jaringan jalan bukan pilihan demi kelestarian hutan, maka sebaiknya dibangun lapangan terbang di setiap desa. ”Kalau tidak ada pesawat, bagaimana bisa menjangkau rumah sakit terdekat dengan cepat, bah,” kata Ruben, warga Long Alango.
Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/03013214/cinta.dan.air.mata.di.jantung.kalimantan
Oleh Ambrosius Harto Manumoyoso
...hutan yang luas
sungai yang deras
menyenangkan
udara segar
senyuman manis
ingin ku bisa lebih lama di Long Alango...
Itulah penggalan lirik lagu ”Long Alango” ciptaan spontan Agustinus Gusti Nugroho atau Nugie saat penyambutan di Balai Adat Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, pertengahan Mei lalu.
Adik penyanyi Katon Bagaskara ini memang banyak membuat lagu tentang alam dan dipercaya menjadi duta kehormatan WWF Indonesia. Saat menghibur 200 warga, Nugie mengaku jatuh cinta dengan kehidupan di Bahau Hulu yang berbatasan dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia Timur.
”Hutan tropisnya seperti karpet hijau yang tebal dan tiada habisnya dilihat dari pesawat,” kata Nugie. Ia berkali-kali memuji lezatnya makanan, pedasnya sambal, kerasnya arak, tampan dan jelitanya serta keramahan warga.
Bahau Hulu berada di hulu Sungai Bahau. Di antara kecamatan berpenduduk 1.500 jiwa ini dan Sarawak dibatasi Pegunungan Belayan-Kaba, tempat mata air sungai-sungai utama Kaltim bagian utara seperti Kayan, Sesayap, dan Sembakung.
Bahau Hulu terdiri dari enam desa, yakni Long Uli, Long Tebulo, Long Alango, Long Kemuat, Long Berini, dan Apau Ping. Warganya keturunan orang (Dayak) Kenyah yang bermukim di tepi Sungai Bahau sejak 350 tahun lalu. Dalam bahasa setempat, long ialah sungai dan apau ialah perbukitan.
Bahau Hulu bagian dari Taman Nasional (TN) Kayan Mentarang yang ditunjuk Menteri Kehutanan pada 1996 seluas 1.360.500 hektar. Hutannya mengandung separuh dari 15.000 jenis tumbuhan Kalimantan, di mana 6.000 jenis di antaranya tidak ditemukan di tempat lain (endemik).
Di sana hidup 150 jenis mamalia (18 jenis endemik) atau lebih separuh dari 228 mamalia Kalimantan. Selain itu, kalangan peneliti mengidentifikasi 310 jenis burung (28 endemik tetapi terancam punah) atau hampir mendekati 361 jenis burung Kalimantan.
Semua kekayaan alam itu bisa membuat siapa pun jatuh cinta. Tidak mengherankan ketika banyak kalangan berharap keberagaman hayatinya harus dilestarikan.
KOMPAS/AMBROSIUS HARTO
Rumah peladang di Taman Nasional Kayan Mentarang di tepi Sungai Bahau, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, pertengahan Mei. Sekitar 21.000 warga memanfaatkan hasil hutan dan berladang di taman nasional yang berbatasan dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia Timur, itu.
Penerbangan terbatas
Meskipun penuh pesona, kehidupan di sana sulit dijangkau.
Long Alango saja di Bahau Hulu yang punya lapangan terbang, tetapi minim fasilitas. Landas pacu 500 meter berupa tanah berumput. Ada dua rumah panggung dari kayu di tepi landasan. Satu untuk ruang tunggu penumpang, satu lagi untuk petugas dengan radio panggil dan stok bahan bakar pesawat (avgas).
Lapangan bisa dicapai dengan berjalan kaki sekitar 40 menit dari desa. Cuma pesawat berkapasitas maksimal 290 kilogram atau berpenumpang empat orang yang bisa mendarat.
Hanya Mission Aviation Fellowship (MAF) yang rutin terbang ke Long Alango. Pesawat jenis Cessna yang mirip capung milik maskapai misionaris Kristen itu mengutamakan mengangkut orang sakit dan obat-obatan.
Penerbangan seminggu sekali selama 50 menit dari Bandar Udara Juwata, Kota Tarakan. Namun, ketika cuaca buruk, penerbangan batal. Nekat terbang berarti bunuh diri.
