Kawasan Terpadu - Hunian Vertikal yang Aman dan Nyaman

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA / Kompas Images


Gedung perkantoran dan apartemen di Jakarta.

Kamis, 18 September 2008 | 13:48 WIB

APA impian terbesar dari warga kota metropolitan? Memiliki tempat tinggal (papan) yang dekat dengan lokasi kerja (kantor, sekolah, pusat perbelanjaan) di pusat kota.

Kemacetan lalu lintas, meningkatnya polusi, dan genangan banjir merupakan momok laten bagi warga kota. Kehilangan waktu produktif kerja dan kebersamaan keluarga, tenaga terbuang percuma di jalanan macet, dan membengkaknya biaya bahan bakar minyak atau biaya transportasi umum yang semakin mahal membuat kita harus berpikir ulang memilih tempat tinggal.

Kembali ke dalam kota merupakan jawaban yang paling realistis dan logis melihat ketidakmampuan pemerintah membenahi kota dan kota satelit yang semakin semrawut. Pemerintah harus menetapkan batas maksimal kapasitas daya sumber daya dukung kota. Pembangunan hunian vertikal berupa apartemen dan rumah susun sederhana milik (rusunami) mendapat sambutan positif dari pemerintah, pengembang besar, dan masyarakat luas.

Ada tiga kata kunci di sini, yakni pengembangan kawasan terpadu, hunian vertikal, dan isu ramah lingkungan.

Di tengah keterbatasan lahan kota, harga tanah yang mahal, dan degradasi kualitas lingkungan (banjir, rob, krisis air bersih, pencemaran udara), pengembangan kawasan terpadu hunian vertikal ramah lingkungan merupakan terobosan segar dalam pengembangan kota.

Selaras dengan UU Nomor 26/2007 tentang Penataan Ruang, pengembangan kawasan terpadu di pusat-pusat kota akan memangkas besar waktu, biaya, dan tenaga yang terbuang percuma akibat kemacetan lalu lintas.

Konsentrasi penduduk di satu kawasan dengan kepadatan lebih tinggi, pertumbuhan dan perubahan kegiatan beragam dan terpadu, hemat lahan pengadaan sarana dan prasarana, kemudahan aksesibilitas dan transportasi publik sehingga mereduksi utilitas dan infrastruktur.

Penghuni tinggal berjalan kaki atau bersepeda ke berbagai tempat tujuan (kantor, sekolah, pasar, dan taman). Pembangunan kawasan terpadu hunian vertikal ramah lingkungan dapat mulai dilakukan di lokasi-lokasi langganan dan rawan banjir, rob, dan kebakaran di perkampungan padat penduduk yang kumuh sebagai bagian dari program perbaikan kampung atau peremajaan kota. Rencana pemerintah untuk merefungsi RTH (taman kota, jalur hijau bantaran kali, tepi rel kereta api, kolong jembatan layang, dan tepian situ) berdampak pada penggeseran (bukan penggusuran) warga merupakan kesempatan tepat untuk mengajak masyarakat beralih secara sukarela ke hunian vertikal yang layak huni, sehat, aman, dan nyaman.

Pemerintah harus mempersiapkan rekayasa sosial budaya karena pembangunan hunian vertikal membawa konsekuensi perubahan tata ruang kota, lingkungan hidup, dan gegar sosial budaya masyarakat dari hunian horizontal ke vertikal. Pola pikir perilaku kehidupan di hunian horizontal harus ditinggalkan, etika dan norma baru dalam kehidupan bertetangga dalam hunian vertikal, penggunaan sarana publik bersama-sama dan bertanggung jawab, seperti memakai lift dan mesin cuci bersama. Pakar psikologi sosial, perencana kota, dan perancang bangunan sepakat perubahan pola hidup masyarakat harus ditangani secara serius agar masalah sosial dan kegagalan bangunan dapat diantisipasi.

Pengembang diharapkan tidak terlalu berorientasi komersial (mencari keuntungan sebesar-besarnya) dalam membangun rusunami. Untuk itu, pengembang dapat melakukan subsidi silang dalam pengembangan kawasan terpadu dengan menerapkan komposisi 1:3:6 (modifikasi kebijakan pembangunan 1 rumah besar, 3 rumah sedang, 6 rumah sangat sederhana).

