Bersama Joanna, Keroncong Mendunia


KOMPAS/NELI TRIANA

Kamis, 29 Oktober 2009

Neli Triana

Sebuah penampilan tak terduga membuat penonton terperenyak pada pembukaan The Asia Pacific Weeks 2009 di Konzerthaus, Berlin, Jerman, Rabu (7/10). Lampu penerang di tempat duduk penonton meredup, berganti sorotan sinar langsung ke tengah panggung. Tampak berdiri seorang perempuan kulit putih dan intro lagu keroncong ”Di Bawah Sinar Bulan Purnama” terdengar.

Dari mulut perempuan itu, Joanna Dudley, lirik lagu ”Di Bawah Sinar Bulan Purnama” disenandungkan. ”Di bawah sinar bulan purnama… air laut berkilauan… berayun-ayun ombak mengalir… ke pantai senda gurauan…”

Penampilan Joanna terbilang unik. Ia mengenakan kimono, pakaian khas Jepang, kontras dengan para pemusik pengiring yang berpakaian formal. Suaranya menggema di ruangan Konzerthaus, berpadu dengan suara berbagai alat musik membuat penonton terpukau.

Memang ada beberapa pengucapan yang ”keseleo lidah”, tetapi cengkok keroncong Joanna terasa pas. Orang teringat penampilan Sundari Soekotjo dan Waldjinah.

Di tengah pertunjukan, seperti tersadar, sebagian penonton buru-buru merekam penampilan Joanna. Tepuk tangan bergemuruh di Konzerthaus saat Joanna mengakhiri lagunya.

Tak kurang Gubernur Negara Bagian Berlin Klaus Wowereit memberi tepukan penghormatan dan menyambut salam Joanna dari atas panggung. Joanna lalu menggeser langkahnya. Ia beringsut pelan-pelan hingga hilang di balik panggung, tanpa pernah memalingkan wajah dari penonton. Senyumnya terus berkembang.

Didikan Waldjinah

”Saya rasa keroncong adalah musik terindah. Pertama kali mendengarnya beberapa tahun lalu, langsung membuat saya jatuh cinta dan ingin belajar menyanyikannya,” kata Joanna.

Joanna mengisahkan, dia mendengar lagu keroncong saat berada di Adelaide, Australia, sekitar lima tahun lalu. Selain sering didendangkan di konser musik lokal di kampus oleh mahasiswa, ternyata banyak penyanyi dan musikus keroncong asal Indonesia yang diundang ke Australia. Mereka menjadi bintang tamu pertunjukan atau sebagai pengajar. Berawal dari sini, Joanna makin tertarik pada keroncong dan berniat belajar dari ahlinya.

Setelah mencari tahu, perempuan kelahiran London, Inggris, ini menemukan nama Waldjinah, maestro keroncong asal Solo, Jawa Tengah. Tanpa berpikir panjang, dia berupaya menghubungi Waldjinah. Gayung bersambut, keinginan Joanna untuk belajar keroncong diterima Waldjinah.

Pada 2005 hingga 2009, perempuan yang tinggal dan bekerja di Australia dan Jerman ini bolak-balik ke Solo untuk berguru keroncong. Seperti perasaannya terhadap keroncong, Joanna pun jatuh cinta pada Kota Solo. Di Solo, aura tradisionalnya masih kental dan mendukung suasana hati Joanna yang bersemangat memperdalam keroncong.

”Sudah 4,5 tahun ini saya belajar. Bagi saya, Waldjinah bukan cuma guru, tetapi seorang master. Ia mengajari saya menjiwai lagu, memahami dan menyelami maknanya, kemudian menyanyikannya dengan lafal bahasa Indonesia yang benar. Tentu saja masih banyak kekurangan dan kesalahan yang saya lakukan. Saya belum akan berhenti belajar,” katanya.

Setelah beberapa waktu berlatih, Joanna sempat berkeringat dingin ketika Waldjinah memintanya menyanyikan sendiri lagu-lagu keroncong yang dipelajarinya di hadapan penonton. Apalagi ketika dia diminta membawakan lagu ”Bengawan Solo” di hadapan Gesang, saat perayaan ulang tahun ke-90 maestro keroncong itu, pada Oktober 2007.