Staf WWF Indonesia, Malinau Arman Anang, mengatakan, tarif sewa pesawat sekali terbang Rp 6 juta sampai Rp 7 juta. Untuk itu, tiga penumpang harus merogoh kocek masing-masing minimal Rp 2 juta.
Mencapai kawasan lewat sungai amat menyiksa. Dari Samarinda, ibu kota Kaltim, perlu tiga hari mencapai Long Alango dengan biaya Rp 2 juta sampai Rp 4 juta.
Pertama, menuju ke Balikpapan sejauh 115 kilometer lewat darat selama dua sampai tiga jam. Kedua, dari Balikpapan ke Tarakan dengan pesawat Boeing atau Airbus.
Karena pesawat MAF penuh, perjalanan dilanjutkan lewat Malinau dengan perahu cepat selama tiga jam. Itu pun harus menginap karena tiba kemalaman.
Perjalanan dilanjutkan esok dengan mobil gardan ganda ke Desa Long Lejuh, Kabupaten Bulungan. Perjalanan empat jam itu bikin muntah dan pegal-pegal karena jalan rusak.
Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan perahu motor ke Kecamatan Pujungan selama delapan jam menyusuri Sungai Kayan dan Sungai Bahau. Itu pun harus dengan menginap di bantaran sungai penuh bebatuan karena kemalaman. Penumpang pun bolak-balik turun dan berjalan meniti tepi sungai karena perahu harus cukup ringan agar bisa melewati jeram-jeram.
Perjalanan dilanjutkan dengan perahu kecil atau ketinting dari Pujungan ke Long Alango selama lima jam dalam terpaan hujan deras dan guncangan jeram-jeram yang membahayakan jiwa. Ketinting bermesin maksimal 16 daya kuda cuma bisa memuat tiga orang yang satu di antaranya juru mesin sekaligus juru batu.
Pengharapan
Hidup di pedalaman mungkin tidak nyaman sebab selalu berhadapan dengan bahaya dan segala keterbatasan. Harga kebutuhan pokok mahal, seperti bahan bakar minyak Rp 20.000 per liter dan gula Rp 15.000 per kilogram.
Tidaklah muluk harapan warga agar dibangun sarana kesehatan, pendidikan, dan telekomunikasi memadai di setiap desa. ”Lebih baik di Long Alango bisa didarati pesawat lebih besar, bah,” kata Camat Bahau Hulu Unya Bawan. Sudah disiapkan lahan guna pembangunan landas pacu 1.200 meter sehingga bisa didarati pesawat berkapasitas 40 penumpang atau berton-ton barang.
Bila pembangunan jaringan jalan bukan pilihan demi kelestarian hutan, maka sebaiknya dibangun lapangan terbang di setiap desa. ”Kalau tidak ada pesawat, bagaimana bisa menjangkau rumah sakit terdekat dengan cepat, bah,” kata Ruben, warga Long Alango.
Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/03013214/cinta.dan.air.mata.di.jantung.kalimantan
Menjaga Taman Nasional di Beranda Negara
Kamis, 17 September 2009
Jantung amat penting bagi manusia. Untuk itu, dalam perspektif lingkungan, ”jantung ekosistem” pun vital bagi keberlangsungan suatu kawasan sehingga patut dijaga.
Indonesia, Malaysia, dan Brunei punya Jantung Kalimantan (Heart of Borneo) berupa hutan tropis di daratan tinggi tengah pulau di pedalaman sekaligus kawasan perbatasan antardaerah dan antarnegara.
Jantung Kalimantan ialah komitmen menjaga 22 juta hektar hutan tropis yang dideklarasikan ketiga negara pada Februari 2007. Indonesia menjaga 12,6 juta hektar dengan 6,1 juta hektar di Kalimantan Timur, 4,1 juta hektar di Kalimantan Barat, dan 2,4 juta hektar di Kalimantan Tengah.
Taman Nasional (TN) Kayan Mentarang di Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan, Kaltim, ialah salah satu Jantung Kalimantan. Kawasannya membentang dari timur laut ke barat laut pada Pegunungan Belayan-Kaba yang memisahkan Kaltim dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia Timur.
Kayan Mentarang pada 1980 ialah cagar alam seluas 1,6 juta hektar sesuai penunjukan Menteri Pertanian. Namun, pada 1996, Menteri Kehutanan mengubah statusnya menjadi taman nasional dengan keliling 1.058 kilometer, termasuk 448 kilometer batas antarnegara.