Pengembang dapat membangun satu hotel dan 3 apartemen (komersial), serta 6 rusunami (sosial) yang dilengkapi fasilitas pendidikan (taman kanak-kanak-perguruan tinggi), perkantoran, kesehatan (puskesmas, rumah sakit), perbelanjaan (pasar, hipermarket), ibadah (masjid, gereja), dan ruang hijau (taman, lapangan olahraga). Keadilan sosial dapat terwujud kala penghuni rusunami (masyarakat menengah bawah) dilibatkan sebagai sumber daya tenaga kerja di semua fasilitas yang tersedia disertai peningkatan pendidikan keterampilan penghuni.

Ramah lingkungan

Sesuai UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, pengembang dan penghuni harus terlibat mengolah sampah anorganik dan organik (reuse, reduce, recycle). Sampah anorganik dari pusat perbelanjaan, hotel, apartemen, dan rusunami menjadi komoditas industri kerajinan tangan, dikelola komunitas rusunami dan dijual kembali di pusat perbelanjaan, cenderamata hotel dan apartemen.

Untuk mengurangi krisis pangan, ruang hijau, selain sebagai taman kota dan lapangan olahraga, dapat menjadi kebun sayuran, apotek hidup, dan buah-buahan yang menggunakan pupuk kompos hasil daur ulang sampah organik yang diproduksi penghuni kawasan terpadu. Sayuran dan buah-buahan untuk menyuplai kebutuhan pasar/hipermarket dan penghuni secara mandiri sehingga biaya transportasi distribusi dari luar kota dipangkas, hemat BBM, dan menurunkan pencemaran udara.

UU No 7/2004 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air mendorong warga hemat air (reduce), penggunaan kembali air untuk berbagai keperluan sekaligus (reuse), mendaur ulang buangan air bersih (recycle), dan mengisi kembali air tanah (recharge) dengan sumur resapan air dan lubang biopori. Pengolahan limbah air rumah tangga (grey water) dan air hujan didaur ulang dan digunakan kembali untuk membilas kloset, menyiram taman, kebun, dan pepohonan.

Konsep ramah lingkungan telah merambah dunia sanitasi. Septic tank ramah lingkungan (biological filter septic tank) memiliki sistem penguraian secara bertahap, dilengkapi sistem disinfektan, hemat lahan, antibocor atau tidak rembes, tahan korosi, pemasangan mudah dan cepat, serta tidak membutuhkan perawatan khusus.

Kotoran diurai secara biologis dan filterisasi bertahap melalui tiga kompartemen. Media kontak dirancang khusus dan sistem disinfektan sarana pencuci hama penggunaannya sesuai kebutuhan. Buangan limbah kotoran tidak menyebabkan pencemaran pada air tanah dan lingkungan. Gas metan dipakai sebagai biogas, limbah padat menjadi pupuk organik.

Nirwono Joga Pengamat Properti Ramah Lingkungan
http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/18/13480843/hunian.vertikal.yang.aman.dan.nyaman

Tak Ada Biaya Perawatan, Naskah Dijual

MANUSKRIP KUNO
Tak Ada Biaya Perawatan, Naskah Dijual

Jumat, 18 September 2009 | 04:48 WIB

Jakarta, Kompas - Karena tak ada biaya untuk perawatan, sejumlah pemilik naskah kuno cenderung menjualnya ke pedagang perantara yang masuk ke kampung. Mestinya pemerintah menyediakan dana yang memadai untuk perawatan dan penelitian naskah kuno.

”Jika anggaran pemerintah terbatas, mestinya pemerintah bisa mendorong yayasan atau perseorangan terlibat dalam penyelamatan naskah kuno,” kata filolog Suryadi, peneliti dan dosen di Leiden University, Belanda, Kamis (17/9).

Dia mencontohkan, di Inggris ada Yayasan Arcadia, yang menghimpun dana dari orang-orang kaya. Dana tersebut kemudian digunakan untuk penelitian, pelestarian, dan pemeliharaan kebudayaan tradisional, termasuk naskah kuno (manuskrip).