Tidak berhenti

Joanna tidak mau berhenti pada satu titik. Dari awal, ia memiliki ketertarikan pada dunia seni pertunjukan. Ia hidup di Australia dan Jerman sebagai artis, musisi, sekaligus penyanyi. Ia mengasah bakat di bidang musik dengan bersekolah di Adelaide Conservatorium di Australia, kemudian di The Sweelink Conservatorium di Amsterdam, Belanda. Khusus untuk belajar alat musik flute, ia belajar di Tokyo, Jepang.

”Sesuatu yang baru dan kita kuasai sungguh-sungguh bisa dikolaborasikan dengan ilmu yang lebih dulu kita miliki. Kolaborasi ini akan menelurkan karya baru. Karya baru yang berbeda dan bermakna tersendiri. Dalam dunia seni, eksplorasi tidak boleh berhenti,” kata Joanna.

Berbagi ilmu juga menjadi prinsip hidupnya. Ia bukan sosok yang pelit soal ilmu, terbukti pada jadwal mengajar yang selalu terselip di antara segudang kesibukannya. Ia mengajar di akademi seni di Sierre, Swiss; akademi seni di Berlin, Jerman; dan di The Centre for Performing Arts TAFE and Elder Conservatorium di Universitas Adelaide, Australia. Dia mengajarkan berbagai disiplin seni murni, berbagai aliran tari, musik, dan pertunjukan teater.

Aktivitasnya di dunia teater dan imajinasinya yang dibiarkan terus tumbuh liar memunculkan sederet karya berkarakter kuat. Penampilan solo maupun kolaborasi dengan seniman atau artis dari berbagai negara sudah digelar di Australia, di banyak negara di Eropa, Benua Amerika, serta Asia.

Beberapa pementasan Joanna yang memadukan kepiawaiannya berakting, menari, dan menyanyi antara lain muncul lewat pertunjukan berjudul My Dearest My Fairest, The Scorpionfish, dan Who Killed Cock Robin? Karya kolaborasi lainnya, Tom’s Song, yang dipresentasikan di Festival Sonambiente, Berlin, 2006, mendapat penghargaan dari kritikus seni.

Budaya Jawa menjadi hal baru yang dia pelajari. Ia merasa sudah menyatu dengan keroncong. Kelekatan hubungannya dengan Waldjinah juga membawa Joanna mengenal sekaligus terkagum-kagum pada langgam Jawa dan musik gamelan. Penguasaan atas langgam Jawa dan gamelan menjadi obsesi Joanna selanjutnya.

”Saya juga mengenal kebaya dari Waldjinah. Pakaian tradisional ini mengagumkan, bisa menampilkan kesan anggun, feminin, dan cantik. Ini juga sebuah karya seni yang agung, dengan detail model, kain batik, sampai sanggulnya. Duh, saya senang sekali memakai kebaya,” ujarnya.

Di ujung acara pembukaan The Asia Pacific Weeks 2009, Joanna sengaja berkebaya dan kembali bersenandung, ”Bengawan Solo… riwayatmu ini… sedari dulu jadi... perhatian insani...” Joanna, seperti halnya keroncong, kembali menyedot perhatian publik saat itu. Ini salah satu gambaran budaya Indonesia yang mendunia.


***




JOANNA DUDLEY

• Lahir : London, Inggris, 1971

• Pendidikan musik :
- Adelaide Conservatorium, Australia
- The Sweelinck Conservatorium, Belanda
- Seruling dan lagu klasik tradisional Jepang di Tokyo, Jepang
- Gamelan dan keroncong di Solo, Jawa Tengah

• Karier : Dia tinggal dan bekerja di Jerman dan Australia sebagai artis, musisi, dan penyanyi. Ia tengah bekerja di Schaubühne Theatre di Berlin, Jerman

• Karyanya antara lain :
- ”My Dearest My Fairest” (2000), bersama Juan Kruz Diaz Garaio de Esnaol
- ”He Taught Me to Yodel” (2002)
- ”Colours May Fade With Friction Read Instructions Carefully Store In A Cool and Dry Place No Side Effects” (2004)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/04011079/bersama.joanna.keroncong.mendunia

PENTAS MUSIK DAN PAMERAN - Dahsyat, Etnik di Panggung Krakatau



Kompas/Lucky Pransiska
Penampilan Dwiki Dharmawan bersama grup musik Krakatau di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (22/10). Kelompok musik yang didirikan di Bandung, Jawa Barat, tahun 1984 tersebut kini beranggotakan Dwiki Dharmawan (keyboard dan synthesizer), Pra Budi Dharma (bass), Ade Rudhiana (kendang dan perkusi), Yoyon Dharsono (beragam instrumen tradisional), Zainal Arifin (gamelan dan perkusi), Gerry Herb (pemain drum), dan vokalis Nya Ina Raseuki, yang akrab dipanggil Ubiet.