Di sana tempat mata air sungai-sungai utama di Kaltim bagian utara seperti Kayan, Sesayap, dan Sembakung. Di dalam dan dekat kawasan bermukim sekitar 25.000 jiwa orang keturunan (Dayak) Kenyah, Kayan, Punan, dan Lun Daye. Mereka mampu hidup selaras dengan alam berbekal pengetahuan arif sejak bermukim 350 tahun lalu.

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO
Warga Desa Long Berini, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, menunggu rombongan yang akan diantar ke desa tersebut, pertengahan Mei. Mayoritas warga hidup dari berladang dan memanfaatkan hasil hutan, seperti rotan dan gaharu, turun-temurun dari hutan taman nasional. Mereka termasuk dalam sekitar 21.000 warga yang hidup di taman nasional.
Kearifan
Kalangan warga Kecamatan Bahau Hulu, Malinau, punya hukum adat dan pengetahuan tradisional yang mampu membuat keberagaman hayati TN Kayan Mentarang lestari. Enam desa, yakni Long Uli, Long Tebulo, Long Alango, Long Kemuat, Long Berini, dan Apau Ping punya hutan adat atau tanah ulen.
”Hasil hutan diambil terbatas cuma untuk acara dan sarana desa, bah,” kata Camat Bahau Hulu Unya Bawan di Long Alango, Kamis (20/5).
Warga berburu binatang dan mengambil tumbuhan, lanjut Unya Bawan, untuk makanan acara desa. Beberapa batang pohon boleh ditebang guna membangun fasilitas umum. ”Kebutuhan sehari-hari cukup dari ladang dan membeli, bah,” katanya.
Ruben, warga Long Alango, mengatakan, kawasan Lalut Birai yang menjadi stasiun penelitian hutan tropis termasuk dalam tanah ulen desa. ”Selain warga kami, yang ambil hasil hutan itu kena denda adat, bah,” katanya.
Staf WWF Indonesia, Malinau Arman Anang, mengatakan, Lalut Birai dibangun pada 1994. ”Karena kebaikan warga, kami dibolehkan membangun stasiun Lalut Birai yang kini dikelola swadaya oleh warga,” katanya.
Kearifan lainnya, warga Apau Ping di paling hulu Sungai Bahau, rutin membakar padang ilalang Long Tua guna menumbuhkan ilalang muda sebagai pakan banteng (Bos javanicus lowi).
Saluq Lawing, warga Long Berini, mengatakan, sebagai keturunan orang Kenyah, mereka dilarang berburu binatang secara berlebihan untuk dikonsumsi, seperti babi dan ikan.
Kekayaan
Kalimantan seluas 746.405 kilometer persegi (km) ialah pulau terbesar ketiga di dunia menurut The Ecology of Kalimantan, 1996. Terbesar ialah Greenland (2.175.600 km), Denmark. Urutan kedua ialah New Guinea, termasuk Papua dan Papua Barat di Indonesia (808.510 km).
Kayan Mentarang mengandung lebih dari separuh kekayaan hayati Borneo yang ditaksir memiliki 15.000 jenis tumbuhan. Yang 6.000 jenis di antaranya tidak ditemukan di tempat lain (endemik).
Di sana terdapat 150 jenis mamalia (18 jenis endemik) atau separuh lebih dari 228 mamalia, 310 jenis burung (28 endemik yang terancam punah) atau mendekati 361 spesies burung dan 30 jenis binatang amfibi Kalimantan.
Sejumlah mamalia atau satwa menyusui termasuk langka dan terancam punah antara lain macan dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus), dan lutung dahi putih (Presbytis frontata frontata). Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) diyakini pernah hidup, tetapi punah akibat perburuan pada 1950. Namun, keberadaan satwa itu terus dilaporkan hingga kini oleh warga yang mengaku melihat fisik atau jejak badak.
”Kekayaan hayati yang tinggi itu harus dilestarikan sehingga taman nasional akan dikelola secara kolaboratif bersama rakyat,” kata Pelaksana Tugas Kepala Balai TN Kayan Mentarang Boedi Isnaini. (BRO)
Artikel dari:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/02595277/menjaga.taman.nasional.di.beranda.negara
Jantung amat penting bagi manusia. Untuk itu, dalam perspektif lingkungan, ”jantung ekosistem” pun vital bagi keberlangsungan suatu kawasan sehingga patut dijaga.