Secara terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Abdul Kadir Ibrahim mengungkapkan, pihak Malaysia dan Singapura sampai sekarang terus mengincar dan menawar naskah-naskah kuno yang disimpan warga di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

”Pihak pembeli berani menawarkan harga Rp 5 juta sampai Rp 20 juta per naskah kuno. Bahkan, ada naskah yang kalau mau dijual, pembeli berani dengan harga berapa pun besarnya,” katanya.

Ia menjelaskan, naskah-naskah kuno di Kota Tanjung Pinang banyak diincar, banyak terdapat naskah kuno peninggalan Kerajaan Melayu (Riau Lingga) pada tahun 1722 sampai 1911.

Sekitar 200 tahun lalu Pulau Penyegat menjadi Pusat Kerajaan Melayu, pusat perdagangan dan pusat kebudayaan Melayu. Naskah-naskah kuno berupa catatan sejarah dan budaya banyak tersimpan di kawasan tersebut.

Naskah-naskah yang banyak diincar antara lain karya-karya Raja Ali Haji, Aisyah Sulaiman Riau, Haji Ibrahim, dan Rusydiah Club. Bahkan, untuk karya berjudul Syair Kadamuddin karya Aisyah Sulaiman Riau, berapa pun harganya, pihak pembeli berani bayar.

Pemerintah Kota Tanjung Pinang, kata Abdul Kadir Ibrahim, memberikan perhatian tinggi kepada masyarakat yang masih menyimpan naskah-naskah kuno. Bahkan, ada seorang warga mempunyai koleksi sampai 50 naskah kuno. Salah satunya Kitab Pengetahuan Bahasa, karangan Raja Ali Haji, yang ditulis abad ke-19.

”Sebagian karya yang merupakan warisan budaya Melayu yang tak ternilai harganya itu disimpan di Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, yang diresmikan Januari 2009 lalu,” kata Abdul Kadir Ibrahim.

Karena keterbatasan dana perawatan dan dana pengganti bagi masyarakat yang mau menyerahkannya ke museum, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang itu berharap perhatian dari pemerintah pusat. Hal itu karena, dengan keterbatasan dana, selain naskah kuno yang ada terancam hancur atau rusak, juga dikhawatirkan bisa berpindah tangan.

Kenyataan yang sama sebelumnya juga diungkapkan Mukhlis PaEni, ahli dan peneliti naskah kuno, dalam seminar ”Strategi Kebudayaan dan Pengelolaannya”, di Jakarta. ”Manuskrip Nusantara mengalir setiap hari ke tangan pembeli naskah/manuskrip yang berani membayar paling rendah Rp 5 juta untuk jenis naskah yang apa adanya dan compang-camping hingga Rp 50 juta untuk naskah-naskah utuh bahkan lebih,” katanya.

Naskah-naskah Nusantara dari berbagai daerah kebanyakan dibawa ke Malaysia dan Singapura. (NAL)

Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/18/04483343/tak.ada.biaya.perawatan.naskah.dijual

Memilah Sampah sejak dari Rumah

Forum
Memilah Sampah sejak dari Rumah

Jumat, 18 September 2009

Oleh TUTIK RACHMAWATI

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 yang mengatur tentang pengelolaan sampah mewajibkan masyarakat dan pihak swasta memilah sampah, sedangkan pemerintah wajib mengelola sampah. Sebagai tindak lanjut dari undang-undang tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memulai upaya mewajibkan masyarakat untuk memilah sampah domestik lengkap dengan sanksi dan kompensasinya.

Walaupun baru pada tahap penyusunan peraturan daerah (perda) yang rencananya akan diberlakukan tahun 2010, hal tersebut merupakan terobosan. Walaupun peraturan ini akan dilaksanakan di Jakarta, akan ada implikasi bagi Kota Bandung.

Pengalaman tinggal di negeri Belanda dan Jepang memberikan gambaran betapa masyarakat di kedua negara tersebut sangat peduli terhadap kebersihan lingkungan mereka. Kepedulian mereka wujudkan dengan dua cara yang sangat sederhana, yaitu membuang sampah pada tempat sampah sesuai dengan jenis sampah dan memilah sampah berdasarkan jenis sampah sejak di tingkat rumah tangga.