Jumat, 23 Oktober 2009

Nyanyian ”Tarik Pukat” yang dieksplorasi Ubiet dari tanah leluhurnya, Aceh, menjadi antiklimaks pertunjukan Krakatau Band, Kamis (22/10) malam di Bentara Budaya Jakarta.

Bagaimana tidak, Dwiki Dharmawan dalam aksinya sampai terjengkang saat memainkan keyboard karena lagu yang didendangkan Ubiet ”dimain-mainkan” dalam tempo tinggi dan supercepat. Ratusan penonton, yang memadati halaman terbuka BBJ, terdiam bak terhipnotis.

Klimaks penampilan Krakatau Band terjadi saat Budhy Haryono menggebuk drum untuk memainkan komposisi ”Tugu Hegar”. Permainan yang dahsyat.

Aksi Budhy kemudian ditingkahi aksi Ade Rudhiana memainkan perkusi dengan kocak, sampai-sampai memukul kening segala. Dia menjadikan kening tempat sandaran perkusi, sembari tangannya liar menabuh perkusi, membuat aksi panggung Krakatau menjadi sangat hidup. Apalagi, penonton diajak turut berpartisipasi dengan bertepuk tangan.

Berkarya selama 25 tahun, Krakatau menunjukkan kepedulian dan empati yang dalam terhadap korban gempa di Kerinci, Jambi. Sebuah komposisi didendangkan Ubiet membuat bulu roma berdiri. Terasa benar kesedihan itu.

”Komposisi tadi didedikasikan untuk korban gempa di Sumatera dan Jawa Barat. Komposisi yang berisikan doa, agar selalu ingat dengan Yang Di Atas. Mendoakan korban agar dapat tempat terbaik di sisi-Nya dan berharap ke depan tak ada bencana lagi,” ujar Dwiki.

Selain mengeksplorasi warna musik etnik Kerinci, Krakatau juga menampilkan hasil eksplorasi musik etnik dari Pulau Rote, NTT.

Yang sedikit mengejutkan, Umi menampilkan tarian topeng cirebon dalam tiga karakter ketika Krakatau memainkan komposisi yang sebelumnya didominasi permainan seruling sunda oleh Yoyon Dharsono, dalam empat warna, pascadilepasnya satu per satu bagian dari seruling itu.

Tampil hampir dua jam, setelah hujan reda, Krakatau menutup pementasan dengan komposisi ”Freedom of Percussion” setelah komposisi ”Spirit of Palmerah”.

Krakatau tidak hanya menampilkan harmonisasi komposisi yang dahsyat dan memukau, tetapi juga interaksi yang padu, dan aksi panggung yang menghibur. (YURNALDI)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/23/04012089/dahsyat.etnik.di.panggung.krakatau

NABIL AWARD - Tiga Peneliti mengenai Tionghoa Terima Penghargaan

Jumat, 23 Oktober 2009

Jakarta, Kompas - Tiga peneliti yang aktif meneliti masalah integrasi etnis Tionghoa dalam masyarakat Indonesia mendapat penghargaan dari Yayasan Nabil. Mereka dianggap berjasa dalam upaya integrasi dan proses pembangunan bangsa (nation building), baik dengan karya tulis ilmiah, penelitian, ceramah akademisi, maupun dalam pergaulan keseharian mereka.

Ketiga peneliti itu adalah Dra Myra Sidharta dan Mely G Tan, PhD (keduanya dari Indonesia) serta Prof Charles A Coppel (peneliti dari Australia). Penyerahan penghargaan dilakukan di Jakarta, Kamis (22/10).

Menurut Eddie Lembong, Pendiri dan Ketua Yayasan Nabil, pemberian penghargaan ini sebagai ungkapan terima kasih atas upaya memperkuat rantai kebangsaan yang telah dilakukan. ”Ingat, kekuatan sebuah rantai ditentukan oleh mata rantai yang paling lemah,” ujar Eddie Lembong.

Dalam penghargaan yang diselenggarakan untuk ketiga kalinya ini, untuk pertama kalinya diberikan kepada para peneliti dari Indonesia. Sebelumnya peraih penghargaan ini berasal dari Perancis, Amerika Serikat, dan Singapura.