Indonesia, Malaysia, dan Brunei punya Jantung Kalimantan (Heart of Borneo) berupa hutan tropis di daratan tinggi tengah pulau di pedalaman sekaligus kawasan perbatasan antardaerah dan antarnegara.
Jantung Kalimantan ialah komitmen menjaga 22 juta hektar hutan tropis yang dideklarasikan ketiga negara pada Februari 2007. Indonesia menjaga 12,6 juta hektar dengan 6,1 juta hektar di Kalimantan Timur, 4,1 juta hektar di Kalimantan Barat, dan 2,4 juta hektar di Kalimantan Tengah.
Taman Nasional (TN) Kayan Mentarang di Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan, Kaltim, ialah salah satu Jantung Kalimantan. Kawasannya membentang dari timur laut ke barat laut pada Pegunungan Belayan-Kaba yang memisahkan Kaltim dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia Timur.
Kayan Mentarang pada 1980 ialah cagar alam seluas 1,6 juta hektar sesuai penunjukan Menteri Pertanian. Namun, pada 1996, Menteri Kehutanan mengubah statusnya menjadi taman nasional dengan keliling 1.058 kilometer, termasuk 448 kilometer batas antarnegara.
Di sana tempat mata air sungai-sungai utama di Kaltim bagian utara seperti Kayan, Sesayap, dan Sembakung. Di dalam dan dekat kawasan bermukim sekitar 25.000 jiwa orang keturunan (Dayak) Kenyah, Kayan, Punan, dan Lun Daye. Mereka mampu hidup selaras dengan alam berbekal pengetahuan arif sejak bermukim 350 tahun lalu.
KOMPAS/AMBROSIUS HARTO
Warga Desa Long Berini, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, menunggu rombongan yang akan diantar ke desa tersebut, pertengahan Mei. Mayoritas warga hidup dari berladang dan memanfaatkan hasil hutan, seperti rotan dan gaharu, turun-temurun dari hutan taman nasional. Mereka termasuk dalam sekitar 21.000 warga yang hidup di taman nasional.
Kearifan
Kalangan warga Kecamatan Bahau Hulu, Malinau, punya hukum adat dan pengetahuan tradisional yang mampu membuat keberagaman hayati TN Kayan Mentarang lestari. Enam desa, yakni Long Uli, Long Tebulo, Long Alango, Long Kemuat, Long Berini, dan Apau Ping punya hutan adat atau tanah ulen.
”Hasil hutan diambil terbatas cuma untuk acara dan sarana desa, bah,” kata Camat Bahau Hulu Unya Bawan di Long Alango, Kamis (20/5).
Warga berburu binatang dan mengambil tumbuhan, lanjut Unya Bawan, untuk makanan acara desa. Beberapa batang pohon boleh ditebang guna membangun fasilitas umum. ”Kebutuhan sehari-hari cukup dari ladang dan membeli, bah,” katanya.
Ruben, warga Long Alango, mengatakan, kawasan Lalut Birai yang menjadi stasiun penelitian hutan tropis termasuk dalam tanah ulen desa. ”Selain warga kami, yang ambil hasil hutan itu kena denda adat, bah,” katanya.
Staf WWF Indonesia, Malinau Arman Anang, mengatakan, Lalut Birai dibangun pada 1994. ”Karena kebaikan warga, kami dibolehkan membangun stasiun Lalut Birai yang kini dikelola swadaya oleh warga,” katanya.
Kearifan lainnya, warga Apau Ping di paling hulu Sungai Bahau, rutin membakar padang ilalang Long Tua guna menumbuhkan ilalang muda sebagai pakan banteng (Bos javanicus lowi).
Saluq Lawing, warga Long Berini, mengatakan, sebagai keturunan orang Kenyah, mereka dilarang berburu binatang secara berlebihan untuk dikonsumsi, seperti babi dan ikan.
Kekayaan
Kalimantan seluas 746.405 kilometer persegi (km) ialah pulau terbesar ketiga di dunia menurut The Ecology of Kalimantan, 1996. Terbesar ialah Greenland (2.175.600 km), Denmark. Urutan kedua ialah New Guinea, termasuk Papua dan Papua Barat di Indonesia (808.510 km).
Kayan Mentarang mengandung lebih dari separuh kekayaan hayati Borneo yang ditaksir memiliki 15.000 jenis tumbuhan. Yang 6.000 jenis di antaranya tidak ditemukan di tempat lain (endemik).