Hal tersebut dilakukan tidak hanya oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Membuang sampah pada tempatnya sesuai dengan jenis sampah dan memilah sampah telah menjadi kebiasaan hidup dan budaya mereka. Namun, penulis memiliki keyakinan bahwa budaya bisa dibentuk atau diciptakan.

Salah satu cara untuk membentuk dan menciptakan budaya adalah dengan mengatur tindakan atau kegiatan agar dilakukan masyarakat melalui peraturan yang di dalamnya memuat detail sanksi dan kompensasi yang akan diberikan untuk setiap tindakan melanggar dan patuh.

Perlu dibentuk

Untuk masyarakat Indonesia, budaya memilah sampah perlu dibentuk. Beberapa hasil penelitian mengenai pengelolaan sampah di Bandung membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak berjalan dengan sukses karena masyarakat tidak memiliki budaya memilah sampah sejak dari rumah.

Atau, apabila ada keluarga yang telah memiliki kesadaran untuk memilah sampah rumah tangga mereka, hal itu tidak dibarengi dengan kesadaran keluarga lain di kota ini. Yang lebih parah, apabila terjadi pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, sampah tersebut kembali dijadikan satu oleh petugas pengambil sampah lingkungan rumah tangga.

Dengan demikian, memilah sampah bukan kegiatan yang didukung sistem pengelolaan sampah yang konsisten. Adanya perda tentang pemilahan sampah akan menjamin konsistensi pengelolaan sampah yang dimulai dari pemilahan sampah. Dengan begitu, penulis sangat mendukung pembuatan perda tersebut dan berpendapat bahwa pembuatan perda tersebut memiliki relevansi untuk Kota Bandung.

Lalu, apa relevansi rencana penyusunan perda itu dengan kondisi Bandung? Pertama, fenomena Bandung sebagai "halaman belakang" Jakarta, tempat orang-orang Jakarta menghabiskan akhir pekan dengan berbagai aktivitas, tentu saja akan membuat Bandung juga menampung sampah hasil aktivitas tersebut.

Akan sangat tidak adil bila orang-orang Jakarta tidak diperbolehkan membuang sampah dan diharuskan memilah sampah di Jakarta. Namun, begitu sampai di Bandung, mereka bebas merdeka membuang sampah sembarang dan tidak memilah sampah. Lalu, apa solusinya? Buat perda yang sama-sama mengatur tentang membuang sampah dan memilah sampah bagi siapa saja yang berada di Kota Bandung.

Peraturan daerah

Kedua, penyusunan perda serupa akan menjadi salah satu alternatif bagi Kota Bandung yang beberapa waktu lalu menghadapi permasalahan pengelolaan sampah. Penyusunan perda serupa tentu saja membutuhkan komitmen dari pemerintah. Sebab, dengan penyusunan perda tersebut, konsekuensinya tidak hanya berupa penerapan sanksi dan kompensasi. Akan tetapi, hal itu juga melibatkan penyediaan sarana fisik (tempat sampah untuk pemilahan sampah), waktu dan dana untuk sosialisasi perda, serta penyadaran masyarakat dan pelatihan untuk aparat pelaksana.

Ambil contoh Belanda. Di sana terdapat jadwal yang teratur serta diketahui setiap masyarakat dan rumah tangga di Belanda untuk membuang sampah yang bisa didaur ulang (kertas, plastik, dan bahkan peralatan rumah tangga, seperti barang elektronik). Jadwalnya adalah setiap hari Senin. Jadi, Minggu malam biasanya tiap rumah tangga sudah menyiapkan sampah jenis tersebut di depan rumah masing-masing.

Di Jepang, misalnya, setiap kantor, sekolah, dan gedung selalu menyiapkan tempat sampah untuk sampah yang dapat dibakar (burnable) dan tidak dapat dibakar (non-burnable). Setiap anggota masyarakat di Jepang secara swadaya membuang sampah rumah tangga, terutama sampah yang dapat didaur ulang, ke tempat pengolahan sampah terdekat. Di kedua negara itu ketidakpatuhan dalam hal membuang sampah berdasarkan jenisnya dan memilah sampah tentu saja diikuti dengan sanksi.