Dalam pidato pertanggungjawaban penganugerahan Nabil Award 2009, Prof Dr Saparinah Sadli selaku Dewan Pakar Yayasan Nabil mengatakan, Myra Sidharta sangat besar peranannya dalam historiografi sejarah peranakan Tionghoa di Indonesia. Upaya Myra telah dilakukan sejak pemerintahan Orde Baru, yang menabukan hal-hal yang berbau Tionghoa.

”Dalam kurun waktu 30 tahun, Myra Sidharta dengan tekun serta konsisten memberikan kontribusi penting dalam menunjukkan peranakan Tionghoa sebagai bagian integral dari sejarah bangsa Indonesia,” kata Saparinah.

Sebagai sosiolog, Mely G Tan juga dianggap banyak berperan aktif dalam pembangunan bangsa. Mely meneliti etnis Tionghoa dan kaitannya dengan asimilasi, identitas, dan diskriminasi.

Pembangunan keseluruhan

Dia tidak hanya membahas pada tataran antarmasyarakat Tionghoa sendiri atau hubungan antara masyarakat Tionghoa dan masyarakat lain serta negara semata, tetapi juga berkaitan dengan masalah pembangunan Indonesia secara keseluruhan. ”Semua yang dilakukan Mely bermanfaat bagi proses nation building,” tutur Saparinah.

Sementara itu, Associate Prof Charles A Coppel dinilai sebagai salah satu dari sedikit sarjana luar negeri yang mengkaji etnis Indonesia-Tionghoa. Dalam berbagai studinya, Coppel mengingatkan pentingnya memahami minoritas Tionghoa dari sudut pandang budaya dan tidak melulu jatuh dalam kerangka politik kekuasaan.

”Masyarakat peranakan telah memberikan sumbangsih di berbagai bidang. Tidak bisa lagi mereka dibedakan menjadi kelompok yang lain atau satu komunitas yang terpisah dari Indonesia yang luas ini,” kata Saparinah. (ARN/ONG)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/23/03595145/tiga.peneliti.mengenai.tionghoa.terima.penghargaan

GRAFITI DAN MURAL - Seni Tembok Tak Lagi Sembunyi

Jumat, 23 Oktober 2009

Sore itu Movvr9, atau nama aslinya Fachri Daswianto, siswa SMA Perguruan Rakyat II Jakarta Timur, jauh-jauh dari Jatiwaringin, Jakarta Timur, main ke kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Misinya satu: meninggalkan jejak di tembok bagi klan yang dibangunnya, Great Hazard Klan.

Fachri adalah salah satu anggota ”tembok bomber”, sebutan keren bagi para seniman grafiti Indonesia. Dia pernah menjuarai kompetisi grafiti di ajang UrbanFest tahun lalu. ”Saya juara satu tahun lalu,” katanya.

Tahun ini Fachri menjadi artist utama dalam grafiti UrbanFest 2009 yang digelar di Ancol, 24-25 Oktober. Bersama teman-temannya, dia akan mendemonstrasikan keahliannya.

Semakin terarah

Di tembok sekitar perumahan elite Pondok Indah, Jakarta Selatan, bersama Suhelmi, teman satu klan, Fachri kembali mengunjungi tempat itu untuk kesekian kalinya. Di tembok itulah pertempuran kreativitas seni tembok terjadi hampir tiap pekan, bahkan tiap hari.

”Ini tembok legal untuk grafiti. Di sini banyak seniman, termasuk dari luar negeri. Saya sudah lima kali ke sini. Di tembok ini intensitas grafiti dan muralnya tinggi, hanya beberapa hari gambar kita sudah ditimpa orang lain,” katanya.

Apa sering terjadi perebutan daerah kekuasaan? ”Oh tidak, kami saling mengerti saja. Yang penting, kalau menimpa gambar orang, harus bagus dan rapi, jangan asal coret, itu vandalisme namanya. Kami memegang etika berkarya seni,” kata Fachri.

Oh, grafiti tak lagi menganut vandalisme tembok? ”Ya, kami makin terarah setelah sering ketemuan, silaturahim sesama artist. Kami saling mengingatkan lewat forum internet ataupun langsung ketemu,” ujarnya.