Di sana terdapat 150 jenis mamalia (18 jenis endemik) atau separuh lebih dari 228 mamalia, 310 jenis burung (28 endemik yang terancam punah) atau mendekati 361 spesies burung dan 30 jenis binatang amfibi Kalimantan.
Sejumlah mamalia atau satwa menyusui termasuk langka dan terancam punah antara lain macan dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus), dan lutung dahi putih (Presbytis frontata frontata). Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) diyakini pernah hidup, tetapi punah akibat perburuan pada 1950. Namun, keberadaan satwa itu terus dilaporkan hingga kini oleh warga yang mengaku melihat fisik atau jejak badak.
”Kekayaan hayati yang tinggi itu harus dilestarikan sehingga taman nasional akan dikelola secara kolaboratif bersama rakyat,” kata Pelaksana Tugas Kepala Balai TN Kayan Mentarang Boedi Isnaini. (BRO)
Artikel dari:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/02595277/menjaga.taman.nasional.di.beranda.negara
Jejak Mataram yang Terlupakan
Kamis, 17 September 2009
Oleh M Burhanudin
Panas sinar matahari menerpa deretan Pasar Petanahan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Senin (7/9) siang, itu. Di antara deretan toko kelontong dan pasar swalayan mini terselip bangunan toko-toko tua, yang seolah bercerita tentang jejak masa lalu tempat ini.
Petanahan terletak di jalur alternatif lintas selatan- selatan Jawa Tengah. Melalui jalur ini, pemudik bisa menghindari kemacetan akibat pelintasan KA dan sempitnya jalan di jalur utama selatan.
Bus-bus jarak jauh jurusan Jakarta-Yogyakarta biasa menggunakan jalur ini untuk menghindari antrean panjang kendaraan di jalur Kebumen-Kutoarjo.
Dari Petanahan, jalur lintas selatan-selatan membentang lurus, melewati kawasan pantai selatan hingga ke Wates, DI Yogyakarta.
Jalan cukup untuk berpapasan dua bus besar, tetapi sebagian masih berlapis aspal kasar dan bergelombang. Begitu memasuki wilayah DI Yogyakarta, jalan sempit ini menjelma menjadi jalan empat lajur selebar 24 meter beraspal mulus.
Sekilas, tak ada yang istimewa dari pusat ”kota” Petanahan. Namun, tempat ini menyimpan kisah sejarah yang telah terlupakan. ”Pasar Petanahan ini sudah sangat lama, sejak zaman Belanda,” ujar Ahmad Zaenuri (30), pedagang pisau di pasar tersebut.
Warga Petanahan hampir semuanya tahu bahwa deretan bangunan tua yang bagian depannya difungsikan sebagai toko dan belakang sebagai rumah itu milik orang-orang keturunan bangsawan asal Yogyakarta. ”Warga sini banyak yang leluhurnya dulu orang Yogyakarta. Kalau yang keturunan bangsawan, biasanya punya gelar nganten atau raden,” kata Zaenuri.
Sejarawan Banyumas, Budiono Herusatoto, dalam bukunya Banyumas (2008) mengatakan, para bangsawan asal Yogyakarta itu datang sejak zaman Sultan Agung (1613-1645) dari Mataram Islam hingga masa Perang Diponegoro (1825-1830). Ada di antara mereka yang berstatus sebagai kerabat keraton, abdi dalem, prajurit, hingga orang biasa.
Petanahan sekarang memang berada di jalur alternatif. Namun, jalur ini dulunya justru jalur utama zaman Mataram Islam. Sultan Agung pun melalui jalur ini saat menyerang VOC di Batavia tahun 1629.
Pangeran Diponegoro juga menggunakan wilayah Kebumen selatan ini sebagai basis perjuangan gerilyanya, termasuk untuk perekrutan personel. Jejak sepak terjang Diponegoro, dalam bentuk jalan- jalan setapak, masih dapat dilihat apabila menyusuri jalur Petanahan ini ke timur hingga ke wilayah Ambal.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Suasana di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Senin (7/9). Kecamatan tersebut terletak di jalur alternatif lintas selatan-selatan yang merupakan salah satu jalur penghubung kota-kota besar di selatan Pulau Jawa.
Wisata pantai
Jalur alternatif juga menawarkan wisata pantai selatan dengan pesona ombak yang menggelora. Sekitar dua kilometer ke arah selatan Pasar Petanahan terdapat kawasan wisata Pantai Petanahan.