Ketiga, diperlukan kesadaran dari diri kita untuk berpartisipasi aktif dalam pemilahan sampah apabila perda tersebut benar-benar diimplementasikan sebagai produk hukum. Setiap rumah tangga perlu memilah sampah dengan diikuti sistem pemilahan dan pengolahan sampah yang konsisten.

Keempat, sebagai pelengkap pelaksanaan perda tentang pemilahan sampah, pemerintah perlu membantu masyarakat dengan menyediakan alat bor biopori secara gratis sehingga setiap rumah tangga dapat memanfaatkan lubang biopori tersebut sebagai tempat penampungan sampah organik.

Diharapkan dengan kegiatan seperti itu beban pemerintah untuk mengelola sampah akan berkurang karena masyarakat secara swadaya ikut serta dalam pengelolaan sampah organik.

TUTIK RACHMAWATI Dosen Jurusan Ilmu Administrasi Publik Universitas Katolik Parahyangan

Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/18/16592512/memilah.sampah.sejak.dari.rumah

Mampirlah ke Jalur Cijapati di Lintas Selatan

Arus Mudik
Mampirlah ke Jalur Cijapati di Lintas Selatan

Jumat, 18 September 2009


Hari Kamis (17/9), langit mendung bertengger di jalur Cijapati, perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut. Kondisi jalan yang lengang rupanya merangsang para pengguna jalan yang didominasi sepeda motor untuk memacu kendaraan. Namun, mata akan sulit berkonsentrasi di jalan karena di tepi kiri dan kanan jalan penuh dengan pemandangan elok perbukitan serta hutan bambu.

Jalur sepanjang 18 kilometer yang menghubungkan Kabupaten Bandung dengan Garut ini sudah dikenal pula sebagai jalur alternatif yang kerap digunakan para pemudik untuk mencapai Garut. Bila jalur utama, yaitu jalur Nagreg, tengah disesaki pengguna jalan, pastilah jalur Cijapati menjadi penyelamat.

Untuk mencapai jalur ini bisa dari arah Rancaekek ataupun Cicalengka. Dari Rancaekek, selepas Pasar Dangdeur, pemudik bisa berbelok mengambil arah ke kiri melewati jalan lingkar Majalaya untuk menghindari kemacetan pusat kota Majalaya, kemudian menuju persimpangan Cijapati di Kecamatan Cikancung. Adapun dari pusat kota Cicalengka, pemudik akan melewati jalan kabupaten yang masih setengah badan jalan dibeton hingga mencapai persimpangan Cijapati.

Begitu memasuki jalur Cijapati, pemandangan berbukit segera menyapa. Jalur didominasi lintasan berkelok di samping tebing. Sementara di bawahnya terdapat rimbunnya pohon bambu yang meneduhkan mata.

Aspal jalan relatif dalam keadaan mulus. Meskipun demikian, kendaraan yang melintasi jalur ini sebaiknya berupa kendaraan kecil dengan kondisi mesin prima karena tanjakannya. Selain itu, badan jalan juga hanya cukup untuk dua mobil kecil berpapasan.

Sekeluar dari jalur Cijapati, sampailah di daerah Kadungora, Garut. Artinya, dengan melintasi jalur ini, para pemudik bisa menghindari dua titik kemacetan di jalur Nagreg, seperti perlintasan kereta api Pamuncatan dan Jalancagak. Meskipun mengambil jalan yang lebih jauh, banyak waktu bisa dihemat bila melintasi jalur ini. Hanya cadangan

Kurnia, petugas pencatat di pos pengawasan dan pengendalian Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung, menuturkan, selama ini jalur Cijapati hanya digunakan sebagai cadangan serta digunakan oleh pemudik yang biasa bepergian bolak-balik Kabupaten Bandung-Garut.

Menurut Kepala Kepolisian Resor Bandung Ajun Komisaris Besar Imran Yunus, pengalihan ke jalur Cijapati dilakukan bila ekor antrean kendaraan di jalur Nagreg mencapai daerah Parakanmuncang. "Alternatif lain, kendaraan akan dialihkan ke jalur Wado-Tasikmalaya bila jalur Cijapati juga penuh," ungkap Imran.