Tapi, di tembok sekitar 50 meter itu di beberapa tempat masih banyak coretan. ”Iya, di forum internet pembuat coretan itu lagi dicari,” kata Fachri.

Jika ketemu, pelaku akan dinasihati agar tak mengulangi aksinya. ”Cara seperti itu efektif, saya dulu pernah mencari pelaku vandal dan setelah ketemu saya nasihati, ternyata dia tak mengulangi perbuatannya dan jadi artist baik-baik,” tambah Fachri.

Tak harus pemberontakan

Seiring meningkatnya kesadaran estetika tembok, beberapa artist kini semakin terorganisasi dan terkoneksi dari kota satu ke kota lain, bahkan antarnegara. Mereka berbagi pengalaman dan saling memamerkan karya mereka di internet.

Di Jakarta, mereka sedang menggandrungi mural. ”Kalau mural itu, rasanya lebih puas karena orang akan mengenal karakter kita,” kata Suhelmi, yang dikenal dengan nickname Etcom dan kini kuliah di Ilmu Komputer Universitas Gunadarma, Jakarta.

Tema-tema yang diangkat makin beragam. Tak harus tema pemberontakan. Mereka akrab dengan tema damai, seperti lingkungan hidup dan budaya. ”Saya pernah membuat mural batik. Jadi, mural itu tak harus membuat karakter sangar,” kata Suhelmi.

Para orangtua dan teman-teman mereka pun mulai melek soal grafiti dan mural. ”Orangtua saya tadinya tak mendukung, tetapi begitu saya menjuarai beberapa kompetisi mereka mendukung. Kalau sekolah sih, memang tak mendukung sampai sekarang,” jelas Fachri.

Di ajang pertemuan berbagai budaya kota, mereka akan unjuk kebolehan. Jika pengin tahu aksi mereka, datang ke acara UrbanFest 2009. (Amir Sodikin)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/23/04020940/seni.tembok.tak.lagi.sembunyi

SITUS SEJARAH - Situs Sindangbarang Bogor Terancam Hilang

Jumat, 23 Oktober 2009

Bogor, Kompas - Aktifnya biong (spekulan) tanah menawar lahan milik warga di Desa Pasireurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, membuat tokoh adat dan Pemerintah Kabupaten Bogor resah. Pasalnya, di desa itu terdapat banyak situs sejarah yang belum tuntas penelitiannya atau malah belum sempat diteliti.

Hal ini disampaikan Wakil Bupati Bogor Karyawan Faturachman di Cibinong, Kamis (22/10). Pihak pemerintah kabupaten sudah mengetahui maraknya transaksi tanah di Desa Pasireurih yang banyak menyimpan situs Sindangbarang Bogor.

”Memang ada perusahaan pengembang yang berencana menguasai lahan sampai ke Gunung Salak. Namun, perusahaan itu belum mengajukan secara resmi permohonan izin lokasi dan lain-lainnya. Mereka baru membangun di Kota Bogor dan berencana perluasannya sampai ke kawasan wisata di Gunung Salak,” tuturnya.

Menurut Faturachman, biasanya perusahaan membeli tanah lebih dulu, baru kemudian mengajukan permohonan izin untuk berinvestasi.

”Kami imbau agar perusahaan dan masyarakat dalam aktivitas jual beli lahan di daerah bersitus memerhatikan juga pentingnya menjaga dan melestarikan situs tersebut,” katanya.

Faturachman mengatakan, kewenangan atas situs benda cagar budaya atau sejarah berada di pemerintah pusat, yaitu Departemen Pendidikan Nasional. Selain itu, APBD pun tidak bisa mengalokasikan dana, misalnya untuk membeli lahan atau memagari lokasi situs cagar budaya.

”Kami harus memilih, uang APBD untuk pelestarian situs atau membangun gedung SD. Kami tentu saja pilih membangun gedung SD,” ujarnya.

Sejumlah warga mengungkapkan, beberapa orang kepercayaan spekulan tanah mulai menawar lahan mereka.

”Di Kampung Cibeureum sudah banyak yang menjual tanahnya. Kalau di sini, belum ada yang mau jual tanahnya,” kata Solihin, warga setempat.

Atang, warga Kampung Sindangbarang, mengaku, memang ada orang yang memintanya untuk menjadi perantara pembelian tanah penduduk di kampungnya. Di antara lahan yang jadi incaran itu, diakuinya memang terdapat banyak situs Sindangbarang yang lokasinya terpencar.