Sejak tahun 1982, Pantai Petanahan telah dikembangkan sebagai obyek wisata, lengkap dengan berbagai sarana pendukung, seperti warung makan, tempat bermain anak, sampai kolam renang air tawar untuk bilas.
Pantainya sendiri masih asli, membentang lepas sepanjang sekitar lima kilometer. Pada masa bulan muda, ombaknya bisa mencapai tinggi delapan meter. Itu sebabnya, berenang di pantai akan sangat berbahaya.
Artikel dari:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/03164725/jejak.mataram.yang.terlupakan
Oleh M Burhanudin
Panas sinar matahari menerpa deretan Pasar Petanahan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Senin (7/9) siang, itu. Di antara deretan toko kelontong dan pasar swalayan mini terselip bangunan toko-toko tua, yang seolah bercerita tentang jejak masa lalu tempat ini.
Petanahan terletak di jalur alternatif lintas selatan- selatan Jawa Tengah. Melalui jalur ini, pemudik bisa menghindari kemacetan akibat pelintasan KA dan sempitnya jalan di jalur utama selatan.
Bus-bus jarak jauh jurusan Jakarta-Yogyakarta biasa menggunakan jalur ini untuk menghindari antrean panjang kendaraan di jalur Kebumen-Kutoarjo.
Dari Petanahan, jalur lintas selatan-selatan membentang lurus, melewati kawasan pantai selatan hingga ke Wates, DI Yogyakarta.
Jalan cukup untuk berpapasan dua bus besar, tetapi sebagian masih berlapis aspal kasar dan bergelombang. Begitu memasuki wilayah DI Yogyakarta, jalan sempit ini menjelma menjadi jalan empat lajur selebar 24 meter beraspal mulus.
Sekilas, tak ada yang istimewa dari pusat ”kota” Petanahan. Namun, tempat ini menyimpan kisah sejarah yang telah terlupakan. ”Pasar Petanahan ini sudah sangat lama, sejak zaman Belanda,” ujar Ahmad Zaenuri (30), pedagang pisau di pasar tersebut.
Warga Petanahan hampir semuanya tahu bahwa deretan bangunan tua yang bagian depannya difungsikan sebagai toko dan belakang sebagai rumah itu milik orang-orang keturunan bangsawan asal Yogyakarta. ”Warga sini banyak yang leluhurnya dulu orang Yogyakarta. Kalau yang keturunan bangsawan, biasanya punya gelar nganten atau raden,” kata Zaenuri.
Sejarawan Banyumas, Budiono Herusatoto, dalam bukunya Banyumas (2008) mengatakan, para bangsawan asal Yogyakarta itu datang sejak zaman Sultan Agung (1613-1645) dari Mataram Islam hingga masa Perang Diponegoro (1825-1830). Ada di antara mereka yang berstatus sebagai kerabat keraton, abdi dalem, prajurit, hingga orang biasa.
Petanahan sekarang memang berada di jalur alternatif. Namun, jalur ini dulunya justru jalur utama zaman Mataram Islam. Sultan Agung pun melalui jalur ini saat menyerang VOC di Batavia tahun 1629.
Pangeran Diponegoro juga menggunakan wilayah Kebumen selatan ini sebagai basis perjuangan gerilyanya, termasuk untuk perekrutan personel. Jejak sepak terjang Diponegoro, dalam bentuk jalan- jalan setapak, masih dapat dilihat apabila menyusuri jalur Petanahan ini ke timur hingga ke wilayah Ambal.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Suasana di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Senin (7/9). Kecamatan tersebut terletak di jalur alternatif lintas selatan-selatan yang merupakan salah satu jalur penghubung kota-kota besar di selatan Pulau Jawa.
Wisata pantai
Jalur alternatif juga menawarkan wisata pantai selatan dengan pesona ombak yang menggelora. Sekitar dua kilometer ke arah selatan Pasar Petanahan terdapat kawasan wisata Pantai Petanahan.
Sejak tahun 1982, Pantai Petanahan telah dikembangkan sebagai obyek wisata, lengkap dengan berbagai sarana pendukung, seperti warung makan, tempat bermain anak, sampai kolam renang air tawar untuk bilas.
Pantainya sendiri masih asli, membentang lepas sepanjang sekitar lima kilometer. Pada masa bulan muda, ombaknya bisa mencapai tinggi delapan meter. Itu sebabnya, berenang di pantai akan sangat berbahaya.
Artikel dari:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/03164725/jejak.mataram.yang.terlupakan
Subscribe to:
Posts (Atom)