Jalur Nagreg sendiri sudah berbenah tahun ini, salah satunya dengan pelebaran jalan pada titik perlintasan kereta api dari 7 meter menjadi 14 meter. Dengan demikian, beban lalu lintas bisa dikurangi sehingga kemacetan bisa diurai.

Ditambah dengan pelebaran jalan di sepanjang jalur tanjakan, meski hanya 1 meter, upaya tersebut diperkirakan berdampak positif dalam mengurai kemacetan.

Pada Lebaran 2009 pemudik akan lebih nyaman saat melintasi jalur Nagreg. Akan tetapi, bagi pemudik yang ingin bersantai dan menikmati keindahan alam khas Jawa Barat, tidak ada salahnya mampir ke jalur Cijapati. (Didit Putra Erlangga Rahardjo)

Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/18/10585156/mampirlah.ke.jalur.cijapati.di.lintas.selatan

Jelang Libur Lebaran di Water Blaster

Graha Candi Golf
Jelang Libur Lebaran di Water Blaster

Jumat, 18 September 2009

Kawasan permukiman asri nan ekslusif di sisi Semarang atas, Graha Candi Golf, adalah gambaran hunian masa depan yang merangkum kenyamanan jiwa bagi setiap penghuninya. Bersandar di serambinya, raga dan pikiran ditenangkan dengan hijau panorama dan teduh suasana perbukitan yang sulit digantikan keindahannya. Memilih tinggal di sini berarti memberikan kesempatan bagi diri untuk leluasa berileksasi dari rumah sendiri.

Bahkan selain rentetan fasilitas nomor satu yang melengkapi kesempurnaan perumahan ini, seperti lapangan golf 9 holes, driving range, club house, kafe Albatros, dan kolam renang kini Graha Candi Golf makin dikenal berkat kehadiran sebuah komplek wisata air yang diberi nama Water Blaster, dengan telepon 024-8500030. Dibuka sejak pertengahan tahun silam, Water Blaster mampu menjadi magnet bagi warga Semarang dan sekitarnya untuk sejenak meluangkan waktu berpelesir dan bersantai bersama putra putri tercinta. Salah satu alternatif wisata baru di kota atlas ini tak pernah sepi dipadati pengunjung, khususnya saat akhir pekan. Bagi penghuninya sendiri, Water Blaster menjadi potensi yang merupakan nilai tambah investasi properti di Graha Candi Golf.

Dibalut konsep warna warni ceria sebagai bentuk interpretasi keriaan nuansa wisata air dan indahnya dunia anak, Water Blaster adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi saat liburan, termasuk libur Lebaran kali ini. Berkunjung ke Water Blaster berarti menikmati berbagai wahana air yang unik dan menantang untuk dijajal, seperti lazy river (sungai buatan) dengan arus yang dapat diarungi dengan ban karet, ember tumpah, seluncur air "speed torpedos", seluncur berkelok "dino blast", dan lainnya.

"Untuk menambah suasana liburan yang lebih seru, acara bermain air juga tambah mengasikkan dengan adanya permainan baru ninja warrior," kata Mei A Banawi STp, Manager Water Blaster di Semarang. Selain ragam kolam renang dan permainan air yang menarik, saat ini sejumlah permainan adu nyali seperti flying fox yang melintasi kolam renang aneka ukuran turut meramaikan area wisata air seluas lebih kurang 4 hektar tersebut.

Buat para orang tua yang setia menanti buah hati tercinta bermain air, tempat rehat yang nyaman berupa kafe dengan aneka menu makanan dan minuman menyegarkan siap menemani. Didesain cantik, kafe dengan fasilitas hotspot ini menjadi pelabuhan yang tepat untuk rileks.