”Namun, lahan yang ada situsnya itu adalah lahan pribadi milik warga, bukan lahan pemerintah,” ujarnya.

Tokoh adat Sindangbarang Bogor, Achmad Mikami Sumawijaya, mengatakan, di Desa Pasireurih terdapat sekitar 100 lokasi situs.

”Hanya belasan yang sudah dicatat Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang,” katanya.

(RTS)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/23/04385131/situs.sindangbarang.bogor.terancam.hilang

Sudah 10 Investor Tertarik Masuk - Pedagang Lama Pasar Tradisional Diprioritaskan

Jumat, 23 Oktober 2009

Jakarta, Kompas - Sekitar sepuluh pengembang mulai menunjukkan ketertarikan atas gagasan pembangunan ulang sejumlah pasar tradisional. Alasannya karena sebagian pasar terletak di daerah yang strategis sehingga berpotensi mendatangkan keuntungan.

Direktur Utama PD Pasar Jaya Djangga Lubis, Rabu (21/10), mengatakan, para pengembang mulai merespons rencana pembangunan ulang pasar. ”Beberapa pengembang sudah meminta data tentang pasar, seperti luas tanah serta status kepemilikan tanah di pasar itu,” ucap Djangga.

PD Pasar Jaya berencana membangun ulang sejumlah pasar yang bangunannya sudah tua dan rusak, seperti Pasar Bendungan Hilir, Pasar Rumput, sebagian Pasar Senen, dan Pasar Pramuka. Rencananya, bangunan pasar akan ditambah dengan hotel atau perkantoran. Tambahan bangunan ini diharapkan mampu menambah pemasukan sehingga dapat terjadi subsidi silang dalam biaya operasional pasar.

Untuk membangun ulang pasar, PD Pasar Jaya membuka kesempatan bagi siapa pun. Selain itu, pengembang dipersilakan mengajukan proposal rencana pembangunan pasar yang dikehendaki. Hingga kini, belum ada pengembang yang mengajukan proposal.

Djangga mengaku tidak memiliki prioritas atau target pembangunan ulang pertama. ”Bila ada pengembang yang bisa mengajukan tawaran paling baik, kami akan segera mulai pembangunan pasar yang ditunjuk,” ujar Djangga.

Pembangunan ulang pasar akan diarahkan untuk menciptakan pasar tradisional yang nyaman untuk berdagang, sekaligus mengoptimalkan lahan yang selama ini hanya digunakan sebagai pasar. Tamu hotel atau pekerja kantor yang nantinya menempati bangunan tambahan pasar akan menjadi pembeli potensial bagi pedagang di pasar tradisional.

Bangunan yang diperuntukkan bagi pasar tradisional berada di lantai I dan II. Tingkat di atas lantai II difungsikan untuk hotel atau perkantoran.

”Kalau pasar tradisional dibuat tiga lantai, umumnya pembeli sudah malas mendatangi lantai teratas,” tutur Djangga.

Djangga mengatakan, sedikitnya 47 pasar tradisional potensial dibangun ulang, antara lain Pasar Senen yang mempunyai 10.722 kios, Pasar Pramuka (5.938 kios), Pasar Rumput (4.259 kios), dan Pasar Tanah Abang (10.722 kios).

Prioritas

Pedagang di sejumlah pasar tradisional meminta pengelola pasar memprioritaskan mereka di kios pasar yang baru nantinya. Selain itu, mereka berharap harga sewa atau harga jual kios bisa terjangkau.

Erin, pemilik lima kios makanan di Pasar Bendungan Hilir, telah mengetahui rencana pembangunan pasar meski belum ada surat pemberitahuan resmi. Dia berharap pengelola pasar memprioritaskan kios bagi pedagang lama dengan harga terjangkau dan tidak mempersulit pedagang lama untuk mendapatkan kios. ”Harga kios juga jangan terlalu mahal. Harga jual harus terjangkau,” katanya.

Rencana pembangunan ulang pasar ini dianggapnya baik bagi perkembangan usaha karena bisa mendatangkan banyak orang untuk berbelanja.

Syumadi, pedagang di Pasar Bendungan Hilir, mengatakan setuju dengan pembangunan pasar karena bangunan telah berusia lebih dari 30 tahun dan membutuhkan perbaikan.

Syarief, pedagang pakaian di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, mengatakan belum menerima kabar tentang rencana pembangunan itu. Namun, jika rencana itu dilakukan untuk meningkatkan perekonomian pedagang, dirinya siap mendukung. Pembangunan itu diharapkan bisa mengembalikan kejayaan Pasar Rumput.

Pasar Rumput bisa ramai kembali seperti tahun 1980-2000 karena ada pula bioskop dan arena permainan anak. ”Awal tahun 2000, Pasar Rumput sepi karena pusat hiburan keluarga di lantai tiga terbakar,” kata dia.

Mardi, pedagang di Pasar Rumput, berharap pemerintah menjamin pedagang lama mendapatkan tempat yang sama dengan yang mereka tempati sebelumnya. Tanpa prioritas, Mardi khawatir akan timbul konflik.

”Rencana ini pasti mendapat dukungan pedagang karena kemungkinan kami mendapat hasil yang lebih baik. Namun, prosedur pembangunan dan penataannya harus menjadi perhatian utama pemerintah,” kata dia.

Djangga memastikan pedagang lama akan mendapatkan prioritas tempat di pasar baru. Harga bagi pedagang juga dirancang terjangkau.

”Kami juga akan menyiapkan tambahan tempat antara 10-20 persen dari kios yang ada. Tambahan ini merupakan cadangan bila ada pedagang baru yang akan masuk. Namun, prioritas kios tetap untuk pedagang lama,” papar Djangga. (CHE/ART)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/23/04401666/sudah.10..investor.tertarik.masuk

Promosi Wisata - Terkendala Tonjolkan Keunikan Tiap Desa Tujuan

Jumat, 23 Oktober 2009

Bantul, Kompas - Promosi desa-desa wisata yang ada di wilayah Kabupaten Bantul dinilai masih minim karena sejumlah kendala. Karenanya, kunjungan wisatawan tidak optimal dan membuat pondok-pondok wisata yang sudah dibangun jarang ditinggali wisatawan.

Kepala Bidang Pemasaran dan Kemitraan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul Diah Setiawati mengakui, selama ini promosi desa wisata di Bantul sangat lemah. Pengelola desa wisata cenderung diam dan menunggu tamu datang.

"Kami pun punya tanggung jawab untuk memasarkan desa wisata yang ada. Namun, kemampuan pemerintah tidak bisa maksimal karena keterbatasan dana. Karena dana terbatas, sejauh ini kami fokus mengembangkan Desa Wisata Kebon Agung," kata Diah dalam diskusi "Pengembangan Jasa Usaha Pondok Wisata Kawasan Gabusan-Manding-Tembi", Kamis (22/10), di Tembi, Bantul.

Menurut Diah, saat ini ada lima desa wisata di Bantul, yakni Kebon Agung, Krebet, Kasongan, Tembi, dan Lopati. Di setiap desa wisata terdapat pondok-pondok wisata milik warga. Selain itu, setiap desa wisata juga memiliki atraksi unik yang bisa dipasarkan untuk menarik wisatawan. Tak ada data

Meskipun potensinya besar, sampai saat ini belum semua pengelola desa wisata memiliki data akomodasi dan atraksi. Keterbatasan data ini membuat upaya pemasaran menjadi sulit. "Padahal, data diperlukan untuk membuat paket-paket wisata sehingga nanti akan lebih mudah dipromosikan," tutur Diah.

Untuk menggiatkan promosi, ke depan akan dijalin kerja sama dengan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia serta Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia. Kedua asosiasi tersebut diharapkan membantu membina pengelola desa wisata dan membuka jaringan pemasaran.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta Ferry Astono mengatakan, pengembangan desa wisata mestinya disesuaikan dengan segmen pasar yang hendak dibidik. Desa wisata di wilayah Bantul sebaiknya memiliki keunikan yang tidak dimiliki desa lain. Dengan begitu, wisatawan akan mau datang untuk melihat keunikan itu. "Kalau sama saja dengan yang di kota, buat apa pergi jauh-jauh ke Bantul," ujar Ferry.

Menurut dia, segmen pasar yang jelas juga akan mempermudah upaya pemasaran ke wisatawan. Ada desa wisata yang lebih tepat dipasarkan ke sekolah-sekolah dan ada juga desa wisata yang lebih tepat ditawarkan ke rombongan keluarga.

"Asal sudah ada brosurnya, kami siap membantu memasarkan," ujar Ferry. (ARA)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/23/13232219/promosi.wisata.terkendala..