Selama libur Lebaran, hingga tanggal 27 September 2009, Water Blaster siap menyambut kunjungan Anda mulai pukul 08.00 sampai dengan 18.00, kecuali pada hari H Idul Fitri yang mulai buka pukul 11.00. Dengan tiket masuk Rp 60 ribu, ajak seluruh anggota keluarga menikmati liburan dan habiskan hari dengan bermain dan bergembira di Water Blaster. Dimanjakan kenyamanan The Panorama

Menjadi impian banyak kalangan untuk menjadi salah satu bagian dari hunian dengan view menakjubkan ini, Graha Candi Golf yang telah sukses mengembangkan cluster yang lain, maka kini melanjutkan pembangunan di The Panorama cluster.

Seperti diungkapkan oleh Juraemi, Bagian Promosi Graha Candi Golf, bahwa The Panorama masih menghadirkan konsep modern minimalis bagi keluarga muda yang dinamis dan diciptakan di atas lahan yang berkontur perbukitan. Sebagai benefitnya, para penghuni akan puas memandang hamparan hijau bukit dengan gunung Ungaran sebagai background dinaungi udara sejuk yang menyegarkan. Sebuah hal berharga yang makin sulit ditemui di era modern saat ini.

Sesuai namanya, setiap penjuru rumah tinggal diupayakan menemukan sisi keindahan Kota Semarang. Bersinergi dengan alam, menjadi penghuni The Panorama dapat membuka kesempatan yang lebih luas untuk mengagumi ciptaan Tuhan lewat panorama laut, Kota Semarang bawah, sekaligus perbukitan. Memanjakan panca indera adalah salah satu bentuk rasa syukur kita kepada Sang Pencipta. Jadilah bagian dari The Panorama untuk mewujudkannya. Bagi Anda yang berminat tahu lebih dalam soal Graha Panorama dan cluster-cluster lain di Graha Candi Golf, dapat menghubungi bagian pemasaran di nomor telepon (024) 8501000. CRL

Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/18/10583316/jelang.libur.lebaran.di.water.blaster.

Nasi Goreng Bakar Mr Puencheng Semarang

Sajian Tlogosari
Nasi Goreng Bakar Mr Puencheng Semarang

Jumat, 18 September 2009

Menyantap nasi goreng, yang terbayang adalah minyak mengkilat yang melumuri nasi. Namun, berbeda dengan nasi goreng bakar yang dibakar dengan oksigen bertekanan tinggi. Hidangan tersebut sirna karena tidak ada minyak mengkilat di nasi goreng yang tersaji. Kekhawatiran akan lemak tinggi pun lenyap.

Penampilan Nasi Goreng Bakar Bertekanan Mr Puencheng yang berlokasi di Jalan Parangkusumo Raya Nomor 40, Tlogosari, Kota Semarang, itu sekilas sama seperti nasi goreng pada umumnya.

Bedanya, tidak ada minyak yang melekat di butiran nasi. Jadi, ketika menelan, sensasi yang muncul adalah rasa kering pada nasi.

Proses pembuatannya, pertama nasi digoreng dengan minyak rendah kolesterol. Itu pun dalam takaran sangat sedikit. Nasi kemudian dicampur dengan bumbu-bumbu, irisan daun bawang, dan kecap manis.

Setelah itu, nasi goreng dibakar dengan alat bernama blender api. Dengan bahan bakar, api dan oksigen bertekanan tinggi, permukaan nasi goreng dibakar selama 30 detik untuk empat porsi nasi goreng.

Waktu pembakaran, menurut pemilik gerai Nasi Goreng Bakar Mr Puencheng, M Gunawan Wibisono, tidak boleh terlalu singkat dan terlalu lama. Jika terlalu lama, nasi goreng akan gosong dan terasa pahit.

Rasa nasi goreng bakar ini pun lebih gurih. Bumbunya terdiri dari bawang merah, bawang putih, merica, dan sari tape.

"Khas masakan China," ungkap M Gunawan Wibisono.

Nasi goreng terasa lengkap dengan sajian acar ketimun dan acar irisan cabai rawit merah. Keduanya memberi sensasi segar. Bagi yang menyukai rasa pedas, acar irisan cabai rawit merah sangat membangkitkan selera makan.

Pengunjung dapat memilih aneka varian nasi goreng. Di tempat itu tersedia juga nasi goreng ayam, nasi goreng telur, dan nasi goreng kambing. Ada pula mi goreng dan kwetiau goreng yang diproses dengan cara serupa dengan nasi goreng bakar. Harga per porsi Rp 7.000-Rp 10.000.

"Awalnya, saya adalah penyuka nasi goreng, tetapi memiliki masalah dengan kolesterol tinggi. Lalu saya berpikir, bagaimana membuat nasi goreng yang non kolesterol. Akhirnya, saya menemukan cara itu," ujar Gunawan.

Gunawan sempat mencoba membakar nasi goreng dengan arang, tetapi hasilnya gosong. Dia lalu mencoba berbagai upaya hingga menemukan cara pembakaran dengan oksigen bertekanan tinggi pada tahun 2007. Untuk menikmati nasi goreng, kedai ini menyediakan aneka jus buah nan segar.

Kini, gerai Mr Puencheng ada di berbagai kota. Namun, karena usahanya belum berusia lima tahun, Gunawan baru membuka bussiness opportunity (semacam waralaba) kepada setiap orang yang berminat membuka gerai serupa di kotanya. Jika usahanya sudah berusia lebih dari lima tahun, baru boleh memberikan lisensi waralaba. (Amanda Putri Nugrahanti)

Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/18/15185491/nasi.goreng.bakar.mr.puencheng.semarang.

9 Kota Terpilih Ekspose pada Hari Habitat

Kamis, 17 September 2009

Jakarta, Kompas - Sembilan kota terpilih untuk ekspose pada Hari Habitat Dunia 2009 yang bertempat di Palembang, 3-5 Oktober 2009, terkait komitmen untuk membebaskan wilayah masing-masing dari kawasan kumuh tahun 2020. Komitmen yang diwujudkan antara lain merelokasi warga dan meningkatkan kualitas lingkungan tempat tinggal di kawasan kumuh.

”Kreativitas dalam menanggulangi kawasan kumuh antara satu kota dan kota lainnya itu berbeda. Ini yang menarik untuk dikomunikasikan pada Hari Habitat nanti,” kata Direktur Jenderal Cipta Karya pada Departemen Pekerjaan Umum Budi Yuwono, Rabu (16/9) di Jakarta.

Menurut Budi, forum kota merupakan bagian penting untuk menumbuhkan kreativitas penanggulangan kawasan kumuh. Daya kreativitas yang lebih manusiawi itu untuk membenahi model penggusuran tanpa solusi yang selama ini kerap terjadi di kota-kota besar, juga di Jakarta.

Sekretaris Direktorat Jenderal Cipta Karya Antonius Budiono memaparkan, sembilan kota yang terpilih itu adalah Palembang, Bontang, Balikpapan, Tarakan, Surabaya, Blitar, Surakarta, Yogyakarta, dan Pekalongan. Beberapa hal yang akan diekspose antara lain metode penanggulangan kawasan kumuh yang berbeda satu sama lain.

Peringatan Hari Habitat Dunia di Indonesia dimulai tahun 1986. Tahun 2008 peringatan Hari Habitat Dunia diadakan di Denpasar dan tahun 2007 di Surakarta.

Penetapan PBB

Hari Habitat Dunia ditetapkan melalui Sidang Umum PBB tahun 1985. Hari yang ditetapkan sebagai Hari Habitat Dunia adalah setiap hari Senin pada minggu pertama bulan Oktober. Peringatan Hari Habitat untuk mengingatkan dunia akan tanggung jawab memenuhi hak atas hunian yang layak.

Selama ini tema peringatan Hari Habitat Dunia ditetapkan PBB, umumnya terkait perkotaan, karena perkotaan menjadi target habitat utama penduduk di dunia. Tahun 2009, peringatan itu bertema ”Merencanakan Masa Depan Perkotaan Kita”.

Menurut Budi, institusinya sejak tahun 2003 hingga sekarang mewujudkan komitmen menanggulangi masalah perkotaan dengan mendirikan perumahan susun sederhana sewa hingga 19.244 unit. Perumahan sewa ini ditujukan bagi warga permukiman kumuh yang memiliki penghasilan di bawah Rp 2,5 juta per bulan. Akhir-akhir ini pembangunannya tersendat. (NAW)

Dari artikel: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/04475315/9.kota.terpilih.ekspose.pada.hari.habitat